
Bohong rasanya kalau Bram mengatakan dia nggak terusik sama omongan yang Annisa katakan tadi siang. Karena nyatanya sejak saat itu, Bram memilih menetap di ruang kerjanya untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini.
Setelah buntu, Bram berteriak kesal dan mendorong laptopnya begitu saja.
"Kalau saya cari tau ini, sama aja saya meragukan Sakilla dong?" ucapnya pelan. "Tapi— kenapa mereka bisa semirip itu dan ... saya juga nggak melihat jasad Sakilla. Saya cuma melihat perempuan itu sudah dibungkus rapat tanpa izin sama saya."
Ting! Tiba-tiba saja Bram teringat kalau dirinya memang nggak pernah melihat jasad Sakilla sama sekali. Dia hanya mendengar kalau dokter mengatakan tubuh Sakilla nggak kuat menahan rasa sakitnya dan dinyatakan meninggal. Lalu tanpa pernah melihat lagi, Bram hanya di datangi tubuh Sakilla yang sudah terbungkus rapat.
Pihak rumah sakit sama sekali tidak mengizinkan untuk membuka kain kafan yang membungkus Sakilla.
"Bener juga ... padahal Sakilla bukan meninggal karena kecelakaan sampai saya nggak boleh buka kain kafan sama sekali. Tubuhnya utuh, tanpa luka sama sekali. Jadi harus nya pihak keluarga di izinin buat melihat rupanya dong? tapi ini kenapa saya sama yang lain bahkan nggak bisa melihat rupa Sakilla sama sekali."
"Tapi ... kalau Sakilla memang melakukan apa yang Annisa katakan. Dia jahat banget," papar Bram dengan sendu. "Dan dari pihak rumah sakitnya juga sama sekali nggak ada suatu klarifikasi gitu? kenapa mau ngelakuin hal itu?"
"AH IYA RUMAH SAKITNYA." Bram mensearching rumah sakit tempat dia membawa Sakilla dan Boom! "Hah? rumah sakitnya udah nggak ada?"
"Wah ini mah bener ada yang nggak beres."
Bram menghubungi asistennya dan tak lama langsung di angkat sama asistennya itu.
"Kamal ... maaf mengganggu waktu kamu di hari libur. Tapi saya minta tolong untuk mencari tahu tentang rumah sakit ibu kasih yang ada di kota ini."
/Rumah sakit ibu kasih? tapi setahu saya, rumah sakit itu sudah bangkrut tepat dua tahun yang lalu. Nggak lama setelah tuan muda Rama dilahirkan di dunia ini. Emangnya ada apa tuan? saya harus mencari tau dari sisi mana?/
Bram terdiam. Rasanya sungkan untuk memberi tau apa yang sebenarnya terjadi. Ini memang belum pasti terjadi. Tapi kalau semua yang Annisa katakan itu benar, sama aja keluarganya penuh akan aib.
__ADS_1
"Saya ingin mencari tau tentang kebangkrutan rumah sakit itu. Selain itu saya mau kamu mencari tau tentang keluarga almarhum istri saya. Karena sudah lama saya memblokir mereka."
/Baik tuan ... secepatnya akan saya lakukan./
"Ya ... Terima kasih."
Bram menaruh ponselnya di atas meja. Ia mulai memikirkan masalah ini lagi. Kemungkinan terburuk mungkin memang akan membuat Bram kecewa. Tapi untuk saat ini dirinya gak boleh terlalu percaya sama semua omongan Annisa. Bisa saja mereka hanya mirip.
Bram mengambil foto Sakilla, "semua yang di omongin sama Annisa itu nggak bener kan, sayang? kamu nggak mungkin ngelakuin hal jahat itu kan? kamu nggak mungkin ninggalin mas sama anak kita untuk perempuan lain kan?"
Bram mengangguk yakin.
"Bener kok, dulu kamu cinta banget sama mas. Bahkan kamu selalu ungkapin rasa sayang kamu ke aku. Kita juga dulu bahagia banget. Jadi, mana mungkin kamu tega lakuin hal jahat ke aku? Ya ... hal itu nggak mungkin terjadi. Pasti mereka yang keliru."
Bram nggak mau curiga untuk saat ini. Walau hatinya resah, dia harus menggunakan otak untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
***
"Tuan ... tadi aku suruh orang yang masak untuk istirahat. Jadi aku yang masak makan malam untuk tuan sama Rama. Maaf kalau masakan aku kurang enak di lidah kalian. Kalau memang kalian kurang suka. Nanti aku nggak akan sentuh dapur lagi."
"Ih ... nggak apa-apa tante," seru Rama yang sudah berbaikan sama Annisa. "Aku malahan udah dari lama mau makan masakan kayak gini," ungkapnya. "Aku cuman bisa makan masakan luar negeri yang ayah suka! huh!"
Bram menatap protes ke Rama. "Loh ... gimana? bukannya kamu sendiri yang bilang suka? tapi ... kenapa sekarang malah ngomong nggak suka? duh anak ayah udah bisa bohong gini ya."
Rama berdecak sambil menggeleng.
__ADS_1
"Aku nggak ngomong kalau aku nggak suka. Aku cuman ngomong kalau aku bosen, ayah!" jawabnya sambil cemberut. "Ayah cuman makan steak, pasta. Telus aja gitu. Aku bosen. Tapi kan kalau itu yang ayah mau, aku bisa apa?"
"Hahaha ... iya, ya sudah sekarang kamu makan. Jangan ada yang bicara, ayah nggak suka."
"Hmm ..."
Annisa sesekali menyuapi Rama, begitu merasakan makanan yang di masak tantenya. Mata Rama langsung terbelalak dan mengacungkan jempol.
"Sudah makan aja ..."
Waktu terus berlalu, tapi Annisa sama sekali belum menyentuh makanannya membuat Bram yang melihat hanya menatap aneh. "Kamu tidak makan?" tanya Bram setelah mengunyah habis semua makanan di piring. "Dari tadi kamu cuman nyuapin anak saya. Dia bisa makan sendiri kok. Kamu tidak perlu manjain kayak gitu. Sudah, kamu makan aja. Tidak usah perdulikan Rama lagi. Biar dia makan sendiri."
Annisa melirik Rama dan menyadari raut perubahan di wajah anak itu. Annisa menghela napas sambil gelengin kepalanya.
"Tuan ... ini namanya bukan manjain, tapi memberikan kasih sayang," ucap Annisa membuat Bram terdiam. "Tuan sendiri yang bilang kalau Rama udah nggak merasakan sosok ibu dari bayi dan tuan juga nggak pernah luangin banyak waktu untuk Rama. Jadi, apa salahnya kalau aku yang kasih itu semua? ini cuma suapin doang kok. Bukan bantu yang buat Rama jadi manja. Jadi, tuan nggak perlu jelasin aku ini itu. Karena aku tau sama apa yang dilakuin aku."
"Ck ... terserah kamu sajalah. Tapi, kalau saya sampai liat Rama jadi manja. Saya akan memarahi kamu karena tindakan kamu yang seperti ini buat anak saya berubah."
Annisa mengangguk.
"Aku janji ... aku akan lakukan yang terbaik dan nggak akan mengganggu personality Rama."
Annisa menatap Rama yang tersenyum lebar sambil terus menatapnya. Seolah berterima kasih karena sudah bela dia. Tapi itu semua ditangkap sama Bram. Laki-laki itu sedikit marah, merasa anaknya direbut. Tapi dia nggak bisa apa-apa selain meninggalkan meja makan dengan marah.
"Makasih ya tante udah bela aku," ucap Rama dengan pelan. "Makasih juga karena udah paham, kalau aku nggak pernah ngerasain ini semua. Aku janji bakalan sayang banget sama tante dan nggak biarin tante untuk di marahin sama ayah. Aku sayang sama tante."
__ADS_1
Annisa membalas pelukan Rama.
"Tante juga sayang sama kamu ..."