
Bram naik ke lantai dua. Ia mendatangi kamar Sakilla yang pintunya terbuka. Begitu masuk ia melihat Rama yang sudah berdiri cukup jauh dari kasur.
Begitu melihat Bram masuk. Annisa pura-pura bangun dengan lemas. Ia memegang kepalanya, meringis. Sedikit berharap kalau Bram akan membantunya. Tapi Bram malah menarik pelan Rama. Semakin jauh dari kasur.
"Mas ... kamu datang?" tanya Annisa berusaha bangun dan duduk menyandar. "Aku seneng kamu akhirnya datang, mas. Siapa yang kasih tahu kamu?"
"..."
"Aku nggak tahu kalau kamu masih peduli sama aku. Makasih banyak ya mas. Ya ampun, aku bahagia banget. Orang yang selama ini ada di pikiran aku akhirnya datang. Aku kira cuma Rama doang yang datang."
"Gak usah berharap lebih ... niat saya datang kesini udah terealisasikan dan sekarang saya mau kasih tau kalau kamu jangan pura-pura sakit kayak gini. Karena polisi bakalan terus jaga kamu dan sidang kesalahan kamu. Jangan sampai kabur, karena saya gak akan biarin itu terjadi sama sekali."
Bram menggiring Rama keluar dan setelah beberapa langkah keluar kamar. Ia ingat sesuatu dan kembali lagi tanpa Rama.
"Satu lagi?"
__ADS_1
"Kenapa mas?"
"Gak usah nipu semua orang dengan omongan kamu. Gak ada yang masih cinta kamu. Saya benci sama kamu! benci sekali. Cinta saya sekarang cuma untuk Annisa, gak ada yang lain. Jadi, gak usah mimpi kalau saya masih cinta sama kamu."
"Tapi mas ..." Sakilla turun dari kasur. "Kamu gak inget sama semua kenangan yang pernah kita lalui dulu? aku tahu mas, aku udah salah banget sama kamu. Tapi aku minta maaf. Aku janji nggak bakal ngelakuin hal bodoh lagi sama kamu. Tapi maafin aku."
Bram melangkah mundur.
"Ngomong sana sama cermin terus ngaku apa aja kesalahan yang udah kamu perbuat ke saya?" suruh Bram lalu meninggalkan Sakilla yang tertegun.
Perempuan itu mengepalkan tangan lalu tak lama ia terjatuh terduduk. Ia menarik napas dalam. Perasaan kecewa udah memenuhi relung jiwanya.
***
"Ayah kenapa?"
__ADS_1
Rama buru-buru mengejar sang ayah yang keliatan emosi. Tanpa pamit sama sekali, keduanya langsung masuk ke dalam mobil dan Bram menancapkan gas meninggalkan tempat ini. Ia benar-benar sudah tidak mau berurusan dengan mereka lagi.
"Ayah marah sama Rama?" tanya Rama lagi setelah mereka cukup jauh dari rumah Sakilla
Bram menghela napas dan mulai menepikan mobil. Dia menoleh ke arah Rama yang menatapnya penuh harap. Ia hanya bisa tersenyum tipis sembari menggeleng.
"Buat apa ayah marah sama kamu? ayah cuma ngajak kamu cepat cepat keluar dari sana aja. Urusan kita sama mereka udah selesai. Tepatnya kamu. Karena ayah masih harus pantau dia. Dan setelah ini ayah harap, kita gak akan pernah ketemu lagi sama mereka."
Rama menumpu wajahnya di seatbelt yang ia kenakan. Anak itu mengangguk sedih.
"Aku juga nggak mau berurusan sama mereka lagi. Udah cukup kemarin. Aku gak mau nambah masalah lagi. Aku gak mau mamah. semakin marah sama aku. Jadi, ayah tenang aja."
Bram menggapai lengan anaknya.
"Sekarang ... hayuk kita cari mamah kamu. Kita nggak boleh berhenti sampai mamah kamu ada di sisi kita."
__ADS_1
Rama membalas genggaman sang ayah dan mengangguk.
"Harus!"