
Makan malam terasa sangat sepi dan sunyi karena perempuan yang biasanya menjadi pemecah suasana kini hanya diam sambil fokus sama makanannya. Sejak tadi Annisa hanya mengacak makanan di piringnya dan sesekali menyuap lalu kembali melamun.
"Kamu beneran nggak apa-apa?" tanya Bram menyadarkan Annisa dari lamunannya.
"Aku nggak apa-apa kok," jawab perempuan itu diiringi senyuman tipis yang begitu cantik sekali. "Aku nggak ada tuh kecewa, aku juga nggak marah, aku nggak sedih sama sekali, aku baik-baik aja," lanjutnya membuat Bram kembali terdiam.
Paham ada maksud tersembunyi dari omongan Annisa, Bram memilih menghembuskan napas pelan-pelan dan kembali fokus sama makanannya.
Hampir satu jam mereka ada di meja makan dengan suasana yang begitu mencekam dan menegangkan.
Bahkan mom Chika sudah melipir sejak tadi, meminta ke supermarket. Sekalian ia sudah berpamitan sama Annisa. Tidak mau ikut campur sama masalah yang dialami anak dan menantunya.
Tapi, yang menjadi masalah di sini adalah Rama.
Sejak tadi anak itu hanya melamun dalam diamnya. Terus memperhatikan orang tuanya dengan perasaan takut. Rama merasa ada yang salah di sini, tapi dia nggak tau apa yang salah. Dirinya juga nggak berani untuk melakukan banyak hal, karena takut memperkeruh suasana.
"Mas," panggil Annisa berusaha biasa saja.
__ADS_1
"Iya sayang? kamu butuh sesuatu?" buru-buru Bram menjawab.
"Tadi kamu bilang udah beli tiket yang jam sepuluh malem kan? dan sekarang udah jam delapan. Ini kita nggak mau pergi sekarang aja?" tanya Annisa sambil menumpuk piring kotor bekas mereka makan. "Kalau kamu nggak bisa atau nggak mau anter aku. Aku bisa berangkat sendiri kok."
"Eh apa-apaan sih kamu," kesal Bram pada akhirnya. "Mas antar! kamu tunggu dulu. Mas mau bersih-bersih dulu bentar. Nanti. kalau udah, mas langsung antar kamu. Jangan pergi tanpa sepengetahuan mas!"
Annisa berdeham.
Sambil menunggu Bram mandi, Annisa menaruh semua piring kotor di wastafel dan mencucinya.
Setelah selesai, Annisa kembali duduk di sofa sambil berusaha menghubungi orang tuanya untuk mengabari dirinya yang mau datang. Tapi, sayang sekali tidak ada yang mengangkat. Annisa sudah panik, takut kalau orang tuanya sedang tidak di rumah.
Tapi,
"Semoga pilihan aku kali ini bener."
Annisa memandang langit malam dari tempatnya duduk. Rasa ragu sekaligus bingung menyatu menjadi satu. Annisa tidak tahu, apa pilihannya kali ini benar atau tidak. Annisa hanya memaksa dan berharap kalau semuanya berjalan seperti yang dia inginkan.
__ADS_1
Sedang asyik melamun, Rama datang sambil menaruh sebuah bingkai foto di pangkuan Annisa.
"Apa ini?" tanya Annisa yang sedikit kaget
"Biar mamah nggak lupa sama Rama, Rama bawain foto Rama. Nanti kalau kangen mamah lihat foto aku aja ya dan aku bakal lihatin foto mamah. Kalau bisa mamah juga sering nelepon Rama ya. Aku bakalan kangen banget sama mamah. Tapi bener kata ayah, aku nggak boleh egois."
Annisa tertegun.
Menatap foto yang diberi Rama. Ia tersenyum tipis dan menaruhnya ke dalam tas lalu memeluk Rama dengan sangat erat.
Rasa kecewanya sedikit hilang mengingat Rama hanya lah anak polos yang mungkin nggak paham sama semua yang terjadi di sini.
"Mamah usahain buat terus ngabarin kamu ya. Tapi mamah nggak bisa janji sama kamu."
"Hmm." Rama berusaha menyamankan diri di pelukan Annisa.
Sampai suara langkah kaki mendekat ke arah mereka.
__ADS_1
"Ayuk, kita berangkat sekarang."