
"Assalamu'alaikum ..."
"Waalaikumsalam ... akhirnya nak Bram dan cucu nenek datang juga kesini," seru ibunya Sakilla yang excited melihat kedatangan Bram dan Rama. Ia langsung memintanya untuk datang. "Bertahun-tahun kamu nggak pernah datang dan selalu marah kalau ibu suruh datang. Tapi sekarang karena Sakilla, kamu datang? memang benar ya kalau anak itu punya data tarik sampai kamu masih cinta banget sama dia. Bahkan di saat kamu punya istri."
Langkah Bram terhenti.
"Maksud ibu?"
"Iya ... Sakilla bilang kalau hubungan kamu sama istri kamu lagi kurang harmonis semenjak kedatangan dia kan? awal nya sih ibu nggak percaya. Tapi melihat kamu datang pas ibu bilang Sakilla sakit. Buat ibu percaya kalau kamu masih sayang sama anak ibu."
Mahen tertawa.
"Ibu ini ngomong apa sih? saya sama Rama datang cuma karena rasa kemanusiaan kami doang. Gak ada yang masih suka atau apa. Karena perasaan saya pure udah buat istri saya."
Ibu Sakilla tampak malu. Ia pura-pura minum dan menyuruh Bram dan Rama buat duduk.
"Tapi, kamu ini memang gak ada hati ya. Masa baru beberapa tahun di tinggalin istri. Kamu udah menikah aja. Mana gak kabarin ibu lagi. Mau gimana pun, kita ini masih punya hubungan keluarga. Jadi, kamu jangan kayak gitu dong."
Bram berdiri.
"Saya gak ada waktu untuk jelasin ke ibu. Karena harusnya ibu sadar atas apa yang anak ibu lakukan dan buat menikah juga itu udah hak saya. Jadi, ibu nggak ada hak lagi buat marah atau apa pun itu."
__ADS_1
Ibu Sakilla memaksa untuk duduk lagi.
"Duduk dulu sini. Ada yang mau ibu bicarakan sama kamu."
Bram mendengus. Ia kembali duduk dan mendekati wajahnya ke telinga Rama.
"Kamu masuk dulu aja ke dalam. Ke mana aja terserah kamu. Nanti ayah nyusul. Jangan lama-lama ya, karena sebelum jam dua belas kita harus udah pergi lagi. Biar gak sampai kesorean di sananya."
"Siap ayah!"
Tanpa komen apa-apa Rama langsung cabut dari tempat duduknya. Ibu Sakilla sempat protes karena Rama terkesan nggak sopan.
"Gak usah menghina anak saya. Rama akan sopan sama orang yang ia anggap harus hormati dan tentunya itu bukan ibu," sarkas Bram dengan tajam.
Bram terkekeh. Menyesap kopi hangat. Menenangkan diri sebelum ia mengeluarkan sebuah foto dari jarak jauh. Dia taruh ke atas meja lalu menyodorkannya ke depan ibunya Sakilla.
"Saya bodoh? atau kalian yang terlalu pintar menipu saya?"
Ibu Sakilla terpaku melihat foto itu.
"Harusnya dari awal saya bisa tahu kalau kalian sekeluarga udah nipu saya. Dari pas Sakilla meninggal, kalian gak ada yang keliatan sedih dan malah sok tegar. Kembaran Sakilla yang lumayan dekat sama saya tiba-tiba pergi ke luar negeri dan jarang bisa di hubungi. Adiknya Sakilla yang malahan deketin saya. Ya harusnya saya paham semuanya."
__ADS_1
Bram memberikan foto beberapa tahun silam saat Sakilla sudah dinyatakan meninggal. Tapi di foto itu terdapat Sakilla yang datang dan ibunya sedang menyambutnya di depan rumah.
Bram baru mendapatkan dari CCTV tetangga perumahan Sakilla.
Ia benar-benar merasa ditipu. Karena sejak awal Sakilla juga menekankan kalau ia juga menipu semuanya. Rencana ini hanya dia yang tahu. Tapi ternyata Bram masih nggak bisa percaya dan akhirnya ketemu sama bukti tersebut.
"Anda ini seorang ibu kan? harusnya paham dong kalau seorang anak itu membutuhkan seorang ibu dalam pertumbuhan dan perkembangannya? tetapi kenapa ibu malah membiarkan anak ibu ngelakuin hal bodoh kayak gini?"
Ibu Sakilla terdiam.
"Bertahun-tahun saya merasa sedih dan itu semua ternyata sia-sia karena kalian semua yang menipu saya. Tapi di balik kesedihan ini, ibu masih berani minta uang sama saya?"
Bram berseru kecil dan bertepuk tangan.
"Keren juga ya kalian, hebat ... duh beneran nggak ada hati atau bagaimana sih? uang dari korban masih kalian pakai. Bahkan ibu juga menjodohkan saya dan kembaran Sakilla dan adiknya? enggak ... saya nggak habis pikir sama otak kalian."
Bram beranjak.
"Sekarang saya nggak akan lama-lama di sini. Saya datang cuma mau kasih tahu hal ini doang. Biar kalian malu. Itu pun kalau ibu dan yang lain masih punya hati."
Bram meninggalkan ibunya Sakilla dan langkahnya berhenti karena ia ingat sesuatu. Ia berjalan mundur dan kembali menatap perempuan berumur yang pernah jadi mertuanya itu.
__ADS_1
"Sebelumnya ... saya mau menekankan kalau saya sangat mencintai istri saya. Jadi, tak ada perasaan lagi kepada Sakilla. Semua perasaan itu berubah menjadi benci. Bukan cuma ke Sakilla. Tapi ke semua orang yang ada di sini."