
Annisa sedang mencatat semua makanan kesukaan Bram yang selama ini tidak ia ketahui. Selama ini perempuan itu hanya tahu kalau suaminya suka semua bentuk makanan. Tapi sekarang Annisa mengetahui beberapa makanan spesifik yang memang disukai sama suaminya.
"Bu ... tapi mas Bram nggak bakalan marah kan kalau aku datang tiba-tiba? takutnya nanti malah ngerasa terganggu karena aku lagi."
Mommy Chika menggeleng.
"Nggak bakalan marah. Dia pasti malah seneng kalau kamu tuh datang gitu. Udah, mendingan sekarang kamu buru masak. Takutnya nanti kesiangan lagi.x
Annisa mengangguk dan berpamitan. Tapi perempuan itu malah balik lagi padahal belum sampai keluar kamar mom Chika.
"Mom ... aku harus pakai baju yang kayak gimana ya?"
***
Karena kepanikan Annisa, akhirnya mom Chika ikut turun tangan untuk masalah yang satu ini. Perempuan berumur itu memilihkan baju yahh cukup formal hingga mereka final bertemu dengan setelan putih-putih dengan kancing emas. Sangat elegan jika dipadu dengan scarf yang berasal dari merek terkenal yaitu Channell.
Setelah memutuskan pakaian, kedua wanita tersebut juga memasak bersama dan berakhir membuat ayam semur dan sambal goreng kentang.
__ADS_1
"Udah ... biar mom aja yang siapin sisanya, kamu masuk dan ganti baju." Mommy Chika menyuruh
"Nggak apa-apa kok mom. Masa dari tadi mom ikut masak juga, Annisa jadi nggak enak. Masih ada waktu satu jam juga kok. Masih cukup kalau Annisa selesaiin sisanya terus ganti baju." Annisa menuang masakannya ke dalam piring besar kemudian pikirannya terbang ke Rama. "Mom ... nanti kalau aku ke kantor mas Bram, terus Rama pulang gimana? Nanti dia nyariin aku lagi," ucapnya sedih. "Apa aku suruh pak Wahyu kirim makanan ke kantor mas Bram aja ya mom. Aku nggak usah ke sana?"
"Hus!" desis mommy Chika sambil menggeleng.
"Setelah semua masakan yang kamu buat, masa kamu nggak jadi ke sana sih!" omelnya sambil menunjuk seisi dapur, mengingatkan akan usaha yang udah mereka lakuin bersama.
"Tapi Rama ..."
"Kamu lupa? udah ada mommy di sini?" ucapnya. Mommy Chika mendorong pelan tubuh Annisa, menggiringnya ke luar dapur. "Hus ... masuk ke kamar sana, pakai baju yang tadi mommy suruh. Biar mommy yang nyelesaiin sisanya."
"Makasih banyak ya mom."
***
"Aku nggak usah hubungin mas Bram kan?" tanya Annisa yang ke sekian kalinya
__ADS_1
Mommy Chika menghela napas kesal dan menggeleng. "Yang ada bukan surprise lagi kalau gitu. Udah kamu itu ke sana dan bilang sama resepsionis di sana ruangan Bram. Nanti pasti langsung di tunjukkin. Jadi, cepat ya ke sana. Keburu jam makan siang tiba. Soalnya jam segini kan rawan macet."
"Ya udah deh mom ... aku pamit ya."
Sembari membawa kotak bekal, Annisa masuk ke dalam mobil. Mobil langsung melaju menuju kantor Bram yang masih asing di mata Annisa itu.
Selama perjalanan, Annisa hanya memandang jalanan yang padat merayap layaknya semut yang berbaris. Perempuan itu terus merapal doa semoga semuanya berjalan baik-baik saja. Karena sungguh, Annisa sangat takut dengan segala realita yang akan menimpanya.
/Gimana kalau mas Bram malah marah karena aku datang tiba-tiba?/
/Bagaimana kalau mas Bram malu aku datang dan berujung nggak mau kenal sama aku?/
/Gimana kalau mas Bram abai sama aku dan nyuruh aku pulang?/
Dan masih banyak lagi pertanyaan yang hinggap di benak perempuan itu. Sampai tidak sadar ia sudah tiba di bangunan kokoh yang menjulang tinggi.
Setelah mengucapkan terima kasih, Annisa langsung turun dan mendongak, menatap ujung gedung yang benar-benar tinggi itu. Ia menelan saliva, merasa terancam melihat bangunan nan megah ini.
__ADS_1
Ia menarik napas dalam dan mengangguk yakin, "aku pasti bisa!"