Istri Dadakan

Istri Dadakan
Malam Bersama


__ADS_3

"Mamah sudah boleh masuk?"


Kedua laki-laki yang berbeda usia itu dan saling berpelukan langsung menoleh pada Annisa yang datang sambil membawa nampan berisi minuman itu.


"Kalian sangat akur, mamah senang melihatnya."


"Mamah!" seru Rama langsung memeluk tubuh Annisa saat perempuan itu sudah menaruh nampannya di atas meja. Perempuan itu berbalik dan mengusap puncak kepala Rama yang tersembul menatap ke arahnya.


"Iya sayang ..."


"Aku minta maaf ya sama mamah, karena udah jadi anak yang jahat banget. Aku baru baca-baca dan sadar kalau buat orang tua menangis adalah hal yang sangat salah. Tapi aku udah buat mamah nangis ... aku minta maaf banget sama mamah, atas semua ulah yang udah aku perbuat sama mamah."


Annisa berlutut dan mengangguk.


Ia tangkup wajah Rama sambil mengecup kening Rama dengan sangat lembut.


"Mamah nggak marah sama sekali ke kamu dan mamah udah maafin dari lama banget. Jadi, nggak perlu di pikirin lagi ya sama kamu. Tapi, ada satu hal yang buat mamah berharap sama kamu dan mamah harap kamu bakal kabulin permintaan mamah yang satu ini."


Dengan perasaan tak menentu Rama mengangguk dengan cepat.


"Aku bakal kabulin semua yang mamah mau, memangnya mamah mau apa?"


"Mamah mau kamu lebih terbuka sama mamah atau pun ayah. Jangan pernah pendem semuanya sendiri. Karena di sini mamah beneran nggak suka melihat kamu yang sedih dan menangis kayak tadi. Mamah beneran sedih kalau liat kamu kayak kemarin," pinta Annisa dengan sangat lembut


"Iya mah ..."


***


Seperti rencana pertama yang di inginkan Annisa dan Bram. Kini dua orang dewasa itu sudah tidur di kamar Rama. Dengan Rama di tengah, sisi kanan ada Annisa dan sisi kiri ada Bram. Mereka bertiga masih membuka mata, tidak bisa tidur sama sekali.

__ADS_1


"Aku seneng banget tau nggak sih, karena mamah sama ayah tidur di sini. Padahal aku nggak pernah ngebayangin ini. Karena nggak tahu kalau tidur sama orang tua bisa bikin aku bahagia banget kayak gini."


Bram menjadikan lengannya bantalan dan menatap ke arah langit kamar.


"Buat ke depannya, kamu nggak perlu khawatir karena ayah sama mamah akan kasih banyak hal yang bikin kamu terkejut. Kami akan terus limpahin kasih sayang sampai kamu tahu kalau banyak hal bahagia yang bisa di lakukan bersama oleh seorang keluarga."


Anak itu tersenyum simpul.


"Tapi yah ... aku boleh nanya?" tanya Rama pelan setelah mereka cukup lama terdiam. "Tentang bunda."


Degh!


Jantung Annisa sama Bram langsung berdegup kencang. Takut pertanyaan Rama akan menggiring emosi mereka lagi dan mereka tidak bisa mengontrol. Terutama Bram yang memang sampai detik ini masih terus membenci semua yang di lakukan sama Sakilla.


Melihat suaminya yang gelisah, Diam-diam dari atas tangan Annisa menepuk bahu suaminya. Saat Bram menoleh, Annisa langsung menatap balik sambil mengangguk dan tersenyum tipis. Berusaha untuk menguatkan suaminya itu dan entah kenapa Bram membalas mengangguk.


"Tanya saja," jawab Bram pada akhirnya. "Tanya semua hal yang selama ini mengganjal di hati kamu. Hiraukan kami, kamu tanya saja apa pun yang buat kamu resah itu. Jangan hiraukan kami sama sekali."


"Bunda ... memang belum meninggal?"


Helaan napas Bram terdengar mengudara. Pria itu masih menatap langit kamar.


"Seperti yang ayah beri tahu ke kamu waktu itu. Ayah di sini nggak mau menyembunyikan lagi. Karena memang sudah waktunya kamu mengetahui hal ini kan? Jadi memang benar bunda kamu itu belum meninggal dan ayah minta maaf karena selama ini, ayah menginfokan ke kamu kalau bunda itu udah meninggal ..."


"Kalau gitu ... kemana bunda pergi selama ini?" todong Rama dengan rasa penasaran yang begitu tinggi. "Terus makam siapa yang sering kita datangi waktu itu? Kenapa ayah tahu kalau bunda meninggal. Memangnya ayah gak lihat bunda waktu itu? dan ... kalau memang bunda masih ada di sini. Apa ayah bisa bawa bunda ke depan aku?"


"Ayah nggak mau menjelaskan panjang lebar dan buat kamu sedih. Tapi ... ayah menekankan kalau ayah juga baru tahu hal ini. Sebelumnya, ayah mengetahui kalau bunda kamu itu juga sudah meninggal. Tapi, ternyata ada satu hal yang buat ayah sadar kalau ternyata selama ini bunda kamu itu udah bohong sama kita."


"Yah ... bunda jahat ya?"

__ADS_1


Annisa langsung berbalik dan memeluk Rama yang udah kelihatan sangat sendu itu.


"Kamu nggak usah lihat dari sisi sana ya. Tapi, yang perlu kamu tahu kalau bunda kamu nggak sejahat yang kamu kira. Kamu nggak usah asumsi apa-apa. Lebih baik kamu do'ain aja biar bunda kamu cepat ketemu biar kamu bisa ketemu langsung sama bunda Sakilla. Kamu mau kan?"


Rama merengut. Menolak ucapan mamahnya itu.


"Nggak bisa gitu, mah ... aku masih terus bertanya-tanya. Kalau memang bunda nggak meninggal. Kenapa bunda pergi? Apa bunda nggak sayang sama aku? Kalau memang bunda nggak sayang sama aku. Kenapa oma sama ayah bilang kalau bunda excited banget pas aku hadir di dunia ini? Aku masih terus kepikiran."


Annisa menepuk perut Rama sembari mengecup sekali pipi anak itu.


"Kamu nggak usah mikirin sejauh itu. Kamu cukup nunggu sampai ayah kamu berhasil bawa bunda kamu ke sini. Nanti kamu baru boleh nanya."


Bram ikut mengangguk menanggapi omongan istrinya itu.


“Ayah cari tahu dulu ya. Intinya ... di sini ayah cuman mau ngasih tahu ke kamu, kalau apa yang kamu tahu waktu itu ternyata salah. Jadi, ayah harap kamu mempersiapkan hati untuk ke depannya. Karena nggak ada yang tahu apa yang terjadi ke depannya. Jadi, ayah harap nanti kamu nggak kaget lagi kalau ternyata ayah bertemu sama bunda kamu dan membawanya ke sini.”


“...”


“Maaf ya nak, karena di usia masih sangat belia kamu harus menghadapi banyak hal kayak gini. Tapi apa pun itu, di sini ayah sama mamah janji nggak akan membuat kamu sulit lagi, kamu harus jadi kebahagiaan banyak orang. dan melupakan semua kesedihan yang menjadi penghalang di hidup kamu.”


Rama tersenyum simpul dan mengangguk.


“Bersama ayah dan mamah aja udah buat aku bahagia kok. Makasih karena kalian udah selalu ada untuk aku.”


“Kami akan selalu di sini, jangan khawatir ...”


Pada akhirnya, malam itu mereka hanya ditemani lamunan. Mereka terus terdiam, merasakan heningnya malam. Walau kesepian itu nggak mencekat suasana sama sekali. Karena hangat dari kebersamaan malam itu, membuat mereka jauh lebih nyaman. Ditambah mereka yang baru saja berbaikan membuat ketiga orang di sana benar-benar merasa lega.


Mereka terus diam sampai kantuk menjemput mereka dan akhirnya tidur bersama di ruangan yang sama. 

__ADS_1


__ADS_2