
"Tuan ... sepertinya den Rama marah. Dari tadi pas bangun den Rama cuma nangis karena tahu tuan nggak ada di sini dan malah pergi ninggalin dia. Dari situ den Rama gak mau keluar kamar. Terus diem aja. Bahkan belum sarapan sama sekali. Maaf ya tuan ... saya sudah melakukan berbagai cara tapi sepertinya den Rama masih gak mau keluar."
Bram mengangguk dan meminta pegawainya itu untuk meninggalkan dirinya.
"AW!" pekik Bram pelan yang langsung mendapat pukulan di lengannya dari Annisa.
"Kamu nggak minta izin sama Rama? ya ampun mas. Pasti anak itu marah banget."
Bram hanya terkekeh. "Maaf ... mas kan mau tahu masalah mas sama kamu dulu dan mau nyelesaiin masalah ini. Lebih enak kan kalau kita ketemu berdua dulu. Baru nanti aku ajak Rama. Tapi aku nggak tau kalau Rama bakalan marah kyak gini," sesal Bram.
Annisa menggeleng.
"Sekarang mas masuk dulu ya. Kamu tunggu di sini dulu aja. Kalau nanti udah, mas panggil kamu. Kamu baru masuk ya," titah Bram yang di angguki oleh Annisa.
__ADS_1
Bram menatap sekeliling dan membawa kursi lalu meminta Annisa untuk duduk di sana. "Ibu hamil nggak boleh capek capek. Jangan berdiri! duduk dengan nyaman aja. Kamu juga jangan masak kalau belum mas panggil. Mas mau selesaiin masalah mas sama Rama dulu. Terus nanti dia kaget baru deh mas mau pinta kamu masuk."
Annisa mengacungkan jempolnya.
Begitu masuk Bram langsung mendapati Rama yang berada di sudut ruangan dan menatapnya tajam.
"Ayah jahat ... ayah ninggalin aku sendirian," ucapnya pelan. "Aku tadi mimpi buruk yah. Tapi pas bangun aku malahan gak lihat ayah di sisi aku. Aku sampai mengira ayah juga pergi sama seperti yang bunda lakuin sama aku. Aku takut."
"Semuanya pergi yah. Aku mengira kalau ayah juga ikutin jejak mamah. Aku beneran takut kalau aku bakalan sendirian di sini. Di tempat yang nggak aku kenal dan sama orang yang nggak aku kenal sama sekali."
Bram tertegun. Sadar kalau kepergian Annisa sudah membawa luka besar bagi Rama. Anaknya trauma dan ia sama sekali tidak sadar. Selama ini Bram hanya memikirkan dirinya saja tapi lupa tentang anaknya yang mungkin saja ikut terluka karena masalah ini.
Ia menggendong Rama dan menghapus air matanya.
__ADS_1
"Maafin ayah, maaf ... ayah nggak maksud membuat kamu sedih karena masalah ini. Ayah beneran nggak tahu kalau kamu bakalan sesedih ini dan ayah bensean nggak pikir panjang tentang kami. Ada hal yang harus ayah lakuin dan nyatanya hal ini malah buat kamu sedih. Sekali lagi maafin ayah ya Rama ..."
Rama menelungkup kan wajahnya di ceruk leher sang ayah dan mengangguk perlahan.
"Sekarang udahan ya nangisnya. Karena ada orang spesial yang harus kamu temui. Jadi, malu kamu kalau malah nangis begini di depan orang spesial ini."
"Hmm?" bingung Rama. "Memangnya siapa?" tanya anak itu dengan suaranya yang sangat serak.
Bram tersenyum tipis lalu beranjak keluar kamar. Ia membuka pintu perlahan dan seketika Annisa yang masih duduk dengan wajah khawatir langsung terpampang nyata di hadapan mereka.
Rama terdiam untuk sesaat. Ia berusaha memahami keadaan dan berakhir memekik sambil merentangkan tangan ke arah Annisa yang sudah tersenyum tipis.
"MAMAH!"
__ADS_1