Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kembali Berulah


__ADS_3

Keesokan paginya semua sudah siap mengenakan baju hitam untuk menyesuaikan diri dengan suasana berduka. Perasaan sedih yang sempat terlupakan kembali Annisa ingat, karena mereka yang mau pergi ke makam kakaknya itu.


"Orang tua kamu masih lama?" tanya Bram membuat seluruh keluarganya menoleh pada Annisa.


"Nggak tau mas, dari tadi aku panggilin juga mereka cuma minta nunggu bentar doang," jawab Annisa sembari sesekali menoleh ke lantai atas. Kamar orang tuanya berada


"Coba deh kamu panggilin mereka dulu ya. Biar orang tua mas nunggu di mobil dan mas mau bawa barang ke dalam mobil dulu. Sekalian sama Rama," lanjut Bram lalu mengambil alih Rama yang ada di gendongan Annisa.


Dengan berat hati Annisa naik ke lantai dua dan mengetuk pintu kamar takut. Ketukan pertama belum ada jawaban sama sekali membuat Annisa mengerang kecil.


"Ibu ... Bapak ... jangan lama-lama ya, aku nggak enak sama mas Bram dan keluarganya. Kita udah nunggu dari tadi. Ini emangnya ibu sama bapak lagi ngapain sih?" tanya Annisa sambil terus mengetuk.


"Aish! berisik banget sih kamu," bentak ibu Marni yang sudah membuka pintu.


"IBU!" seru Annisa yang terkejut melihat penampilan sang ibu yang sangat glamor. Ia beralih menatap bapaknya yang baru keluar dari kamar.


"Kenapa? Kamu pasti kaget ya sama penampilan kita?" ucap ibu Marni yang malah berputar-putar di hadapan Annisa. "Ini ibu beli bajunya di mall loh. Jauh dari rumah kita. Harus naik mobil dan macem-macem deh. Mahal banget lagi. Untung suami kamu nggak pernah pelit kalau kasih uang. Jadi ibu sama bapak punya baju sebagus ini. Gimana? Keren banget kan?"


Annisa memiringkan wajah dan menahan segala amarah.

__ADS_1


"Bu ... ibu tau kan kita mau pergi kemana?" tanya Annisa dengan suara tertahan.


Ibu Marni dan Bapak Wahyu mengangguk.


"Kamu ini kenapa sih?" tanya bapak Wahyu sambil menatap anaknya dengan tak suka. "Dari kemarin kayak kelihatan banget nggak suka dan meremehkan kami. Kamu nggak suka ya kami datang ke sini? Kamu malu ya karena kami datang?"


"Bukan begitu—


"Iya ... bapak tau. Suami dan mertua kamu punya segalanya. Beda sama kami yang nggak punya uang. Pasti kamu nggak suka kan kami kesini? iya deh ..."


"Pak? Annisa nggak pernah punya pikiran seburuk itu," papar Annisa sambil menggeleng. "Tapi ibu sama bapak sendiri yang buat Annisa kelihatan nggak suka. Kayak sekarang?"


"Kita ini mau melayat bu, pak! Melayat! Sedih ... kita lagi ada di suasana berduka. Kakak meninggal. Anak ibu sama bapak meninggal. Tapi kenapa bisa-bisanya ibu sama bapak itu malah kayak gini?"


Annisa menunjuk pakaian orang tuanya dari atas sampai bawah.


"Ibu pakai gamis bunga-bunga warna pink dan perhiasan yang banyak. Terus bapak pakai jas kayak gini?" ucap Annisa yang kesal.


"Annisa? gimana ... kenapa belum turun juga?" ucap Bram yang tiba-tiba datang dari bawah.

__ADS_1


"Mas lihat, mas ... mereka malah pakai baju kayak kita mau pergi. Ya ampun, keluarga kamu aja yang nggak kenal kakak aku sama sekali, bisa tau kondisi dan pakai baju hitam. Tapi orang tua aku sendiri yang jauh lebih kenal sama anaknya malah pakai baju bling-bling kayak gitu."


"Loh ... kenapa kamu yang sewot? Bukannya ibu udah bilang dari awal, kalau kami nggak pernah mau datang ke kakakmu itu? Kami di paksa. Jadi, terserah kami dong mau pakai baju yang kayak gimana juga."


Annisa meraup wajahnya sekali lagi. Pemikiran orang tuanya sama sekali nggak nyambung di otak dia.


"Sudah lah Annisa, bikin capek sendiri kalau terus lawan mereka," bisik Bram menenangkan Annisa. "Ibu sama bapak silahkan turun ke bawah. Karena kita harus segera pergi. Nanti tinggal turun dan di depan sudah ada mobil yang menunggu."


"Hu ... suami kamu aja baik-baik dan nggak ngomong apa-apa tuh tentang penampilan ibu sama bapak. Tapi, kenapa malah kamu yang ribet?" ejek ibu Marni yang mengibaskan pakaiannya laku turun ke bawah.


"Mas ... kok kamu malah bela mereka sih?" seru Annisa saat orang tuanya sudah keluar rumah. "Kamu nggak lihat penampilan ibu sama bapak? Itu sama sekali nggak mencerminkan orang mau melayat mas. Ya ampun ... apa yang kakak pikirin di atas sana kalau tau ibu sama bapaknya kayak gini. Segitu bencinya sama kakak."


"Ssst ... udah ya, jangan perpanjang masalah dulu. Kalau kita terus omongin yang ada kita nggak pergi-pergi. Kamu mau datang ke makam kakak kamu kan?"


Annisa mengangguk.


"Ya udah ... cukup percaya sama mas. Kita turun dan jangan bahas masalah ini lagi. Okei?"


"Iya mas ..."

__ADS_1


__ADS_2