
Menunggu waktu hari ibu tiba, Rama dibuat panik karena semua ide datangnya tiba-tiba. Jam sepuluh malam, di saat semuanya udah pada tidur. Anak itu diam-diam terbangun dan memastikan kalau mamahnya sudah tertidur.
Baru, dia mendatangi kamar ayahnya dan membangunkan ayahnya yang sudah terlelap. Meminta dengan langsung untuk dibelikan kalung, kue sama bunga. Walaupun sedikit kesal karena anaknya mengganggu dia. Ayah Bram tetap apresiasi keinginan anaknya dan meminta Rama untuk tidur saja. Biar dia yang mengurus sisanya itu.
Maka dari itu, pagi ini Rama sudah memasang alarm pagi buta sekali dan mendatangi kamar ayahnya lagi. Untung di sana ayah Bram sudah rapih dengan kaus polonya.
"Ayah beneran udah beli yang aku pinta?!" seru Rama sambil meloncat di kasur Bram.
"Selamat pagi anak ayah, gimana tidurnya semalam?" sindir Bram membuat Rama mengerjap dan terkekeh. "Harusnya banya dulu kayak gitu, baru tanya kayak tadi. Tapi karena kamu menggemaskan hari ini. Oke ayah jawab, semuanya udah ayah siapin. Jadi, mendingan sekarang kamu mandi dulu aja. Sebelum mamah kamu bangun lebih dulu. Bukan nya kamu mau kasih surprise pas sebelum mamah bangun kan?"
Anak itu menoleh ke arah jam dan mengangguk.
"Mandinya jangan pure air dingin ya nak, campur sama air hangat. Bisa kan?"
"Bisa yah."
Rama meminta ayahnya untuk mendekat sebelum pergi. Walau bingung Bram tetap menuruti anaknya itu dan dia mendekati ke wajah anaknya. Setelah tepat di depan wajah sang anak, ia langsung mendapat kecupan dari anaknya di pipi.
"Makasih ayah, maaf kalau aku ngerepotin ayah dari kemarin. Aku sayang sama ayah," ucap anak itu sebelum melompat dari atas kasur dan berlari meninggalkan dirinya.
"Rama benar benar berada di tangan yang tepat," puji Bram sambil membayangkan Annisa yang sudah merawat Rama beberapa waktu terakhir. "Dia beneran tumbuh jadi anak yang manis dan tahu sopan santun."
Laki-laki itu mengangguk kecil.
"Ya ... memang seharusnya aku berterima kasih karena sudah bertemu sama Annisa. Dia memang perempuan yang baik dan aku nggak salah pilih sama sekali."
***
Setelah ayah Bram berpamitan untuk masuk di dapur. Rama dengan hati-hati membuka kamar mamahnya. Ia mengelus dada saat melihat mamahnya masih tertidur dengan lelap. Dengan cepat anak itu membawa buket bunga yang sudah di beli ayahnya. Lalu melangkah mendekati kasur.
Dengan perlahan Rama naik ke atas tempat tidur. Tidak ada pergerakan sama sekali karena mamahnya benar-benar terlelap dalam tidurnya.
"Mamah," panggil Rama sambil memberi kecupan di kening Annisa.
Annisa hanya sedikit bergerak. Tapi matanya masih terus memejam, membuat Rama menutup mulutnya dan terkikik kecil. Benar-benar gemas sama mamahnya yang seperti ini.
Rama kembali memberi kecupan. Saat merasa mamahnya mulai terganggu, Rama terus memberi kecupan di wajah Annisa sampai perempuan itu tertawa geli dan benar-benar sudah membuka kelopak matanya dengan sempurna.
"Selamat hari ibu, mamah!" ucap Rama sambil meniup terompet kecil. "Mamah ... makasih karena udah hadir di hidup aku. Aku benar-benar beruntung karena mamah yang ada di hidup aku. Hidup aku jauh lebih berwarna setelah ada mamah. Jadi, aku beneran berterima kasih sama mamah, karena mau mengurus anak seperti aku."
Annisa yang sudah duduk langsung merengut, merasa sedih dengan ucapan sang anak.
__ADS_1
"Mamah yang jauh lebih beruntung karena punya kamu, nak."
Annisa merentangkan tangan dan dengan cepat Rama langsung memeluk mamahnya. Dua orang berbeda usia yang tidak memiliki hubungan darah tapi mempunyai rasa kasih sayang berlebih itu saling menitikkan air mata.
Rama yang terharu karena seumur hidup ini pertama kali nya dia merasakan hidup seperti ini. Seorang ibu yang bahkan nggak pernah ia bayangin saka sekali kini hadir di depan dirinya dan memberikan banyak kebahagiaan untuk dirinya.
Sementara itu,
Annisa tidak tahu kalau memiliki anak akan membawa banyak kebahagiaan seperti ini. Sangat beruntung, mungkin itu yang Annisa pikirkan.
"Tahu nggak sih mamah. Mamah ngajarin aku banyak hal dan aku bersyukur karena itu semua. Makasih ya mah sekali lagi. Aku beneran sayang banget sama mamah. Jangan pernah tinggalin aku ya mah. Karena aku cuman punya mamah, aku nggak punya yang lain."
Dan,
Entah kenapa pikiran Annisa berkelana ke ibu kandung Rama yang sebenarnya belum meninggal itu. Bayangan tentang Sakilla yang datang dan merebut anaknya buat Annisa menarik napas dalam.
"Akan mamah usahain," jawab Annisa pada akhirnya sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi anaknya. "Apa pun yang terjadi manah akan tetap di sini untuk kamu! Jadi, kamu nggak perlu khawatir sama sekali ya."
Ya ... Annisa akan memberikan yang terbaik.
Kalau memang takdir nggak membawa mereka bersama, dia akan terus memantau anaknya dari jauh. Dia akan kasih yang terbaik supaya anaknya akan terus ada di dalam jarak pandang dirinya.
Itu janji Annisa pada dirinya sendiri.
"Hahaha, nggak perlu. Ini aja udah suka banget kok. Makasih ya."
Annisa menghirup aroma bunga yang selalu menjadi favoritnya itu.
"Oh iya ada lagi hadiah khusus untuk mamah. Tapi aku mau kasihnya nanti. Sekarang mamah mendingan mandi dulu. Biar habis ini langsung pergi sarapan."
"Ah iya, kamu lapar ya? Ya ampun udah siang ya?"
***
Setelah siap membersihkan diri, Annisa melihat keberadaan suaminya yang berdiri di depan kamarnya. Ia mengerutkan kening saat melihat wajah tampan suaminya yang tersenyum simpul, benar-benar sangat tampan dan buat hati Annisa jadi jauh lebih tenang.
Annisa menoleh ke sembarang arah dan nggak melihat keberadaan anaknya sama sekali. "Di mana Rama?"
"Udah menunggu di satu tempat," ucap Bram lalu laki-laki itu mendekati istrinya. "Selamat hari ibu ya Annisa. Maaf karena di umur yang masih muda banget, kamu sudah mengurus anak yang umurnya nggak kecil banget dan juga bukan anak kamu lagi. Pasti nggak gampang kan? Kamu harus melangkah di hidup yang nggak kamu kenal."
Bram menepuk puncak kepala istrinya membuat Annisa sedikit menjauh, karena sungkan.
__ADS_1
"Tapi kamu hebat karena bisa melewati ini semua dengan baik. Kamu memang yang terbaik. Nggak salah takdir bawa kamu ke hidup saya. Karena saya juga sangat beruntung bisa bertemu sama kamu."
Annisa terkekeh.
"Aku yang berterima kasih sama, mas. Karena mas banyak merubah hidup aku sampai ngebuang pikiran aku tentang orang kaya seperti mas gini."
"Oh ya, maksud kamu apa?"
Annisa menunduk. Bayangan masa lalu membuat dia tersenyum miris. Rasa sakit yang ia alami kala itu mampu menembus hingga titik ini. Dia menarik napas dalam dan menggeleng kecil.
"Adalah ... pokoknya karena kejadian itu, buat aku mikir kalau semua orang kaya itu belagu dan sombon. Makanya aku sempat berpikir kalau kamu juga punya sifat yang sama. Tapi, ternyata kamu nggak sejahat yang aku kira dan kamu masih sangat baik. Makanya aku benar merubah pemikiran buruk tentang orang yang berada."
Bram hanya mengangguk. Ia tidak akan memaksa Annisa untuk cerita.
"Oh iya ... walaupun ini hari ibu, yang artinya hanya di khusus kan untuk seorang anak. Tapi saya ada hadiah kecil untuk kamu. Anggap aja sebagai hadiah karena selama ini kamu nggak pernah dikasih hadiah sama saya."
Annisa menelan saliva. Bingung harus bereaksi seperti apa.
Sampai Bram mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dari kantung celananya. Ia buka dan cincin sederhana yang sangat cantik muncul dari dalam kotak itu. Dengan lembut, Bram mengambil cincin itu dan menyimpan asal kotak tadi lalu mengambil lengan istrinya. Ia pasangkan cincin itu di jari manis Annisa dan tersenyum puas saat melihat cincin tersebut yang benar-benar indah saat terpasang di tangan Annisa.
"Bahkan ... saya hanya memakai cincin bekas saat menikahi kamu waktu itu. Saya beneran minta maaf karena perbuatan saya di masa lalu yang menyepelekan pernikahan kita dan ini salah satu hadiah yang akan saya berikan untuk kamu. Jadi kamu simpan atau buang saja cincin waktu itu dan pakai cincin yang ini."
Annisa menatap tangannya yang sudah terpasang cincin.
Sebagai seseorang yang nggak pernah di surprise sama sekali, membuat Annisa benar-benar terharu sama tingkah suaminya itu.
"Berulang kali saya bilang, saya akan berubah dan berusaha menjadi suami yang baik. Mungkin cincin ini nggak seberapa dengan rasa sakit yang kamu alami karena ulah saya. Tapi percaya lah, saya tidak akan mengulangi hal itu lagi."
"Tapi ... ada satu pertanyaan yang mengganggu aku mas," ucap Annisa pada akhirnya. "Boleh aku tanya sama kamu?"
"Silahkan ... kamu tanya saja semua yang mengganggu hati kamu."
"Kalau ... suatu saat nanti, Mbak Sakilla kembali datang. Entah datang sendiri atau di datangkan sama kamu. Apa kamu bakalan kembali sama dia dan ninggalin aku?"
Bram tersenyum tipis.
"Tidak Annisa. Saya paling membenci orang yang berbohong dan Sakilla sudah membohongi saya. Saya janji tidak akan pernah kembali sama dia. Karena untuk saat ini, kamu sama Rama yang menjadi masa depan saya. Bukan Annisa sama sekali."
"Termasuk ... kalau ternyata mbak Sakilla akan berubah menjadi orang yang baik?"
Bram dengan perlahan membawa tubuh istrinya masuk ke dalam pelukannya. Dengan hati-hati dia memberi kecupan hangat di kening Annisa.
__ADS_1
"Kamu masa depan saya, bukan Sakilla lagi. Kamu tidak perlu khawatir. Mau Sakilla berusaha mengembalikan semua nya seperti dulu. Saya tetap tidak akan pernah milih dia sama sekali. Karena yang menjadi tujuan hidup saya itu kamu sama Rama, bukan yang lain."