Istri Dadakan

Istri Dadakan
Ketakutan Annisa


__ADS_3

Setelah puas meledek istrinya sampai wajah Annisa benar-benar sangat memerah, Bram mengacak rambut perempuan itu dan terkekeh. Wajahnya kembali serius menatap Annisa.


"Kamu belum jawab pertanyaan mas," lanjut Bram dengan sangat serius. "Kenapa kamu nggak pernah percaya sama semua janji yang mas kasih?"


Annisa menarik napas dalam.


"Dari dulu aku selalu percaya sama omongan jangan bermain sama laki-laki yang masih terus mikirin masa lalunya, karena itu cuma sia-sia semata. Karena pada akhirnya hanya orang di masa lalu yang menjadi pemenang nya. Bukan kamu orang baru."


Bram tersentak.


"Awalnya pas tau mbak Sakilla udah meninggal, aku berani buat buka hati ke kamu. Aku berusaha yakinin diri kalau suatu saat nanti akan ada waktunya kamu juga cinta sama aku. Tapi ternyata fakta ngebuat aku sadar kalau mbak Sakilla masih ada di sini."


Annisa tersenyum miris, ia menghela napas lega. Hatinya terasa lebih ringan saat mengatakannya.


"Aku takut, mas ... kamu sama mbak Sakilla udah lama saling kenal dan semua orang cuma bilang kalau kamu ini sangat sayang sama masa lalunya. Aku takut kalau nanti nya kamu bakalan kepincut lagi sama mbak Sakilla—


Annisa menggeleng, ia terdiam. Memikirkan kata-kata yang paling tepat agar suaminya tidak sakit hati.


"Aku bukannya nggak percaya sama kamu. Tapi, aku tuh cuma antisipasi aja. Mungkin karena dari kecil aku tumbuh tanpa di kasih kepercayaan sama orang tua aku. Jadi, aku tuh ya gitu ... nggak gampang percaya sama orang lain. Di sini aku cuma takut sakit hati. Makanya ngelakuin ini ke kamu. Maaf ya mas," gumam Annisa pelan. "Maaf kalau aku malah mengecewakan kamu."


Bram mengangguk.


"Tidak masalah ... mas memang sedikit tersinggung. Karena ternyata selama ini usaha mas nggak dilihat sama kamu."


"Mas ih," rengek Annisa jadi nggak enak gini.


Bram malah tertawa dan bangkit. Ia mengganti pakaian nya sambil tetap menatap Annisa dari kaca lemari yang ada di hadapannya.


"Nggak usah terlalu di pikirin ya Annisa. Mas nggak bisa janji banget, karena benar kata kamu ... nggak ada yang tau ke depannya bakalan gimana. Tapi insya Allah kalau mas ini bakalan terus bersama kamu. Mas akan tetap memilih kamu sampai kapan pun itu. Jadi, kamu tenang aja. Mas nggak akan janji tapi mas bakalan berusaha melakukan yang terbaik untuk mendapatkan cinta kamu."


Annisa tersentak.


Ia melirik ke arah suaminya yang masih sibuk mengenakan kemeja ganti lainnya. Annisa jadi merasa bersalah. Nada suara suaminya yang terdengar kecewa juga membuat dia jadi semakin nggak enak.


Dengan ragu, ia bangkit dan menghampiri Bram. Laki-laki itu nggak sadar sama sekali lantaran sedang menunduk dan sibuk sama kancing pakaiannya.


Tangan Annisa mendekati tubuh Bram dan dengan segala keberanian ia mendekap Bram dengan sangat erat.


"Mas jangan nyerah sama aku ya," ucap Annisa lirih


"Annisa?" panggil Bram lalu tersenyum lebar. Tangan laki-laki itu semakin mengeratkan pelukan istrinya. Bram memegang lengan istrinya yang sangat dingin, tanda begitu gugup.


Bram mengusap lengan istrinya. Laki-laki itu ingin menoleh dan melihat ekspresi Annisa. Tapi ia nggak mau menghenti kan momen indah ini. Dan juga, tubuhnya yang tinggi menjulang benar-benar menutupi tubuh istrinya yang ada di belakangnya.


Akhirnya Bram memejamkan mata, ikut merasakan momen yang begitu indah ini. Sangat membahagiakan dan membuat hatinya hangat.

__ADS_1


"Kamu tahu ... setelah sekian lama, akhirnya mas bisa ngerasain deg-degan lagi pas sama kamu."


"Masa?" tanya Annisa yang meragukan omongan suaminya


"Terserah kamu mau percaya atau enggak. Tapi kamu harus tau kalau ngeliat kamu pas ngurus Rama bisa buat mas jatuh cinta. Ngelihat kamu yang ngurus mas bisa bikin jantung mas deg-degan. Segalanya yang ada di kamu udah buat mas mabuk kepalang."


Blush!


Wajah Annisa langsung memerah.


Ia mencubit pelan perut Bram membuat laki-laki itu mengaduh.


"Kok dicubit sih?!" ringis Bram sambil mengusap perutnya yang baru dicubit sama sang istri


"Lagian gombal."


Saat itu, keadaan benar-benar membuat keduanya bahagia. Mereka tidak menyangka akan ada waktunya mereka bisa mengutarakan isi hati satu sama lain. Mereka kini semakin paham sama perasaan satu sama lain. Berharap kalau ini menjadi awal yang baik untuk pernikahan mereka.


***


Saat ini,


Mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju tempat mereka tinggal. Annisa super gugup sejak tadi lantaran terus teringat bayangan sang ibu yang memecahkan Gucci. Kepalanya sampai pening karena memikirkan ini. Dia terus menyandarkan kepalanya ke kaca mobil dan menatap kosong jalanan.


Bahkan Annisa juga seperti orang ling lung. Ia nggak segan diam pas ditanya yang lain. Karena otaknya benar-benar gak ada di tempatnya. Melainkan ada di rumah suaminya. Sudah membayangkan kalau nanti suaminya bakalan marah dan melakukan sesuatu yang buruk padanya.


Tangan laki-laki itu menjulur dan mengusap lengan Annisa hingga Annisa bangkit dari menyandarnya dan tersenyum tipis pada suaminya.


"Kamu kenapa?" tanya Bram


Annisa langsung menggeleng. Tidak mungkin ia jujur, yang ada dirinya malah dimarahin sekarang.


Bram mengangguk saja dalam menanggapinya. Tidak mau membuat Annisa semakin tak nyaman.


Bram melihat keadaan di belakang dari kaca spion depan. "Mom ... itu Rama beneran udah tidur?"


Mommy Chika melirik dan mengecek cucunya yang baru saja tertidur itu setelah dari tadi aktif menyanyi. "Sudah. Kecapean dia kayaknya," gumam mommy pelan sembari terkekeh. "Memangnya kenapa kamu nanya kayak gini?"


"Itu loh mom ... Tentang Sakilla."


Annisa menoleh pada suaminya.


"Mommy mau bertemu sama dia atau gimana? karena Bram beneran akan bawa dia ke pihak yang berwajib untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya selama ini. Tapi sebelum itu banyak yang harus di selesaikan. Jadi Bram memilah satu per satu."


"Beneran mau di penjara mas?" tanya Annisa yang sedikit kasihan sama kondisi Sakilla.

__ADS_1


"Iya ... karena itu yang terbaik sayang. Mas nggak mau kalau dia berkeliaran bebas gitu aja setelah menipu banyak orang. Masalahnya nggak cuma satu atau dua orang yang kena imbasnya. Tapi banyak orang."


Annisa mengangguk pelan. Entah hatinya yang terlalu baik atau memang Annisa yang nggak tega. Perempuan itu masih sangat merasa kasihan sama mantan istri dari suami nya itu.


"Ini juga biar kasih efek jera juga sih," lanjut Bram dengan serius. "Maksudnya tuh ... dia harus tau kalau semua yang mau dia lakuin nggak bisa dilakuin segampang itu. Takut nya, nanti ke depannya dia malah begitu lagi dan ngerugiin orang lain."


"Iya sih ..."


"Benar kata Bram ... dia harus dikasih pelajaran. Huh, sebenarnya mom malas sih buat ketemu sama dia lagi. Malas berinteraksi lagi. Agak muak ngebayangin kalau dulu dia baik banget sama kita, tapi sekarang malah sejahat itu."


Bram yang paham sama kekecewaan mommy nya hanya mengangguk pelan.


"Temuin aja mom, pasti ada yang mau mommy ceritakan juga kan? awalnya juga Bram males banget kok ngurus ini. Maksudnya ... makes banget buat ketemu sama Sakilla lagi. Kayak aneh sih. Orang yang mas anggep udah meninggal tapi sekarang malah mas datengin lagi. Tapi balik lagi, mas nggak bisa ngebiarin dia bebas banget. Enak aja ..."


Mommy Chika terkekeh.


"Benar kata kamu ... dan mendingan mom muak ketemu sama dia tapi akhirnya bisa lega. Dari pada emosi ini mom tahan, sampai mom nggak bisa ketemu sama dia. Ya udah, kamu atur aja pertemuan mom sama dia. Toh, kayaknya mom emang agak lama di sini. Iya kan mas?" tanya mom. Chika meminta persetujuan suaminya.


"Iya ..." Daddy Bima menghela napas. "Nitip mommy kamu ya nak. Soalnya daddy sendiri bakalan kembali. Masih ada kerjaan. Tapi mommy kamu nggak mau ikut sama daddy, jadi biar daddy sendiri aja yang nanti pulang."


"Dad," panggil Bram


"Iya?"


"Jangan paksain daddy buat kerja terus dad. Bram udah sanggup kok kalau harus pegang dua perusahaan. Nggak apa-apa kalau Bram bakalan lebih sibuk. Tapi daddy gak usah kerja lagi. Udah waktunya dad istirahat dan nikmatin waktu tua daddy."


"Tuh dengerin anaknya!" kesal mommy Chika. "Nggak usah gila kerja kayak gitu."


Daddy Bima hanya tertawa.


"Daddy nggak tertekan sama sekali buat kerja kok. Kalau nggak kerja yang ada daddy malah pusing. Ini kegiatan yang masih daddy nikmatin. Jadi sampai detik ini biar daddy aja yang urus. Kalau udah nggak sanggup, daddy sendiri yang bakalan bilang sama kamu," final daddy Bima. "Dan kamu, mendingan sering luangin waktu buat jalan bareng sama keluarga kamu. Sebelum nanti belum benar-benar sibuk dan malah nggak bisa bawa ke mana-mana."


Bram menoleh pada Annisa yang dari tadi lalu setuju sendiri sama omongan sang daddy.


"Jangan sampai nanti kamu sibuk dan nggak bisa kasih waktu luang buat mereka. Di sini daddy cuma berpesan kalau sesekali kamu harus kasih waktu buat mereka. Jangan sibuk di kantor sampai lupa sama keluarga. Nggak mau terjadi kejadian yang sama kan?"


Bima mengangguk. Ia langsung berterima kasih pada sang daddy yang sudah menasihatinya itu.


akhirnya perjalanan kembali damai. Mereka sibuk sendiri dan tidak ada yang bersuara.


Sementara,


Semakin mendekati rumah yang ada Annisa semakin keringat dingin. Berulang kali ia menelan saliva dan terus membenarkan posisi duduknya yang terkesan nggak nyaman sama sekali itu.


Ia menarik napas saat mobil sudah melewati gerbang kompleks perumahan mereka dan kini tepat berhenti di depan rumah suaminya itu.

__ADS_1


"Kita sampai!" ucap Bram yang mana langsung membuat jantung Annisa berdegup sangat kencang.


__ADS_2