
Beberapa warga langsung bersorak menyetujui omongan kepala desa. Dua orang di dekat Bram bahkan langsung memegangi lengan Bram. Bram sedikit memberontak. Tapi tangan dua warga tersebut cukup kuat menahannya.
Suasana sangat ricuh bahkan Rama yang sejak tadi sembunyi di balik pintu rumah karena dilarang Bram untuk keluar. Kini berteriak meminta tolong. Merasa ayahnya akan di jahati sama semua orang di sana.
Tubuh kecil Rama menerobos di balik kerumunan para warga dan langsung saja mendorong beberapa orang yang tak sengaja menyenggolnya. Ia memeluk kaki Bram begitu melihat tubuh ayahnya yang semakin ditarik paksa semua orang.
“BERHENTI!” teriak Rama yang sangat kencang. “Jangan bawa ayah aku! Pergi orang-orang jahat. Jangan lukai ayah aku!”
Semua orang itu tak mau mendengar dan salah satu orang malah mendorong Rama hingga terjatuh. Bram yang sejak tadi hanya mendengar suara Rama tanpa melihat wujudnya karena rusuh berusaha mencari anaknya. Tubuhnya di tarik tapi ia tetap melihat kesana-kemari. Hingga ia melihat Rama yang sudah terjatuh dan tanpa pikir panjang Bram mendorong semua orang yang menahannya.
Ia langsung berlari ke Rama yang sudah menangis kencang. Ia membawa anaknya masuk ke gendongan dan mengusap belakang kepala Rama.
“Ssttt ... ada ayah. Jangan nangis lagi.”
“HUA! Mereka jahat ..”
“Berhenti kalian semua!” seru ibu Dini yang datang dengan dua polisi di belakang nya. “Ibu tahu kalau keadaan bakalan rusuh jadi untung saja ibu mikir buat bawa polisi buat jaga di sini.”
Ibu Dini menghampiri Bram dan berdiri di depan laki-laki itu. Seolah menjaga supaya Bram tidak di jahati oleh mereka semua.
“Makasih bu ...”
Ibu Dini hanya mengangguk dan kini beberapa warga udah mundur karena dua polisi kini sudah menjaga dan meminta warga untuk tenang dan tidak menimbulkan kericuhan.
“Pak polisi bagaimana sih ... Kami di sini untuk meminta keadilan. Disini sedang terjadi penipuan dan kami meminta hak kami untuk mendapat uang dari hasil tipuan keluarga mereka. Kenapa malah kami yang di suruh berhenti. Seharusnya pak polisi yang menahan orang itu.”
Beberapa warga langsung berteriak setuju.
Seorang warga menunjuk Bram. “Dia pelakunya pak. Dia saudara dari pelaku penipuan itu dan seharusnya bapak tahan mereka. Bukannya malah suruh kami diam! Kami tidak terima sama sekali.”
Bram mengerang.
__ADS_1
“Jadi bagaimana tuan?” tanya polisi tadi. “Benar kata bu Dini, kalau bapak mau memiliki itikad baik dan mengembalikan semua uang mereka? Bapak tidak akan kembali menipu para warga di sini?”
Bram mengangguk dengan sungguh-sungguh.
“Pak polisi sudah ada di sini kan? Bapak bisa jadi saksi. Bapak yang akan memantau kinerja di sini. Supaya tidak ada lagi yang menganggap saya atau istri saya pembohong. Saya mohon untuk kali ini aja jangan ricuh.”
Bram melirik pada Rama yang masih sesegukan.
“Kalau semua warga di sini nggak ada itikad baik. Jadi, buat apa saya bersikap baik sama kalian? Bahkan kalian sendiri yang membordir saya padahal dari awal. Saya sudah ada niat untuk membayar dan sungguh—“
Ucapan Bram terhenti dan ia mengerang sangat kesal.
“Saya tidak akan terima sama orang yang udah mendorong anak saya! Anak saya tidak tahu apa apa di sini. Jadi, stop untuk menyertakan Rama. Dia hanya kaget melihat ayahnya yang di serang brutal sama kalian. Jadi wajar kalau dia bela. Tapi kalian?”
Bram menggeleng tak terima.
“Kalian malah nggak peduli sama anak sekecil ini dan malah ikut menyalahkan dia. Kalian ini nggak ada hati kah? Apa pikiran kalian sampai tega mendorong anak sekecil Rama.”
Mau tidak mau Bram menurut, ia memilih menenangkan dirinya dan kembali duduk di kursi. Rama masih duduk di pangkuannya dan Ibu Dini duduk di samping mereka. Sekaligus menjaga siapa tahu warga akan tiba-tiba melakukan sesuatu.
“Di sini saya tidak bisa membayar semuanya.”
“Tuh kan ...”
Warga kembali ricuh membuat para polisi kembali menahan mereka. Bahkan kepala desa yang sejak tadi melihat hanya duduk di kursi yang cukup jauh dan tak lama kepala desa tersebut memilih pergi. Karena merasa tidak ada urusan lagi.
Selain itu,
Sedikit takut lantaran ada polisi. Kepala desa takut kalau Bram mengatakan peminjaman yang ia tawarkan kemarin ke Bram. Jadi, ia gak mau mengambil resiko dan memilih untuk pergi sekarang juga.
/Memang dasarannya penipu. Saya tidak terima kalau dibayar sebagaian doang! Saya mau uang utuh! Jangan cuman kasih janji manis kalau kenyataannya kalian semua nggak mampu./
__ADS_1
/Kita nggak akan nerima kalau dibayar sebagian doang!/
/Bayar utuh atau penjara!/
“BERHENTI!” pekik Bram lagi. “Dengarkan saya bicara dulu baru protes. Dasar ...”
Bram beneran udah sangat emosi. Ia memijat keningnya. Kalau bukan karena Annisa, ia enggan untuk mengurus semua ini. Dia akan membiarkan warga mencari mertuanya sampai ketemu dan memenjarakan mertuanya.
Dia tak peduli sama sekali.
Tetapi, sayangnya nama Annisa yang menjadi buruk di mata warga. Jadi mau tidak mau Bram harus menyelesaikan semuanya.
“Saya akan bayar kalian semua tapi tidak sekarang! Melainkan bertahal selama satu minggu ke depan,” ucap Bram serius.
Ia keluarkan kacamata bacanya dan langsung menatap serius map yang kemarin di berikan oleh beberapa kepala desa.
“Saya bisa membayar satu perempat dari semua uang di sini. Tetapi bapak dan ibu tenang aja. Sore ini asisten saya akan datang dan selanjutnya kalian akan diurus sama dia. Karena saya ada urusan penting. Tapi saya janji akan membayar kalian semua dengan baik. Jadi, tidak perlu khawatir sama sekali. Karena nggak akan ada penipuan sama sekali. Saya di sini akan membersihkan semua nama buruk yang kalian ucapkan. Supaya kalian tahu kalau saya dan istri saya itu serius dalam melakukan semua ini.”
“Kenapa tidak sekalian saja? Kami mau secepatnya! Kami nggak mau kalau kamu nanti akan bayar yang pertama aja. Dan selebihnya kamu bakalan pergi gitu aja.”
Bram menggeleng.
Ia mengeluarkan surat perjanjian yang udah di tanda tangani oleh dia. Ia memberikan kepada polisi tersebut.
“Bapak pasti tahu kalau perjanjian ini bukan candaan semata? Jadi kalau saya kabur. Kalian bisa menangkap saya dan memenjarakan saya bukan?”
Polisi itu mengangguk.
“Semua warga di sini, kalian tidak perlu khawatir. Karena sepertinya tuan Bram beneran akan membayar kalian semua. Kalian cukup sabar. Karena di sini kami juga akan memantau semuanya. Jadi, kalian nggak perlu khawatir sama sekali. Tidak akan ada yang kabur.”
Bram mengangguk.
__ADS_1
“Saya janji, kalian cukup jangan ricuh dan saya akan membayar sebagian uang yang ditipu mertua saya dan saya akan membayar dari uang dengan nominal cukup besar yang ditipu sama mertua saya. Jadi silahkan berbaris.”