
Perpisahan beberapa waktu lalu nyatanya menjadi pembelajaran besar bagi Bram. Bram semakin sadar kalau keluarganya sangat berharga dan kebersamaan akan membawa kebahagiaan sendiri dan ia tidak akan pernah menjauhkan kata bahagia itu. Ia akan mencari kebahagiaan sampai titik terendah di hidupnya.
Laki-laki yang jarang merasa emosional itu kini bisa merasakannya hanya dengan melihat Rama dan Annisa yang sama-sama tidak mau melepas pelukan.
Ia tersenyum sangat tipis. Bahagia.
"Semoga selamanya selalu begini. Jangan ada pengganggu lagi ..."
Dengan kerendahan hatinya, Bram memilih meninggalkan mereka berdua. Ia memberikan waktu untuk mereka berdua dan memilih keluar untuk menghubungi asistennya untuk membahas masalah yang baru saja terjadi itu.
"Kalian selesaikan saja lepas rindunya, mas mau ke depan dulu ya," ucap Bram menepuk punggung Annisa.
***
__ADS_1
/Betul tuan ... tuan tenang saja. Semua masalah di sini sudah selesai dan nggak ada lagi hutang yang belum lunas. Semua warga di sini sudah mendapat haknya kembali. Tidak ada yang terlewatkan sama sekali dan seperti yang tuan bilang. Setiap warga diberikan bonus sebagai ucapan permintaan maaf dan terima kasih. Ini baru aja selesai dan sepertinya besok saya akan kembali ke kota untuk mengurus perusahaan tuan./
Bram mendesis.
Bersyukur mendapat asisten yang begitu baik pada dirinya. Ia merasa asistennya selalu ada untuk dirinya. Laki-laki itu berjanji akan memberikan bonus dan waktu luang untuk istirahat setelah semua urusan selesai. Anggap saja sebagai permintaan maaf dan terima kasih karena sudah membantu banyak masalah bahkan di luar kinerja perusahaan nya itu.
"Makasih banyak ... saya tidak perlu cek ini itu lagi. Saya percaya sama kamu. Tapi ada satu hal lagi yang kamu urus. Kamu bersedia?" tanya Bram lalu duduk di kursi jati depan penginapan
/Bersedia tuan. Sudah tugas saya untuk menyelesaikan masalah tuan. Ada apa lagi tuan? apa yang harus saya urus?/
"Kamu cari tau deh, kenapa pihak polisi sedikit santai sama penanganan Sakilla? maksudnya ... saya tahu kalau katanya kondisi Sakilla sedang tidak baik. Tapi seharusnya polisi juga langsung menangkap dia pas tahu Sakilla sudah sehat. Ini sampai detik ini juga belum dapat kabar."
/Wah ... saya tidak menyangka kalau mbak Sakilla bisa seberani itu. Terus apa yang harus saya lakukan? dan saya pasti akan langsung mengubungi polisi untuk menanyakan masalah ini. Tapi saya rasa masalah ini nggak berhenti sampai sini aja. Pasti tuan mau melakukan sesuatu kepada mbak Sakilla kan?/
__ADS_1
Bram terkekeh.
Belasan tahun bekerja sama dirinya membuat Bram tahu kalau asistennya sudah mengenal dirinya begitu jauh.
"Kalau memang masalah ini berhenti sampai di sini, kamu viralkan saja Sakilla. Kamu tahu kan kekuatan media sosial dan netizen itu bagaimana? saya rasa ... ia akan hancur pas beritanya tersebar di luaran sana. Bukan hanya dirinya saja tapi juga seluruh keluarganya."
Pandangan Bram menggelap. Ia mengepalkan tangan.
"Saya nggak akan main-main untuk urusan kali ini. Sakilla sudah bermain terlalu jauh dan tentunya dia lupa sedang mengajak bermain siapa? dia lupa kalau saya paling benci sama orang yang udah mengganggu keluarga saya. Jadi, ya kamu atur lah ... saya yakin kalau kamu pasti bisa dan kalau ada sesuatu langsung saja bilang sama saya."
/Baik tuan .../
Selanjutnya mereka terus berbincang kecil sampai asistennya berpamitan untuk mengurus barangnya karena esok akan pulang.
__ADS_1
Setelah selesai, Bram kembali masuk dan melihat Annisa sama Rama sudah duduk meluruskan kaki di ruang televisi. Ia terkekeh dan bergabung di antara mereka.
"Mas bahagia," ucapnya perlahan. "Mas harap kita bisa selamanya seperti ini."