Istri Dadakan

Istri Dadakan
Renungan Bersama


__ADS_3

Pasangan suami istri itu benar-benar dikejutkan dengan kedatangan seorang perempuan yang menjadi sumber masalah mereka selama ini. Kelihatan kalau pegawai Bram sempat mau menahan Sakilla yang mau mendekat tapi di larang sama Bram.


"Ternyata bener kalau kamu sudah menikah lagi," papar Sakilla sambil terus mendekat. "Bagaimana kabar kamu, mas?" sapanya pelan.


"Kabar?!" histeris Bram lalu tertawa kencang. "Bisa-bisanya lu sempet nanya gitu, di saat lu udah nipu gue bahkan semua keluarga gue. Masih ada muka lu berdiri di sini? ya ampun Sakilla ... saya nggak nyangka kalau kamu ternyata cuma seorang penipu handal yang harusnya di habisi dari awal. Saya nggak akan panjang lebar, saya mau kita resmi untuk cerai dan kamu bisa diam di balik jeruji penjara. Anggap aja bayaran karena kamu udah nipu banyak orang."


"Kamu kok kasar."


Sakilla menunduk ketakutan.


"Maaf mas, aku juga beraniin datang ke sini pas lihat ada kamu dari jauh. Sekarang aku mau minta maaf terus respon kamu kenapa malah begini? kamu dulu nggak begini ..."


"Hahaha ... lu harepin apa dari gue? setelah semua kejahatan yang lu buat ke hidup gue. Lu masih berharap gue masih bisa baik sama lu? mana mungkin, jangan harap sama sekali!"


Sakilla bungkam.


Melihat itu membuat Annisa refleks menarik lengan suami nya yang sudah maju-maju terus. Annisa mengingatkan Bram kalau mereka posisinya masih ada di pemakaman dan nggak baik teriak-teriak kayak tadi.


Bram menghela napas dan menatap marah pada Sakilla.


"Saya nggak mau panjang lebar dan di sini bukan tempat nya saya menghakimi kamu! tapi tunggu besok. Saya dan yang lain akan datang ke rumah kamu dan membicarakan semuanya. Jangan harap lu bisa kabur! Karena sekarang lu ada di bawah pengawasan orang gue."


"Udah kan?" tanya Bram beralih pada Annisa.


Walaupun sedikit tidak rela, karena masih banyak yang mau dibicarakan. Terpaksa Annisa mengangguk. Karena nggak mau membuat suaminya semakin marah lagi. Kasihan Bram yang sepertinya benar-benar sangat emosi.


"Mas," panggil Sakilla yang merampas lengan Bram dan menggenggamnya erat. "Dengarin penjelasan aku dulu. Jangan marah kayak gini. Aku takut. Aku punya alasan buat ngelakuin ini."


"Apa pun alasan yang lu lakuin itu jahat sama gue dan anak kita."


"Anak kita!" seru Sakilla semakin menarik-narik lengan Bram yang sudah merasa risih. "Aku mau ketemu sama dia. Di mana anak kita. Dia pasti rindu sama aku. Kamu jangan jadi orang tua jahat mas dan malah misahin kita. Di mana mas? di mana anak kita."


"Anak kita nggak butuh orang tua penipu kayak lu!"


"Mas hayuk," paksa Annisa menarik lengan suaminya untuk menjauh.


Annisa sedikit merasa nggak enak sama tatapan orang lain kepada mereka. "Kita selesai kan saja besok, jangan marah di sini. Kita dinginin kepala dulu. Jangan di sini, nggak enak. Beneran deh mas."


Bram menarik napas dalam dan mengacak rambut Annisa membuat Sakilla yang melihat hanya bisa diam terpana. Ada perasaan sedih yang menyelinap di dalam hatinya.


"Sudah lah ... kita selesai kan besok dan satu, jangan pernah berharap bertemu sama anak saya. Karena sampai kapan pun dia nggak akan pernah bertemu sama orang tua yang secara nggak langsung udah membuangnya!"


Dengan perasaan tak menentu Sakilla menatap kepergian Bram dan seorang perempuan yang sepertinya nggak asing itu.

__ADS_1


"Mas ...."


Dengan langkah tergesa Bram sama Annisa masuk ke dalam mobil. Belum sempat orang tuanya bertanya, Bram langsung membawa mobil menjauh dari tempat tadi. Orang tua Bram kelihatan bertanya-tanya tapi melihat wajah memerah anak mereka membuat mereka menurut saja akan apa yang dilakuin saka Bram.


Begitu tiba di sebuah hotel, mereka langsung check-in dan memesan satu ruang hotel yang memiliki dua kamar sekali gus. Mereka semua memilih untuk istirahat di kamar masing-masing. Hingga saat beberapa jam kemudian, saat Rama sudah tertidur kembali. Mereka kumpul di ruang tengah.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa tadi mom dengar kamu yang berteriak-teriak. Dan bukannya tadi kamu bilang mau bawa mom sama dad turun dulu buat nemuin makam kakaknya Annisa, tapi kenapa langsung pulang gini dan kamu juga kelihatan marah banget."


Untuk saat ini Bram benar-benar sangat bersyukur.


Pasalnya mobil Bram dipasang sebuah gorden di kaca mobil, itu juga karena titahan dari pengasuh Rama dulu. Karena pas kecil suka terganggu dengan sinar matahari dari luar.


Dan sampai detik ini Bram belum membukanya.


Bram memandang orang tuanya dengan serius.


"Tapi ... Rama nggak ngeliat keluar kan? Mom sama Dad juga nggak keluar atau sekedar ngintip kan?"


Mereka menggeleng. "Sebenarnya ada apa di sini?" tanya daddy Bima dengan sangat serius. "Selama kalian pergi, Rama tuh yang rewel. Kayaknya karena nggak di ajak kalian buat turun dan ya kita cuma fokus sama Rama. Walaupun sempat dengar kamu marah-marah tapi tangisan Rama juga kedengaran kencang. Jadi kami lebih fokus sama Rama."


Annisa menghela napas lega begitu juga Bram.


"Ada apa?" tanya mommy Chika yang tak kunjung mendapat jawaban juga.


"Sebenarnya ... tadi Sakilla tiba-tiba datang. Dia—


Daddy Zidan menaruh majalah dan menatap anaknya dengan serius.


"Benar nak ... kita sudah sejauh ini untuk mencari Sakilla dan dengan gampangnya kamu malah melepas dia?" tanya sang daddy dengan serius. "Kemungkinan besar dia bakalan kabur loh. Apa lagi di sini posisinya dia udah tahu kamu sedang mencarinya. Cepat kita kembali ke sana." Daddy Bima bangkit. "Kita bawa mantan istri kamu itu ke sini dan menyidangnya atas semua kesalahan yang dia lakukan."


"Daddy tenang dulu," titah Bram menarik lengan orang tua nya untuk duduk kembali


"Gimana bisa tenang?" Mommy Chika memegang dadanya dan menepuk kencang.


"..."


"Dia sudah membohongi banyak orang!" kesalnya dengan wajah penuh emosi. "Mom masih ingat ya gimana hancur nya kamu pas di tinggalkan dia! Sampai berbulan-bulan dan kamu sampai meninggalkan semuanya. Anak kamu nggak terurus. Perusahaan kanu terbengkalai hanya karena ini dan sekarang kamu nyuruh mom buat tenang? NGGAK BISA!"


"Bukan begini caranya," papar Bram membuat orang tuanya berdecak dan kembali duduk.


Bram menoleh dan membawa tangan istrinya masuk ke dalam genggaman tangannya.


"Tadi Bram juga emosi kok mom, dad. Tapi tadi lagi ada di makam, nggak etis kalau Bram marah-marah dan Annisa juga mengingatkan mas untuk nggak marah-marah sekarang. Jadi akhirnya mas milih buat pulang dan besok kita ke rumahnya Sakilla untuk membicarakan semuanya."

__ADS_1


"Ke rumahnya perempuan itu?"


Bram mengangguk.


"Mom sama dad nggak perlu khawatir sama sekali, Bram udah nyuruh orang suruhan Bram buat ngikutin Sakilla. Jadi dia nggak akan biss pergi. Kita besok ke sana."


Bram menoleh dan tersenyum tipis melihat istrinya itu.


"Dan setelah Bram pikirin, benar kata Annisa. Lebih baik kita pulang dan mikirin semuanya. Karena kalau emosi pasti kita ngomong asal dan nggak tentu arah. Mendingan sekarang kita mikirin, harus ngelakuin apa besok. Dan hati Bram juga jauh lebih baik di banding tadi yang lagi emosi banget."


Bram menunduk.


"Terus juga ... salah satu alasan Bram nggak mau bawa Sakilla bareng kita. Karena Bram nggak mau dia lihat Rama. Biarlah Rama nggak pernah ketemu sama ibu kandungnya. Rama udah melewati banyak hal dan mumpung Sakilla juga nggak tau rupa Rama dan nama anak Bram. Jadi mendingan Sakilla nggak tau sama sekali."


Annisa berdeham dan menatap suaminya nanar.


"Mas ... kalau akhirnya nanti Rama tau, Rama nggak akan ninggalin aku kan?"


Annisa menunduk.


"Rama kebahagiaan aku. Aku sayang banget sama Rama. Aku takut kalau nanti mbak Sakilla malah kukuh buat ketemu sama anaknya dan akhirnya ngelakuin berbagai cara untuk ketemu sama Rama. Terus gimana kalau nanti mereka ketemu dan Rama malah mau sama ibu kandung nya?" histeris Annisa


Bram langsung menoleh dan memegang baju Annisa yang mulai menangis.


Perempuan itu menggeleng.


"Mau gimana juga posisi mbak Sakilla ada di atas aku. Dia ibu kandungnya Rama dan aku cuma ibu sambungnya aja. Jadi, gimana kalau nanti Rama juga pergi dari hidup aku."


Annisa menutup wajahnya dan mulai menangis.


"Nggak mau, aku nggak mau sama sekali. Aku takut orang yang aku sayang juga pergi dari hidup aku. Aku nggak bisa sama sekali. Aku takut kalau—


"Ssst ... nggak ada yang bakal pergi dari hidup kamu. Ada mas di sini, mas akan selalu ada untuk kamu. Begitu juga Rama. Rama cuma tau kamu dan kenal kamu. Rama cuma tau kalau orang yang sayang samanya itu kamu. Bukan Sakilla yang udah membuangnya."


Annisa menaruh kepalanya di bahu Bram dan masih terisak.


"Nggak akan ada yang pergi ninggalin kamu. Kamu tenang aja, mas juga nggak akan pernah membiarkan Sakilla ketemu sama Rama. Biar orang mau nyebut mas egois. Tapi ini lah mas ... biar lah mas egois untuk kali ini. Itu pun untuk kebahagiaan Rama juga."


Dengan wajah berlinang air mata Sakilla menatap suaminya itu.


"Mas ... kamu juga nggak akan pergi dari hidup aku dan kembali sama mbak Sakilla kan? Mom sama dad juga gak akan pergi ninggalin aku kan. Kalian nggak akan tinggalin aku sendirian kan? Aku udah nggak punya siapa siapa di sini." Annisa menatap mereka satu per satu


Orang yang dituju bukannya marah malah menatap gemas sambil sesekali menggeleng kepala. Merasa lucu melihat Annisa yang seperti ini.

__ADS_1


"Kamu tenang saja nak, nggak akan ada yang pergi. Kami akan selalu ada untuk kamu."


"Begitu juga mas," sambung Bram. "Mas akan selalu ada untuk kamu. Jadi tenang aja ya."


__ADS_2