Istri Dadakan

Istri Dadakan
Marahnya Bram


__ADS_3

Pandangan Bram menajam, ia buru-buru mengeluarkan kartunya dan membayar semua pesanan yang dimaksud. Tak lupa dia juga mendorong troli dengan cepat menghampiri Annisa yang sudah saling menggenggam tangan dengan pria yang tidak di kenalnya itu.


"Apa-apaan ini!" seru Bram langsung menghepaskan lengan mereka berdua. Bram menatap nyalang pada mereka berdua dan menggeram kesal. "Kamu juga Annisa, suami ada di belakang kenapa main peluk-peluk laki-laki lain? kamu nggak mikirin perasaan suami kamu sendiri?" tanya Bram dengan nada suara meninggi


Bram memperhatikan laki-laki itu dari atas sampai bawah dan menarik lengan Annisa. Menyembunyikan tubuh kecil Annisa di belakang tubuhnya. Annisa seolah tidak di beri kesempatan untuk bicara, lagi pula Annisa keburu takut lihat suaminya yang seperti ini.


"Dan lu juga!" Bram menunjuk pria itu yang menatapnya bingung. "Lu tuh harusnya tau kalau Annisa udah punya suami. Harusnya lu bisa jaga jarak, bukannya malah main peluk kayak gitu. Dasar memang sengaja kan lu! cuma mau ambil kesempatan doang!"


Laki-laki itu buru-buru menggeleng.


"Gue bersumpah kalau gua sama sekali nggak tau kalau Annisa udah nikah!" serunya dengan pandangan berusaha meyakinkan. "Lagian ... lu udah nikah?" tanyanya lagi pada Annisa dengan raut wajah tersirat akan kecewa.


Sayang Annisa tidak bisa melihat raut kecewa itu.

__ADS_1


Malahan Bram yang semakin sewot melihat laki-laki itu yang keliatan kecewa karena fakta yang baru ia lontarkan.


"Ngapain nanya lagi sama Annisa? omongan tadi kurang jelas? iya! Annisa sudah menikah dan saya suaminya. Jadi sekarang saya mau meminta kamu untuk jangan dekat dekat lagi sama istri saya! apa-apaan main peluk gitu aja."


"Mas," Annisa menarik ujung baju Bram. "Jangan teriak gitu. Gak enak sama pengunjung yang lain. Aku jelasin, tapi kamu nya jangan emosi begini. Aku takut liat kamu yang emosi."


Bram memalingkan wajah dan menarik napas lalu menghembuskannya kasar.


Ia melakukannya berulang kali sampai merasa jauh lebih baik.


"Jelasin."


Dengan tangan yang menyilang di dada, Bram keliatan jauh lebih menyeramkan bagi Annisa. Ia berulang kali menelan saliva dan berusaha untuk menenangkan diri yang luar biasa lagi gugup.

__ADS_1


"Kenapa pada diam aja?" tanya Bram lagi sambil menatap Annisa dan laki-laki itu dengan bergantian. "Mas butuh penjelasan. Kenapa tadi kamu main meluk dia. Mas nggak mau nyalahin dia doang, karena dengan mata kepala mas. Mas bisa lihat kalau kamu duluan yang meluk dia."


Laki-laki itu merasa gerah dan menatap Bram balik dengan galak.


"Katanya sih suami, tapi nggak bisa lihat istri dari tadi lagi ketakutan. Malah ditanya terus. Bukannya ditenangin."


"Alah ... lu belum nikah, nggak bakal paham sama apa yang gue rasain!" seru Bram. "Dengan mata kepala sendiri, lihat istri meluk laki-laki lain yang bahkan nggak gue kenal dan parahnya lagi istri gue lagi hamil muda! terus gue harus apa. Gue juga punya hati kali ..."


Bram menyampirkan rambutnya dan berkacak pinggang. Menghela napas, jengah sangat menahan rasa kesal melihat sang istri yang malah menunduk.


"Annisa ... kenapa diem aja? mas cuma butuh penjelasan dari kamu doang. Kalau nggak ada apa-apa langsung aja jelasin, bukannya malah diam gini!"


Annisa semakin menekan-nekan lengannya, berusaha menyalurkan rasa takut.

__ADS_1


"Kamunya jangan marah dulu mas," ucap Annisa akhirnya dengan suara pelan. "Aku takut."


__ADS_2