
Mobil mulai berlalu menuju luar kota. Sebenarnya badan Bram sangat lah lelah. Dia belum pernah benar-benar istirahat semenjak kembali dari kampung Annisa.
Bram terus memaksa tubuhnya untuk bekerja mencari keberadaan Annisa. Ia juga tak akan tenang selama belum mendapat kabar tentang Annisa. Selalu ada perasaan bersalah yang menyelimuti dirinya itu. Jadi, tak jarang ia tak memilih untuk tidur.
"Ayah ..."
"Hmm?"
"Kita pasti ketemu sama mamah kan?" tanya Rama lagi
"Pasti dong!" jawabnya semangat. "Kenapa tiba-tiba nanya kayak gini? tadi Sakilla gak ngomong yang macem-macem kan sama kamu? kamu juga gak ngomong apa pun sama dia kan?"
Rama menggeleng, mengelak omongan Bram.
"Aku cuma tiba-tiba kepikiran aja. Tadi tante Sakilla nggak ada ngomong apa-apa kok yah. Ayah tenang aja. Aku takut aja kalau masalah ini ngebuat mamah nggak mau ketemu sama kita lagi. Ayah tahu sendiri kan kita udah buat mamah sedih. Ditambah sampai sekarang, kita belum dapet kabar sama sekali dari mamah."
Sempat tersirat rasa ketakutan di hati Bram. Tapi laki-laki itu mengusap rambut sang anak dan tersenyum tipis.
"Kamu tenang aja, ayah yakin kalau nanti mamah kamu bakalan kembali. Kamu nggak usah khawatir sama sekali. Sekarang tuh ... mamah Annisa cuma butuh waktu sendiri aja. Selebihnya nanti kalau mamah Annisa udah paham, nanti dia bakal pulang. Kalau pun enggak, kita sendiri yang bakalan jemput mamah kamu. Ayah yakin!"
Rama ikut tersenyum tipis dan mengangguk.
"Semoga aja ya yah."
***
__ADS_1
Mobil melaju dengan kecepatan di atas rata-rata. Jarak yang seharusnya ditempuh cukup jauh, kini terasa sangat cepat. Ini seperti dejavu. Jika dulu Bram datang bersama Annisa. Tapi kini, ia kembali ke tempat yang sama tanpa perempuan itu.
Dia menarik rem mobil seiring dengan helaan napas dalam.
"Tinggalkan saja di sini kali ya?" tanya Bram sambil melirik ke arah Rama yang tertidur pulas di kursinya.
"Aish, tapi yang ada anak itu ngamuk," papar Bram lagi. Membuat ia turun dari mobil dan membuka pintu kursi Rama. Ia melepaskan seatbelt yang terpasang dan langsung menggendongnya. Rama sempat meronta kecil sebelum dengkuran halus kembali terdengar.
"Ssst ... udah tidur aja," bisik Bram sambil mengusap kepala Rama dan untung saja anak itu kembali tenang di balik tidurnya.
Bram mengunci mobil dan menyebrang. Ia juga membeli bunga untuk menabur di makam Namira. Ia menelusuri jalan setapak yang sangat ia kenali dan ia berakhir berlutut di samping makam Namira.
"Assalamu'alaikum kakak ipar."
Ia menarik napas dalam. "Aku kembali datang, tapi nggak sama adik kakak. Maafkan aku ya kak Namira karena udah buat adik kakak kecewa karena semua tingkah aku."
Setelah puas menumpahkan semua kesedihan, Bram kembali ke arah depan dan mendatangi satpam yang menjaga TPU ini.
"Permisi pak ... saya boleh tanya sesuatu?"
"Eh iya nak, ada apa?" jawabnya ramah.
Bram menoleh ke makam yang baru saja ia datangi itu. "Maaf sebelumnya pak, bapak tadi melihat ke makam yang saya datangi kan?" tanya Bram memastikan dan anggukan dari satpam tersebut membuat Bram cukup lega. "Nah ... beberapa hari sebelumnya bapak pernah lihat ada wanita muda, wajahnya ayu, kulitnya putih, datang kesini tidak?"
Satpam itu memiringkan kepalanya. Berusaha mengingat ke beberapa waktu silam.
__ADS_1
"Pokoknya perempuan mana pun ada yang pernah datang nggak?" tanya Bram lagi. "Ada yang pernah datang ke makam itu nggak pak sebelum saya?"
Satpam itu menggebrak meja dalam pos membuat Rama sampai tersentak di balik tidurnya tapi Bram sigap menenangkan dan anaknya kembali tidur dengan tenang.
"Ah iya Pak ... beberapa hari lalu? hmm, mungkin cukup lama. Ada yang datang. Tapi nggak sendirian. Ada satu orang perempuan dan dua orang dewasa? mungkin orang tuanya? saya juga kurang tahu. Tapi memang lebih tua dari perempuan itu datang kesini."
Pikiran Bram langsung berkelana.
"Maksud bapak?"
"Iya ... ada tiga orang yang datang ke sana dan muka perempuan paling muda itu sedikit memerah. Kayaknya sehabis menangis? Juga ... saya jelas ingat soalnya mereka datang ke pos juga sambil kasih makanan gitu. Jadi, saya masih ingat dengan jelas!"
Bram buru-buru mengeluarkan ponselnya. Walau sedikit kesusahan karena keberadaan Rama di gendongannya.
Dengan satu lengannya ia menggulir ponsel untuk mencari foto Annisa dan setelah ketemu ia menunjukan ke satpam tersebut.
"Nah! ini benar nak. Saya ingat dengan jelas. Memang dia."
Jantung Bram seketika berdegup kencang. Ia menelan saliva, tak bisa menutupi wajah excited nya. "Kalau gitu, dia kelihatan sehat kan pak? atau wajahnya gimana? dia baik-baik aja kan?"
Satpam tadi yang awalnya ikut tersenyum lebar kini mulai menatap curiga pada Bram.
"Kamu siapanya?" tanya satpam tadi dengan serius. "Kamu mau nanya-nanya tentang perempuan itu? kamu punya niat buruk sama perempuan itu?"
Bram buru-buru menggeleng.
__ADS_1
"Bukan seperti itu pak. Saya suami dari perempuan tadi. Tapi karena kesalahan kecil, istri saya pergi dari rumah dan belum kembali. Maka dari itu saya sedang datangin ke tempat yang kemungkinan besar pernah dikunjungi sama istri saya dan ini salah satunya."
Satpam itu mengangguk. "Beneran?"