
Tepat hari ini, oma Chika akan pulang. Bukan karena enggan menyelesaikan masalah yang sangat rumit ini. Tapi oma Chika akan berbicara dengan suaminya tentang fakta ini. Walau bisa lewat telepon, oma Chika akan lebih menyukai berbicara langsung dengan suaminya itu biar sang suami bisa langsung mengirim orang untuk membantu Bram dalam pencarian ini.
Namun ... sebelum benar-benar kembali,
Oma Chika memilih mengumpulkan anak dan menantunya di saat Rama sudah tertidur. Dengan tegas. Oma ceritakan semua yang terjadi tentang pembicaraan mereka sampai tentang pembullyan yang di terima sama cucunya itu. Oma Chika menggeram marah sambil menatap Bram.
“Kamu tuh bisa nggak sih jadi seorang ayah? Kenapa kamu nggak tegas banget? Harusnya kalau kamu menyanggupi permintaan mom sama dad waktu itu, kamu bisa menjaga Rama dengan baik. Bukannya malah kecolongan kayak gini. Ya ampun Bram ... pembullyan bukan hal kecil dan anak kamu masih terlalu kecil dalam menerima itu semua.”
Bram menunduk.
“Dari awal mommy selalu nanya sama kamu, kamu sanggup nggak merawat Rama. Karena kalau kamu nggak sanggup biar mom sama dad yang rawat dia. Tapi apa? kamu sampai memohon ke kami dan menyanggupi semuanya. Tapi apa ini? bahkan kamu nggak mengetahui kalau anak kamu di bully? Kamu nggak bisa menjadi ayah yang baik untuk dia.”
Bram menunduk,
Sangat bersalah, selama ini selalu mengabaikan anaknya dan Bram juga sadar kalau dirinya belum bisa menempatkan diri menjadi ayah yang baik. Baru ... semenjak ada Annisa, dirinya bisa lebih baik. Jauh sebelum itu, dia belum merasakan menjadi seorang ayah yang baik untuk anaknya.
"Kamu tuh ... ya ampun, satu masalah saja belum selesai. Sekarang kamu udah melukai anak kamu lagi. Kalau kamu memang marah sama Sakilla dan kecewa sama perbuatan mantan istri kamu itu. Kamu harusnya nggak lampiasin sama anak kamu. Dia nggak tahu apa-apa. Apa lagi kesal sama Annisa. Karena dia nggak ada kaitannya sama sekali dengan masalah ini."
Bram menunduk.
"Dan ... untuk Sakilla. Kamu memang secara nggak langsung udah cerai sama istri kamu itu. Karena kamu nggak pernah menafkahi nya sama sekali. Tapi mommy harap di sini kamu urus surat perceraian kamu itu sama Sakilla. Biar saat kita bisa menemuinya, kamu langsung suruh dia tanda tangan surat cerai kalian ..."
Bram mulai menatap mommy nya.
__ADS_1
"Karena ... mommy nggak mau kalah nanti Sakilla balik lagi kamu malah mengurus mereka lebih dulu. Mommy nggak akan pernah terima kalau kamu itu kembali juga sama dia. Perempuan yang udah buat anak mommy sampai seperti ini. Dan ... mommy juga berharap kalau setelah dia ketemu. Kamu nggak boleh berinteraksi sama sekali dengan dia."
"..."
"Pokoknya tanamkan ke diri kamu, kalau sekarang itu kamu sudah punya Annisa dan Rama. Sampai kapan pun itu keluarga yang harus kamu jaga. Bukan orang lain. Mommy rasa, kamu nggak perlu di ajarin sama sekali. Karena kamu juga pasti paham sama maksud mommy ..."
Bram melirik pada Annisa, tangannya menjangkau lengan perempuan itu. Membuat Annisa menoleh dan membalas senyuman tipis suaminya itu.
"Mommy tenang aja, nggak ada yang perlu di khawatirkan, untuk yang satu ini. Karena sampai kapan pun itu, Bram udah paham. Kalau sekarang semuanya udah berbeda dan Bram nggak akan melupakan fakta. Kalau Annisa yang mau merelakan waktu untuk merawat anak Bram sendiri. Dari pada ibu kandungnya sendiri."
"Bagus ... mulai sekarang kalian nggak perlu khawatir. Mom akan mulai bilang ke daddy kalian dan mommy rasa. Kalau daddy udah turun tangan. Pasti masalahnya cepat selesai. Jadi, kalian nggak perlu lagi mikirin hal ini."
Annisa mengangguk.
"His! malah kami yang harusnya bersyukur sama kamu. Karena adanya kamu di sini, kami jadi tahu kalau ternyata ada rahasia besar yang tidak kami ketahui sama sekali dan sudah seharusnya kami mengetahui hal ini. Toh ... sepandai nya tupai melompat, pasti akan jatuh juga bukan? jadi menurut mommy, ini memang udah waktunya kelakuan Sakilla terbongkar."
Annisa menunduk, teringat kakaknya lagi.
Bram yang sadar akan kesedihan istrinya langsung saja menggapai tangan perempuan itu dan kembali mengusap lembut. Berusaha memberi ketenangan.
"Di sini mommy cuman mau bilang, kalau memang nanti mereka kembali. Kalian harus tegas. Karena bukan cuman mommy, Bram atau Rama saja yang di ragukan. Tapi kamu juga Annisa. Dari cerita kamu, kami jadi tahu kalau di sini yang membuat kakak kamu itu berubah ya Sakilla."
"Mom ..."
__ADS_1
Mommy Chika melirik anaknya dengan sangat sinis sambil menggeleng. "Kamu juga ... jangan macam-macam karena di sini Sakilla memang salah. Walaupun kamu punya masa lalu sama dia. Kamu nggak berhak bela dia sama sekali dan mommy juga bakalan melarang keras kamu untuk bela dia di saat dia sudah buat kamu hancur."
Mommy Chika menghela napas kasar.
"Mommy masih ingat ya, bagaimana hancurnya kamu karena masalah ini dan mommy juga masih ingat butuh waktu beberapa bulan untuk kamu bangkit. Saat itu ... kamu seperti orang yang nggak di urus. Sangat kurus! Kamu cuma melamun saja. Benar-benar seperti mayat hidup. Dan mom nggak mau hal ini sampai terulang lagi."
Mendengar penuturan itu membuat Annisa menatap terkejut dan tersenyum tipis.
Perempuan itu jadi sadar kalau suaminya memang sangat mencintai mantan istrinya itu. Sangat dalam. Annisa jadi berpikir. Apa dia memiliki hak untuk berada di sisi suaminya? Apa dia berhak mendapat cinta suaminya di saat suaminya sudah memberikan begitu banyak cinta untuk perempuan lain?
Ah ... ini bukan waktu yang tepat untuk mikirin itu semua.
Annisa kembali menatap ke depan dan melihat mertuanya sudah berdiri.
"Mom nggak mau panjang lebar, karena sudah waktunya mommy pulang. Mommy ngumpulin kalian, cuman ingin kalian tahu kalau di sini mommy serius. Jaga Rama dengan baik. Anak itu punya hati yang lemah. Kalian harus jaga dengan baik dan nasihat mommy untuk. kalian. Jaga terus hubungan kalian dengan baik ..."
Mommy Chika tersenyum tipis.
"Awal pernikahan kalian memang sedikit membingungkan, tapi untuk ke depannya kalian harus kasih tahu ke semua orang berapa mesranya kalian. Mau bagaimana pun, ini lah yang namanya takdir dan sampai kapan pun itu kalian nggak bisa menentang takdir sama sekali."
"..."
"Bahagia terus ya kalian berdua. Semoga jalan hidup kalian akan terus panjang dan selamanya akan terus bersama, sampai maut memisahkan."
__ADS_1