Istri Dadakan

Istri Dadakan
Rutinitas


__ADS_3

“Ehm ...”


Dengan pelan Bram melepas pelukan di antara mereka berdua. Suasana canggung menyergap dan mereka nggak sanggup untuk saling menatap satu sama lain. Keduanya sibuk dengan perasaan masing-masing. sampai,


“Maaf ...”


Annisa menunduk, nggak berani menjawab sama sekali. Annisa berusaha menetralkan perasaan dia. Ia masih terkejut dan nggak paham apa yang terjadi. Ia menunduk sampai tangan perempuan itu di genggam sama Bram.


“Saya beneran serius Annisa, kamu nggak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi. Anggap aja kecupan tadi sebagai pertanda kalau saya beneran serius sama kamu. Tentang keluarga saya. Mereka tinggal di luar negeri dan memang nggak pernah peduli sama hidup saya. Itu salah satu alasan makanya saya belum menemui kalian. Dan ... kalau memang kamu mau bertemu sama mereka. Saya bakalan mencari waktu yang tepat untuk mengajak kamu ke luar negeri.”


Annisa menelan saliva. Benar-benar terasa sangat tercekat.


“Saya beneran serius sama kamu. Kamu harus percaya sama saya. Saya mohon. Kita mulai semuanya dari awal ya. Atau ... apa yang harus saya lakukan biar kamu bisa percaya sama saya? Saya bakal lakuin apa aja yang kamu mau.”


“Tolong temuin aku sama kakak aku,” ucap Annisa pada akhirnya. “Dan aku mau denger kamu yang menalak sendiri istri kamu.”


“Hanya itu saja?” tanya Bram. “Apa lagi? Saya akan lakukan semuanya untuk kamu.”


Annisa menggeleng. “Nggak ada yang lagi aku inginkan. Hanya itu. Aku harap kamu bisa janji sama ucapan kamu sendiri mas. Jangan buat aku percaya kalau semua laki-laki itu sama saja. aku harap kamu bisa setuju. Aku bakalan percaya sama kamu kalau ini memang kamu lakuin.”


Bram mengangguk.


“Janji ... saya janji akan mendatangi kakak kamu ke hadapan kamu. Saya juga akan menalak Sakilla seperti yang kamu mau. Tapi, tolong percaya kalau saya serius sama kamu dan nggak pernah mau main main sama sekali. Kamu percaya kan?”


“Aku bakal berusaha buat percaya.”


“Ya sudah ... saya hanya mau kamu percaya kalau saya beneran di sini untuk kamu. Jadi sekarang kita istirahat saja ya dan jangan lupa untuk besok, saya mau makan masakan kamu. Jadi, jangan lupa masak banyakan ya.”


Annisa tersenyum simpul dan mengangguk.


Mereka bangkit dan Bram mengantarkan Annisa terlebih dahulu ke kamarnya. Annisa yang masih belum terbiasa sama semua ini hanya tersenyum canggung dan mengucapkan terima kaish. Perempuan itu baru bisa bernapas lega setelah pintu kamarnya sudah tertutup. Annisa mengerjap dan memeluk tubuhnya sambil memekik dengan suara tertahan.


“Ih ... apaan sih, gemes banget.”


Annisa berlari ke tempat tidurnya dan memukul kasur seiring dengan pekikkan yang terus keluar. “Nggak ... ini bukan mimpi kan? Ya ampun kalau ini mimpi, jangan pernah bangunkan aku. Aku beneran seneng banget ngeliat mas Bram yang kayak gini.”


“Tapi ini beneran kan?” tanya Annisa sambil duduk di atas kasur dan menatap bingung. “Aneh sih karena kemarin aja mas Bram masih biasa dan nggak ada omongan mau berubah. Tapi ini kenapa tiba-tiba ya ngomong kayak gini?”


Annisa teringat sesuatu dan turun dari kasur. Ia menghampiri meja rias dan duduk di sana. Di pandangnya pipi dia yang sudah ditutupi kapas untuk menutupi lukanya. Dengan hati-hati Annisa menyentuh pipinya dan tersenyum lagi. Teringat lagi saat wajah Bram yang begitu terasa dekat saat mengobati pipinya.


Tadi ...


Annisa bisa melihat ketampanan suaminya itu. Walau cuman memakai baju kaos polo, tapi aura tegas suaminya nggak ada yang bisa nandingin sama sekali. Mengingat itu membuat Annisa kembali heboh.


"Di umur aku yang sekarang, ini pertama kalinya ya ampun," papar Annisa dengan semangat. "Aku nggak pernah kayak gini dan rasanya bener-bener seneng banget. Nggak bisa .. aku beneran seneng banget."


"Duh," seru Annisa sambil menyentuh dadanya yang masih berdegup kencang. "Berhenti dong, jangan berdegup terus kayak gini. Malu ... jangan terlalu berharap juga Annisa!" ingat Annisa pada dirinya sendiri. "Takutnya ini cuman omongan semata doang dan nantinya bisa berubah."


"Tapi ... apa yang harus aku percayai?"


Annisa menghela napas kasar dan kembali beranjak lalu menghampiri kasurnya. Ia tiduran di sana seraya memandang ke arah langit-langit kamar.


"Aku tadi cuman asal ngomong aja. Aku beneran nggak paham sama apa yang baru banget terjadi. Aku takut di kecewain. Aku takut nanti berharap banget dan berakhir di kecewain. Kalau aku udah cinta banget, pasti sakit hati kan kalau di kecewain sama yang lain?"


Perempuan itu menghela napas kasar.


"Apa yang harus aku lakukan ..."


"Juga ... kalau nanti mas Bram berhasil datengin kak Nami ke sini. Apa yang harus aku lakuin? apa yang bisa aku bilang ke kak Nami? aku beneran nggak tahu harus bereaksi apa."

__ADS_1


Semua kebingungan itu membuat Annisa jadi pusing sendiri.


Tubuhnya tiduran menyamping. "Tapi .. hari ini aku beneran bahagia banget," paparnya pelan sambil menarik napas dalam.


Banyak hal terjadi hari ini. Dari menangis, sesak sampai bahagia. Sampai Annisa masih nggak paham harus bereaksi seperti apa.


Ada senyum tipis yang terulas sebelum akhirnya kedua kelopak mata itu tertutup sempurna. Diiringi suara hening yang mengiringi malam itu, perempuan yang baru saja merasakan degupan pertamanya. Perlahan mulai untuk memejamkan matanya.


***


Entah kenapa pagi ini Annisa terbangun dengan sangat segar. Kalau setiap malam, biasanya dia terbangun sekedar ke kamar mandi, ke dapur untuk minum atau cek Rama di kamarnya. Tapi kali ini dia benar-benar terlelap dari malam sampai pagi.


Bahkan sejak tadi Annisa hanya tersenyum tipis saja dalam melakukan aktivitasnya.


"Mbak kelihatan bahagia banget," ucap salah satu pegawai saat Annisa sedang memakai apron pink miliknya itu.


Annisa berbalik dan tertawa kecil.


"Memang kelihatan banget ya teh?" seru Annisa sambil menutup wajahnya yang langsung memerah.


"Banget mbak ... aura mbak memang biasanya cerah dan selalu keliatan bahagia sih. Tapi, kali ini double double gitu deh bahagia nya. Jadi, kayak yang wah banget. Pokoknya kayak ada sesuatu gitu."


"Hahaha ... kamu bener. Ada sesuatu yang buat aku bahagia. Makasih loh karena kamu udah merhatiin aku sampai sadar sama kebahagiaan aku."


"Teteh yang lihat nya ikut bahagia," ucap pelayan itu dengan tiba-tiba. "Pokoknya mbak harus terus bahagia kayak gini ya. Jangan pernah sedih. Karena setelah mbak ada di rumah ini. Ini baru seperti rumah yang sebenarnya."


Annisa yang sedang memotong langsung menoleh dan menatap bingung.


"Maksud kamu?" tanya Annisa.


"Iya ... dulu tuh rumah ini kayak muram. Tuan Bram cuman pulang pas malam. Ya sedikit jarang kelihatan di rumah ini. Padahal rumah ini pondasinya ada di tuan Bram. Den Rama juga sering kesepian. Tapi walau gitu den Rama selalu tegar. Pokoknya benar-benar sepi deh. Kami aja yang kerja jadi ngerasa kasihan sama den Rama."


"Mbak nggak apa-apa kalau aku cerita tentang nona Sakilla? mau gimana pun, mbak kan istri dari tuan Bram. Jadi, saya takut salah bicara dan malah buat mbak jadi sedih loh."


Annisa tertawa sambil menggeleng.


"Ceritakan saja, saya mau tahu apa yang terjadi. Bagaimana sikap mas Bram yang pasti berubah setelah mbak Sakilla pergi dari dunia ini."


"Tuan Bram benar-benar memusatkan dunianya untuk mbak Sakilla. Makanya pas nona Sakilla tiada, tuan Bram juga ikut hancur. Dari tingkah kocaknya, candaannya, tawanya, semua itu benar-benar lenyap. Sampai semua pekerja di sini itu malah merasa kalau tuan Bram itu orang yang berbeda. Kami bingung harus apa. Di sisi lain, kami nggak bisa abai gitu aja karena ada anak bayi yang harus kita rawat."


"..."


"Tuan Bram sedikit kembali seperti dulu itu semenjak mbak Annisa ada di sini. Walau awalnya kita dibuat bingung. Yaa karena kami nggak ada yang tahu kapan tuan Bram menikah tapi kita nggak peduli. Melihat tuan Bram yang memulai aktivitas kayak dulu lagi benar-benar membuat kami lega. Apa lagi saat mengetahui kalau tuan Bram mulai perhatian sama den Rama. Kami bener-bener ikut bahagia banget."


"Memangnya sesusah itu ya mas Bram perhatian sama Rama?" bingung Annisa mulai memasak lagi seraya terus mendengar ceritanya.


"Banget mbak ... bener-bener tuan Bram cuman luangin waktu libur kalau mereka mau ke makam doang dan ya setelahnya tuan Bram nggak pernah tuh ngebiarin den Rama keluar. Semua kebutuhan den Rama cuman teteh penjaga nya aja yang jaga."


"Tapi, kenapa sekarang aku nggak pernah lihat pengasuh Rama?" bingung Annisa. "Kalau pergi les juga, palingan di jaga sama ibu yang biasanya kerja di rumah juga kan? gak ada tuh yang mengasuh Rama."


"Sebelumnya ada kok ... mungkin karena udah ada mbak Annisa. Makanya dia nggak kerja lagi. Saya juga kurang tau, pokoknya setelah mbak Annisa tinggal di sini. Mbak nya nggak pernah ada di sini lagi."


Annisa mengangguk.


"Ah ... makasih banyak karena udah jelasin dan jawabin beberapa pertanyaan yang selama ini ganggu aku. Sekali lagi aku mau makasih karena kamu udah super baik banget untuk jelasin semuanya. Sekarang kamu silahkan kerja yang lain aja. Biar sisanya aku yang masak aja."


"Hahaha sama-sama mbak. Makasih juga ya karena udah bawa perubahan di sini. Saya pamit dulu."


setelah kepergian perempuan itu, Annisa termenung tapi tangannya terus menumis sosis asam manis yang akan menjadi lauk sarapan mereka. Annisa menarik napas dalam dan berseru bingung.

__ADS_1


"Sebenarnya ... pengaruh mbak Sakilla benar-benar kuat untuk mas Bram ya. Gimana kalau nanti mas Bram kepincut lagi sama mbak Sakilla dan mbak Sakilla juga akhirnya memilih mas Bram? terus aku ... aku harus pergi gitu?"


Annisa berdecak kecil.


"Masalahnya ... kenapa aku kekeuh supaya mas Bram nemuin kak Nami sih? yang artinya kalau ada kak Nami. Artinya pasti mas Bram juga ketemu sama mbak Sakilla."


"Runyam sudah .."


Annisa menggeleng dan mengibaskan tangan di udara. "Udah lah ... nggak mau di pikirin lagi. Yang ada malahan bikin capek sekaligus pusing sendiri. Sekarang mendingan aku bangunin mereka."


Annisa melirik pada jam dinding yang ada di ruang tamu dan mengerutkan kening. "Tumben udah jam segini, tapi belum ada yang turun."


Akhirnya Annisa semakin bergegas menuang masakannya ke atas piring dan menyusunnya di meja makan. Setelah itu dia langsung naik ke lantai dua untuk membangunkan dua laki-laki nya.


***


Annisa mengetuk pelan pintu kamar Rama sebelum membukanya. Ia menyalakan lampu dan tersenyum tipis. Di sana Rama masih tertidur. Ia menghampiri tempat tidur Rama dan duduk di pinggirannya. Annisa mengusap pipi Rama membuat tidur anak itu terganggu. Hawa dingin dari tangan Annisa membuat Rama langsung mengerang masih dengan mata terpejam.


"Hayo bangun ... anak mamah harus bangun."


"Hoah ... lima menit lagi mamah. Aku masih ngantuk banget."


"Loh ... loh ..." Annisa memainkan jarinya di perut Rama membuat anak itu terkikik, menahan geli. "Kayaknya ada lupa kalau hari ini di tempat lesnya ada pelajaran renang. Bukannya kamu paling suka kalau udah renang. Kalau kamu telat bangun, artinya kamu telat datang sekolah dan akhirnya nggak masuk. Yah ... nanti ketinggalan loh mata pelajaran renangnya."


Mendengar itu Rama langsung bangun duduk membuat Annisa tertawa lagi. Ia berhasil membangunkan anak itu.


"Nah ... karena sudah bangun, kamu mandi sana. Biar mamah siapin semua tas kamu. Pasti kamu kemaren belum siapin kan?"


Rama mengerjap dan menggeleng.


"Ih aku lupa," rengeknya sambil menggeleng kecil. "Biasanya pas malem kita berdua suka siapin barangnya. Tapi kemaren lupa soalnya ayah nggak ingetin. Mamah nggak apa-apa kalau nyiapin barang aku?"


"Ya ... nggak apa-apa dong? memangnya kenapa? sudah kamu mandi dulu. Handuk sama baju olahraganya udah ada di kamar mandi. Buat hari ini kamu mau pakai baju renang yang warna apa? biar mamah siapkan."


"Yang warna biru aja ..."


"Okei."


Setelah pintu kamar mandi tertutup Annisa langsung merapihkan tempat tidur Rama. Tak lupa dia juga segera menyiapkan barang untuk les Rama.


***


Pintu kamar mandi terbuka dan Annisa menghirup aroma sabun dari tubuh sang anak. Tanpa pikir panjang langsung saja Annisa mengenakan minyak angin, bedak dan lainnya ke tubuh Rama. Setelah siap dia mengacungkan jempol.


"Cukup ... anak mamah udah tampan sekali. Sekarang kamu bangunin ayah kamu ya."


"Ih tapi sama mamah," rengek Rama sambil memegang tangan Annisa.


"Mamah mau hangatin makanan dulu ya. Kamu sendiri aja. Nggak apa-apa kan?"


Rama menggeleng dan cemberut. "Nggak mau .. ini pertama kali aku bangunin ayah. Jadi, aku takut ayah marah."


Annisa menarik napas dalam dan akhirnya mengangguk. "Bunda temenin, tapi cuma liatin kamu aja. Kamu sendiri yang bangunin ayah. Belajar berani ya nak."


Dengan langkah riang Rama mengangguk dan mengikuti Annisa keluar dari kamar. Begitu di luar ia langsung buka pintu kamar Bram setelah mengetuknya.


Rama sempat menoleh pada dirinya dan Annisa mengangguk.


Hingga akhirnya Rama berlari dan langsung meloncat ke atas tubuh Bram, Annisa memekik. Tapi melihat Bram yang bangun dan menatap Rama sambil tersenyum membuatnya langsung urung.

__ADS_1


Bahagianya ...


__ADS_2