
"Mas ... aku perhatian, di sini nggak cuman Rama doang yang berubah. Karena dia masih nggak mau cerita gitu sampai sekarang. Aku yang mau nanya sama kamu. Karena di sini kayaknya kamu tahu sesuatu tentang Rama. Jadi aku mau nanya ..."
Tubuh menegang Bram membuat Annisa semakin yakin kalau ada sesuatu yang terjadi di sana.
"Apa yang udah terjadi sama kalian? Kamu udah dewasa kan mas? Kamu juga nggak akan diem aja kayak Rama kan? Cerita mas ... biar aku nggak bingung. Karena di sini tuh mommy kamu juga yang terkena akibatnya. Mommy kamu tuh sedikit risih karena suasana canggung."
"..."
Annisa menghela napas pasrah.
Kegiatannya yang sedang merapihkan kamar Bram jadi terhenti. Karena emosinya sedikit tersulut karena masalah ini. Belum selesai masalah ibunya itu, karena Annisa sedikit bingung saat ibunya tidak menelpon dirinya lagi untuk minta uang.
Dan ... yang Annisa tahu, ibunya nggak akan pernah selesai meminta jika keinginannya belum terpenuhi. Tapi, kalau diam gini. Yang ada dirinya merasa ada sesuatu yang nggak benar sedang terjadi dan dirinya benar-benar nggak tahu apa yang harus di lakukan untuk saat ini.
Tapi, sudah lah ... masalah ini jauh lebih penting.
Annisa kembali menatap suaminya.
"Mas ... tolong cerita, jangan diam aja kayak gini. Aku juga sama pusingnya kayak kamu. Aku juga nggak tahu harus apa karena kalian berdua diam saja."
__ADS_1
Relung hati perempuan itu terasa sangat sakit sebenarnya. Di saat dia masih nggak paham harus melakukan apa. Tapi Rama sama Bram sama-sama menyembunyikan semuanya dari dirinya.
Annisa ... merasa dirinya nggak di hargai sama mereka.
"Mas," panggil Annisa membuat Bram akhirnya mengalihkan pandangan dari laptopnya.
"Mas tahu nggak sih kalau aku bingung. Aku beneran bingung. Aku nggak tahu apa yang terjadi di sini. Kalian berdua sama-sama mendiamkan aku. Kalau aku salah dikit, kalian langsung marah. Kalian marah terus sampai nggak mikir perasaan aku ..."
Annisa memutar matanya, berusaha menahan air mata yang terus memaksa turun.
"Mas tahu kan ini semuanya menjadi pertama kali aku rasain. Aku masih belajar banyak hal dan di saat aku harus belajar banyak hal. Kalian malah kayak gini dan secara gak langsung diemin aku. Aku nggak paham, mas ..."
"..."
Rasanya Annisa sangat frustasi melihat suaminya yang hanya diam saja. Ia sangat tidak suka dengan posisinya yang sekarang. Mau melakukan apa pun jadi canggung dan dirinya benar-benar nggak tahu harus apa.
Rasanya mau melakukan sesuatu pun, takut salah di mata mereka semua. Karena mereka sama sekali nggak kasih dia kesempatan untuk berbicara.
Ia dijutekin.
__ADS_1
Ia didiamkan.
Ia disinisin.
Di saat Annisa nggak tahu dirinya salah apa sama mereka. Kalau memang dirinya salah, ia akan minta maaf bahkan bersujud di kaki mereka. Tapi ... masalahnya dia tuh gak tau apa yang dirinya udah perbuat. Kalau pun seorang masih mending. Ini mereka berdua yang langsung kayak gini. Apa nggak pusing dirinya?
Annisa menarik napas dalam dan menatap kecewa pada suaminya itu.
"Nyatanya ... mungkin aku memang nggak ada hak untuk tahu apa yang terjadi di sini. Jadi, silahkan kalian berdua kalau mau selesaiin masalah sendiri tanpa libatin aku sama sekali. Tapi, nggak usah jadi sinisin aku. Padahal aku nggak tahu apa yang terjadi."
Annisa menjatuhkan buku yang sudah dia susun ke atas meja, menimbulkan bunyi dentuman yang cukup kencang. Baru Annisa bakal melangkah pergi. Tangannya di tahan dari belakang, membuat perempuan itu menarik napas dalam dan memejamkan mata.
"Maaf .."
"Aku nggak butuh maaf kamu, mas. Yang aku butuh penjelasan dari kamu. Aku butuh tahu apa yang terjadi di sini. Biar aku nggak planga plongo karena nggak paham sama apa yang terjadi di sini!"
Dan detik itu juga tubuh perempuan itu ditarik dan dipeluk sangat erat sama Bram.
"Jangan marah, mas minta maaf ..." jujurnya dengan suara lirih. "Dan ... mas udah ngelakuin kesalahan yang sangat besar. Mas harus apa?"
__ADS_1