
Pagi sekali, Bram sudah siap dengan pakaian rapihnya. Ia dan Rama bahkan sudah sarapan untuk mengisi perut mereka. Mereka sarapan dengan nasi uduk yang lewat di pagi hari.
Jam sepuluh nanti, Bram akan berkumpul dengan seluruh warga di rumahnya ini. Tapi baru jam delapan pagi. Rama sama Bram sudah berada di dalam mobil. Bram ingin ke pusat kota yang lumayan jauh dari sini. Ia ingin mengambil uang untuk membayar para warga yang udah pada berisik itu.
"Ayah ... kita mau ketemu sama mamah?" tanya Rama sambil mengusap rambutnya yang basah.
Bram mengambil handuk di genggaman Rama dan membantu mengeringkan rambut basah Rama. "Enggak nak," jawabnya. "Ayah belum bisa ajak kamu buat ketemu sama mamah Annisa. Ayah harus selesaikan masalah di sini dulu. Baru kita bakalan cari mamah kamu. Nggak apa-apa kan?"
"Makasih yah," seru Rama saat ayahnya sudah selesai mengeringkan rambutnya. Ia mengambil handuk dan menaruh di kamar mandi. "Nggak apa-apa yah. Aku mulai bisa menerima fakta kok. Buat sekarang, aku bakal temanin ayah di sini. Aku nggak mau ayah merasa kesepian. Jadi, ayah tenang aja ya. Karena aku bakalan selalu ada untuk ayah."
Bram tertawa dan mengacak rambut anaknya.
"Anak ayah semakin dewasa euy. Ayah beneran nggak bisa bayangin deh gimana kamu nanti dewasa. Sekarang aja selalu buat semua orang ngerasa aman dan sayang. Pasti pacar kamu nanti bakalan aman banget kalau sama kamu."
"Pacar?" bingung Rama
Bram terperanjat. Ia menggeleng, baru sadar kalau sudah berbicara terlalu jauh pada anaknya yang bahkan baru mau masuk sekolah dasar itu.
"Udah yuk kita pergi sekarang. Biar sebelum jam sepuluh. Kita berdua udah sampai di sini."
Rama buru-buru mengenakan kaos kaki dan sepatu. Sementara Bram mengunci rumah lalu Rama masuk ke dalam mobil setelah siap.
"Mau ke mana yah kita! tadi ayah belum jawab?" tanya Rama lagi.
"Ayah mau ambil uang."
***
Jika tadi Rama hanya melihat banyak pepohonan yang mengelilingi kanan dan kirinya. Kini Rama mulai melihat beberapa gedung dan perumahan di sekelilingnya. Dari situ ia sadar kalau sudah lumayan jauh meninggalkan kampung tempat mamahnya tinggal.
__ADS_1
Rama tidak protes sama sekali. Walau ia benar-benar sudah bosan. Untung tak lama, Bram memarkirkan mobil di sebuah kantor pusat bank.
"Ih ramai lagi," keluh Rama saat melihat kantor bank yang ramai. Dia langsung membayangkan kalau di dalam sana bakalan lama banget.
"Kamu bosan ya?" pada akhirnya Rama mengangguk.
Bram merogoh uang di kantung celananya. Ia mengeluarkan uang sebanyak tiga ratus ribu lalu memberikannya kepada Rama.
"Buat apa yah?" bingung Rama sambil mengambil uang itu.
"Di depan sana ada supermarket. Kamu bisa beli makanan di sana dan makan di sana. Ada makanan yang bisa di seduh, kayak mie atau banyak lagi. Kalau butuh bantuan, bilang aja sama yang jaga kasir. Kamu pasti di bantuin. Kamu tunggu di sana aja ya. Dibanding nunggu di dalam. Udah rame pasti sumpek juga."
"Tapi ..." Rama memandang uang itu. "Ini kayaknya kebanyakan deh yah," jujur Rama. Ia mengembalikan dua lembar uang berwarna merah tersebut.
Tapi Bram menyangkalnya. "Pakai aja ... di sebelah supermarket banyak toko. Ada toko bunga juga. Kamu beli deh apa pun buat mbah kamu alias ibu Dini. Kemarin dia udah banyak bantu kita. Jadi, kamu beli barang apa pun yang kamu suka ya."
"Siap ayah!"
"Ingat, jangan ke mana-mana. Di sekitar sini aja."
Bram memakaikan Rama tas di pinggangnya. Ia taruh uang di pegangan Rama di sana. "Di dalam sini, ada HP sama uang yang kamu butuhin. Jadi kalau kamu udah bosen di sini dan mau ketemu sama ayah. Langsung aja telepon ayah. Jadi, jangan asal nyeberang aja. Di sini rame banget dan nggak ada yang awasin kamu sama sekali."
Rama mengangguk lagi.
"Ya sudah ... kamu nggak apa-apa kan ayah tinggal?"
"Nggak apa-apa yah."
Bram memastikan Rama masuk ke dalam supermarket. Sebelum ia beranjak menuju kantor bank.
__ADS_1
***
"Jadi nggak bisa semuanya?" tanya Bram memastikan pada asistennya tersebut
/Iya tuan ... tuan mendadak sekali mintanya dan bank juga tidak bisa mengeluarkan uang sebanyak itu dalam waktu singkat. Paling nyicil tuan. Nggak masalah kan? satu minggu. Saya pastikan satu minggu semua uang itu akan ada dan tunai. Bagaimana?/
Bram memijat keningnya.
"Saya ingin sekarang selesai. Soalnya saya tidak mau lagi mengurus di sini. Kamu pasti sudah mendengar kan masalah saya dari Bagas?" tanya Bram
/Iya tuan ... Bagas sudah menceritakan semuanya pada saya dan meminta saya untuk menunda semua pekerjaan di perusahaan./
"Hmm ... saya pusing. Saya ingin mencari istri saya. Saya tidak mau lama-lama ada di kampung itu. Jadi, kamu ada saran tidak? karena saya beranggapan kalau hari ini semua nya bakalan selesai dan saya bisa langsung fokus mencari keberadaan Annisa."
Asistennya di seberang sana.
For your information, asisten Bran yang ini berbeda dengan orang yang Bram minta bantuan beberapa waktu silam. Kalau orang sebelumnya itu Bagas, bisa dibilang Bagas ini mata-mata di perusahaannya. Bagas yang selalu mencari tahu jika ada orang yang berani mengotak-atik perusahaan nya. Karena Bagas pintar mencari informasi tentang orang lain.
Sementara saat ini Bram sedang menelepon asistennya. Orang yang sudah bekerja dia dari perusahaannya masih kecil. Asistennya ini yang sudah membantu keseharian Bram di kantor.
Jadi, mereka orang yang berbeda.
"Bagaimana? kamu ada saran?" tanya Bram lagi sembari menunggu nomor antriannya di panggil
/Begini saja tuan ... tuan urus untuk yang hari ibu. Sekalian membayar beberapa nominal sesuai uang yang bisa tuan tarik. Dan besok saya akan ke sana untuk mengurus sisa nya. Selama satu minggu saya akan di sana untuk menyicil membayar orang sana dan tuan bisa langsung cari nona Annisa tanpa harus menunggu yang lain. Tuan percayakan saja sama saya./
"Ah betul juga." Bram lega akhirnya. "Kalau gitu kamu cepat datang ke sini saya dan makasih. Saya akan mengurus buat hari ini biar besok kamu bisa mengurus sisanya."
Bram mematikan panggilannya begitu nomor antriannya di panggil. Ia mengurus semuanya dan setelah sejumlah uang ada di lengannya. Bram buru-buru menaruhnya di dalam mobil dan langsung menjemput Rama yang masih ada di seberang sana.
__ADS_1
Begitu masuk ke supermarket ia melihat Rama sedang duduk santai di meja. Tangan anaknya sibuk memainkan ponselnya yang sengaja ia kasih.
"Rama," panggil Bram.