
Melihat suasana yang sangat tidak kondusif, akhirnya Bram memilih menepikan mobil dan menghubungi seseorang. Dengan tangan yang terus mengusap punggung lengan Annisa.
"Kamu berani membentak ibu?"
"Annisa yang seharusnya marah sama ibu!" pekik Annisa dengan suara mencicit. Terlihat sekali Annisa sudah nahan sejak tadi, "ibu apa nggak cukup berulah dan buat Annisa malu?"
"Oh ... jadi kamu malu sana ibu? Memang benar ya kalau kamu nggak punya hati sama ibu. Setelah semua masalah ini kamu juga mulai ngelupain ibu. Apa nggak cukup semua usaha jbu selama ini dalam merawat kamu. Tapi memang cuma uang yang buat semua orang lupa. Termasuk kamu. Pasti kamu nggak peduli lagi sama orang tua kamu yang nggak punya uang ini."
"Cukup ibu, cukup!"
Bram yang mendengar istrinya berani membantah langsung tersenyum tipis. Ia melirik ke arah kaca mobil dan secara nggak langsung matanya bersitatap sama orang tuanya. Ia mengangguk kecil, meminta orang tuanya untuk diam dan membiarkan Annisa mengeluarkan isi hatinya yang sudah tertahan sejak tadi.
Bram juga nggak lupa membawa Rama dari pangkuan Rama dan menenangkan anak itu, hal itu membuat Annisa langsung melepas seatbelt dan menoleh ke belakang. Melihat langsung ibunya yang sudah menatap tajam ke arah dirinya.
"Nggak usah ngerasa paling tersakiti kalau ibu sendiri yang buat aku kayak gini. Dari kemarin aku udah nahan ibu ya. Selama ini cuma aku yang berusaha sabar sama sikap ibu, aku berusaha untuk nggak membentak ibu. Dan kalau boleh jujur, bisa di bilang selama ini aku yang udah kerja untuk biayain ibu sama bapak."
"Oh? Kamu mau mengungkit semua itu?" sela bapak Wahyu
Annisa menggeleng.
__ADS_1
"Aku sama sekali nggak bakalan ungkit ini kalau ibu sama bapak nggak kayak gini. Dulu aja kalian selalu anggap aku remeh dan bilang semua uang aku nggak cukup untuk menutupi gaya hidup kalian. Kalian nggak peduli sama aku. Tapi ... pas aku nikah sama mas Bram, kalian baru datang dan sok baik sama aku."
"Ah," seru Annisa terhenti
Ia menggeleng. "Bukan ke aku, tapi suami aku. Kalian sok baik sama mas Bram dan mengatakan banyak hal. Sampai aku beneran kaget karena kalian minta rumah dan segala hal sama mas Bram. Nggak cuma itu, aku juga baru tahu kalau kalian minta di bayarin arisan mobil. Woah .. Annisa sama sekali takjub. Bisa-bisanya kalian selalu marah sama aku, tapi kalian butuh sama semuanya dari suami aku."
Annisa bertepuk tangan kecil.
Rasanya Annisa sudah nggak peduli kalau ada mertuanya di antara mereka. Ia benar-benar sudah menahan semuanya dari kemarin dan perbuatan orang tuanya sendiri yang buat Ia memaksa untuk membongkar seperti ini.
"Dan ... di mana-mana kalau kita butuh seseorang, kita pasti berusaha berbuat baik dong. Kita harus keliatan baik supaya orang itu percaya dan mau membantu kita terus. Tapi apa?! Dari kemarin ibu sama bapak cuma bisa berulah. Apa kalian nggak malu sama mas Bram? mas Bram selama ini udah baik banget. Tapi balasan kalian malah kayak gini?"
"Bahkan ... kalian datang juga bukan untuk kakak," ucap Annisa yang semakin emosional. "Kalian lakuin semua ini hanya untuk uang. Ya ampun bu, pak, apa seberharga itu uang dari pada anak sendiri?" tanya Annisa
Ia menghela napas dan mengalihkan pandangan ke arah lain, berusaha menahan air mata yang memaksa untuk turun.
"Aku tau kalau kakak udah salah sama kita. Tapi udahlah, yang selama ini berusaha buat bayar hutangnya itu aku dan yang udah lunasin hutangnya juga mas Bram. Jadi kalian nggak ada yang di rugiin sama sekali. Jadi, nggak perlu marah banget sama kakak. Karena kalian nggak pantas marah sama kakak, yang merasa pusing ya aku sama mas Bram. Bukan kalian ..."
Tangisan Annisa mulai turun saat Bram berhasil mengusap punggung dan menggenggam tangan Annisa.
__ADS_1
"Terus ... keberadaan aku sama kak Namira sehina itu kah di mata ibu sama bapak? Padahal, aku masih terus ngebayangin kak Namira bakalan kembali sama kita dan kita bisa memaafkan semua kesalahannya dan kembali kayak dulu lagi."
Perempuan itu menahan semua emosi tertahan di dalam dirinya.
"A— aku nggak masalah melihat ibu sama bapak yang cuma sayang sama kak Namira. Walaupun aku tersisihkan. Aku nggak masalah sama sekali. Asal kita bisa bareng kayak dulu lagi. Dan ... bahkan aku bertanya-tanya sama diri aku sendiri. Kemana kalian selama ini? Kemana ibu sama bapak yang dulu sayang banget sama kakak sampai melupakan aku? Apa karena satu kesalahan kalian jadi melupakan semuanya?"
"..."
"Bu ... pak ... aku minta maaf atas nama kakak, aku sama kakak minta maaf kalau keberadaan kami cuma bikin malu ibu sama bapak doang. Maaf kalau kami nggak bisa bikin bangga kalian. Maaf kalau kami nggak bisa jadi apa yang kalian mau. Aku minta maaf, tapi tolong ... jangan buat aku merasa sedih."
Annisa menahan kepalan tangannya. Ia memejamkan mata, berusaha menahan semuanya. Rasa sesak yang ditahannya sejak tadi, benar-benar terasa tidak enak dan dia harus bisa mengungkapkan semuanya.
"Seenggaknya kalian sedih gitu ngelihat kakak Namira yang ternyata udah nggak ada di sisi kita. Tapi ngeliat kelakuan ibu sama bapak malah buat aku merasa sedih. Lebih baik kalian nggak datang ke makam, yang nantinya cuma bikin kakak sedih di atas sana."
".."
"Karena ... jujur aja, aku kecewa sama kalian berdua."
Annisa merubah posisinya dan kembali menghadap depan. Ia menunduk.
__ADS_1
"Aku benar-benar nggak bisa nahan diri. Aku marah sama ibu dan bapak. Aku berterima kasih sama kalian karena udah sayang banget sama aku. Tapi aku beneran kecewa sama kalian."