Istri Dadakan

Istri Dadakan
Menjemputnya


__ADS_3

Mendengar perintah Mommy kandungnya. Bram akhirnya memutuskan untuk menjemput Annisa ke kampung. Dia akan menyetir sendiri. Sebelum benar-benar pergi jemput Annisa. Bram terpaksa menghabiskan waktu di kantor selama dua hari lamanya untuk menyelesaikan pekerjaan dia selama satu minggu ke depan. Ia tidak mau ada yang mengganggunya nanti. Bram memaksa tubuhnya untuk bisa melewati ini semua demi


“Aku mau ikut yah.”


Rama terus merengek saat mengetahui ayahnya mau menjemput mamahnya tercinta.


“Jauh loh, ayah tahu banget kalau kamu nggak betahan di mobil. Ayah lagi nggak mau naik kereta. Kita kesana naik mobil dan bisa sampai satu hari lamanya kita di dalam mobil. Kamu beneran mau ikut?"


Rama yang masih mengenakan baby fever di keningnya hanya mengangguk.


"Aku janji nggak bakalan ngeluh ini itu kok. Aku pure mau ketemu sama mamah. Aku kangen banget sama mamah. Ayah mau kan ajak aku pergi buat ketemu mamah?" tanya Rama sedikit memohon. "Ayah janji loh sama aku. Kalau aku sembuh. Ayah bakalan ajak aku buat ketemu sama mamah. Ayah pernah bilang ke aku kalau laki-laki itu harus nepatin janjinya."


Bram terkekeh.

__ADS_1


"Memang kalah deh ayah kalau udah lawan kamu. Iya sayang. Kamu boleh ikut. Malam ini istirahat lebih cepat ya. Ayah nggak mau kedapetan kamu yang susah di bangunin. Soalnya besok ayah mau berangkat pagi-pagi sekali. Kalau kamu belum bangun dan susah di bangunin. Ayah nggak segan buat ninggalin kamu."


"Siap ayah!"


Rama berlari meninggalkan mom Chika dan Bram lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia langsung berbaring dan tak lama ia benar-benar tertidur.


Kembali pada Bram dana mom Chika.


"Mommy beneran nggak mau ikut sama kami? maksudnya tuh kan mommy pasti tahu gimana caranya buat nenangin Annisa. Kalau memang Annisa marah sama kami? jadi aku juga kadang butuh bantuan mom."


"Daddy mu lagi sakit. Udah tau kan daddy kamu kalau sakit bakalan selebay apa? jadi mom mau urus daddy kamu dan menurut mom juga. Seharusnya kamu urus permasalahan kamu sendiri. Jangan bawa-bawa mom. Bukan nggak mau bantu. Tapi kamu harus gentle. Kamu harus cari tahu apa yang buat Annisa kayak gini dan kamu sendiri juga yang harus bawa Annisa kembali ke sini. Gimana? gampang kan?"


Bram mengangkat bahu.

__ADS_1


Dia sama sekali nggak bie membayangkan respon Annisa akan seperti apa. Mengingat masalah antara mereka aja masih tidak diketahui oleh Bram.


"Besok siang mom bakal pergi dari sini. Kunci mansion mom kasih ke pelayan kamu di sini. Tolong sampaikan salam mom sama Annisa dan mom akan doakan supaya semuanya berjalan lancar. Kamu juga jangan pantang menyerah ya. Kamu harus bisa bawa Annisa kembali dan semoga kalian semua baik-baik aja lalu diberikan kebahagiaan di hidup kalian."


"Makasih mom .."


***


Bram baru merebahkan tubuhnya sekitar jam satu malam. Kini pekerjaannya sudah selesai dan mengepak barang ia sama Rama juga sudah kelar. Tapi matanya tak kunjung menutup. Ia takut akan hari esok.


"Tapi ... kenapa sampai sekarang Annisa nggak bisa di hubungin sama sekali ya?" bingung Bram.


"Maksudnya ... memang Annisa kemana? setahu aku, kampungnya masih ada sinyal kok. Jadi aneh kalau sama sekali nggak bisa di hubungin kayak gini."

__ADS_1


Ia menarik napas dalam dan mendengus.


"Apa yang harus aku lakuin kalau begini? tapi semoga semuanya baik-baik aja deh," harapnya.


__ADS_2