Istri Dadakan

Istri Dadakan
Tangisan Mereka


__ADS_3

“Sayang ... itu gak mau salim sama bundanya?” tawar Annisa


Rama bergeming. Tak bergerak sama sekali dan tetap fokus sama lantai. Padahal tidak ada yang asyik, tapi sejak tadi Rama gak menatap sekitaran sama sekali. Annisa kembali bertanya, tapi Rama masih tak menjawab.


“Gapapa mbak ... memang anaknya gak mau jawab aja kok. Memang akunya yang salah karena udah buat Rama jadi benci sama bundanya sendiri. Aku beneran gapapa kok, mbak. Ngeliat mbak sama Rama tadi aja sebenarnya udah cukup kok.”


Annisa menjadi tidak enak. Ia menatap dengan penuh rasa bersalah, “mbak ... tapi kan.”


Perempuan itu bisa menangkap gelengan kepala Sakilla. “Beneran gak apa-apa mbak. Wes mbak bawa Rama aja keluar. Aku gak masalah. Pertemuan kali ini udah lebih cukup untuk waktu lima belas tahun ke depan.”


Ah ...


Annisa jadi mewek lagi. Ia mengusap air matanya begitu melihat Sakilla juga menangis.


“Sekarang Rama masih kecil banget dan sekarang aja aku gak tahu menahu tentantang pertumbuhan Rama, apalagi nanti.” Sakilla tertawa remeh. “Lima belas tahun dan mungkin Rama udah kuliah. Duh ... semoga aku masih hidup sampai waktunya nanti dan semoga aku masih bisa ngeliat Rama dewasa.”


“Mbak ...” Annisa gak bisa berkata-kata

__ADS_1


“Sebelum pergi ... bunda cuman mau bilang kalau jangan jadi orang jahat ya nak. Biar bunda aja yang jahat, kamu harus tumbuh jadi manusia yang baik seperti mamah kamu.” Sakilla tersenyum tipis berbanding terbalik dengan Annisa yang semakin deras menangis. “Bunda pantas mendapatkan ini. Memang bunda yang udah salah sama kamu. Jadi, bunda mau minta maaf ya sayang.”


Perasaan Sakilla tercekat.


Ini sangat menyakitkan melebihi keputusan hakim tadi saat persidangan berlangsung. Sakilla pasrah, ia benar-benar pasrah. Mungkin sebelumnya ia masih meninggikan egonya dan selalu menganggap dirinya gak pantas mendapat banyak hukuman seperti ini. Tapi ... seiring berjalan nya waktu, Sakilla mulai sadar.


Kalau dunianya sudah hancur.


Kalau semua keinginannya tidak selalu harus terpenuhi.


Ia juga sadar, semakin dirinya egois, semakin banyak orang yang pergi meninggalkan dirinya.


Sakilla menghela napas berat.


“Kenapa mbak Annisa yang nangis?” tanya Sakilla heran. “Mbak jangan tangisin orang jahat kayak aku. Mbak gak pantes nangisin aku. Aku udah banyak nyakitin hidup mbak. Juga udah buat mbak banyak nangis karena kehadiran aku. Jadi ... jangan menambah rasa bersalah aku dengan ngeliat mbak menangis begini. Jadi, jangan menangis ya mbak. Aku mohon ...”


“Mbak ...” Annisa meninggalkan kursinya dan menghampiri Sakilla.

__ADS_1


Sakilla juga refleks bangkit dan memeluk Annisa. Kedua perempuan itu saling menangis. Tangisan yang mampu membuat Rama menoleh. Hatinya sedikit tergerak dan ia tidak tega melihat mereka menangis sampai seperti ini.


“Mbak, mbak hebat karena udah mengakui semuanya kayak tadi. Mbak kerena. Pokoknya ke depannya mbak harus hidup sehat selalu ya mbak. Aku janji bakal sering jenguk mbak ke sini. Aku gak bakal lupain mbak sama sekali.”


Sakilla menggeleng pelan.


“Gak perlu ... masih banyak hal yang bisa kamu lakuin daripada jenguk aku. Aku cuman nitip Rama ya mbak. Bilang ke dia, kalau bundanya yang satu ini ngerasa bersalah banget dan janji mau merubah dirinya, biar dia gak malu punya bunda seorang penjahat,” bisik Sakilla


Annisa bergeser setelah melepas pelukan.


“Mbak yang harus ngomong sendiri bukan aku.”


“Tapi ...


Annisa menoleh, “gapapa mbak, ngomong aja. Dia sebenarnya ikut sedih, tapi gengsinya tinggi sama seperti mas Bram. Jadi walau keliatannya dia gak denger, sebenarnya dia denger jelas kok omongan kita.”


Sakilla berpikir sesaat sebelum mengangguk. Ia menarik napas dalam. “Rama ...”

__ADS_1


__ADS_2