
“Cepet bilang sama tante, siapa orang yang ada di foto ini!!!” seru Annisa menggoyangkan tubuh Rama. “Jangan diem aja nak! Cepat kasih tau tante!” bentak Annisa membuat Rama merengut dan menunduk. “RAMA!”
“TANTE ... HUAAAA.”
Rama menjerit sejadi-jadinya karena takut melihat Annisa yang meledak ledak kayak gini. Rama menggeleng, nggak berani menjawab sama sekali. Mendengar teriakan sang anak, Bram yang masih ada dibawah langsung buru-buru naik ke atas dan membuka paksa pintu kamar Rama.
“Ada apa ini?” serunya melihat Annisa yang memegang sebuah foto dan di sudut ruangan ada Rama yang menangis ketakutan. Bram menghampiri Rama dan menggendongnya lalu menatap kesal pada Annisa. “Jadi ... ini yang kamu lakukan setelah menikah sama saya.”
Annisa menaruh foto itu di atas meja, membuat Bram bingung.
“Siapa yang ada di foto ini?!” tanya Annisa lagi dengan sangat cepat.
“Hah?”
“TUAN ... SIAPA FOTO INI?” tanya Annisa lagi yang udah frustasi bukan main.
“Almarhum Sakilla ... dia istri saya yang udah meninggal,” jawab Bram dengan pelan. “Kamu nih sebenarnya kenapa sih?” tanya Bram. “Kenapa keliatan kaget banget sama foto itu dan memang ada apa sama foto itu?” seru Bram sambil mengambil foto Sakilla. Takut takut Annisa akan merobeknya.
“Mana ada meninggal ... dia yang udah bawa kakak saya kabur dari rumah. Dia masih hidup!” seru Annisa dengan sangat yakin. “Bukan, dia bukan Sakilla. Aqilla namanya, dia orang yang udah usik keluarga saya dan buat kakak saya Namira yang pendiem jadi nakal. Dia yang udah buat ibu sama bapak saya jadi mata duitan.”
“Annisa ...,” bingung Bram. “Kamu salah orang kali?” seru Bram lagi dengan pelan. “Dan ... kita omongin nanti ya,” pinta Bram dengan hati-hati karena takut Rama akan mendengar dan membawa pengaruh buruk untuk anak itu.
Annisa yang peka langsung paham, tapi dia menolak untuk menunggu. Ia sudah lama mencari perempuan ini dan ternyata ini membawanya bertemu sama perempuan itu lagi secara nggak langsung. “Ayolah tuan ... aku penasaran banget. Kenapa orang yang aku cari selama ini bisa ada di foto ini dan ternyata udah meninggal. Padahal jelas-jelas—
__ADS_1
“RAMA!” panggil Bram dengan sedikit kencang, memotong ucapan Annisa. “Kamu sama bibi dulu ya di luar, ada yang mau ayah omongin sama tante kamu. Jadi, kamu tunggu di luar ya.”
Rama menoleh ke arah Annisa dengan pelan.
“Tante marah sama aku?” bisik Rama di telinga Bram
Bram menggeleng, “tante Annisa nggak marah kok sama kamu. Nanti kamu bisa ngobrol lagi sama tante Annisa, pas tante Annisa udah lebih tenang ya. Sekarang biar ayah yang ngobrol dulu sama tante kamu itu. Kamu keluar dulu, pergi ke bibi ya.”
Rama akhirnya setuju.
Anak itu diturunkan dari gendongan dan langsung berlari ke arah luar kamar tanpa menoleh pada Annisa sama sekali. Annisa yang melihat itu hanya bisa meminta maaf di dalam hati, dia beneran nggak bisa mengontrol emosinya saat melihat foto itu.
Setelah Rama keluar dan pintu kamar kembali tertutup, Bram duduk di sofa lalu meminta Annisa untuk di depannya. Bram menatap serius pada perempuan di depannya. Jantungnya sangat berdegup, takut akan apa yang dilontarkan sama Annisa tadi. Tapi ia berusaha menyangkal karena dia sendiri yang melihat makam istrinya itu.
Annisa menggeleng dan menunjuk foto itu. “Aku yakin banget dia yang udah buat kakak aku jadi kabur dari rumah. Dia juga yang udah mencuci otak kakak aku. Aku yakin banget. Aku gak bakalan salah orang, selama ini aku cari orang ini dan ternyata takdir membawa aku buat menemuinya lagi.”
“Tapi Annisa— kakak kamu perempuan kan?” tanya Bram lagi yang masih belum percaya
“Makanya, ibu sama bapak nggak pernah menyetujui hubungan mereka. Ya ... aku tau kalau ini salah, penyimpangan sosial. Tapi nyatanya Aqilla sendiri yang buat kakak aku dari normal jadi kepincut sama orang yang sejenis. Tapi ... Aqilla pintar, dia pakai uang untuk menarik perhatian orang tua aku. Makanya sampai sekarang ibu sama bapak gila sama uang ... dia Aqilla, bukan Sakilla atau istri tuan.”
Bram yang mendengar itu benar-benar sangat syok, tapi masih terus berusaha menyangkal.
“Saya melihat bagaimana istri saya meningal dan dikuburkan. Jadi, kamu jangan asal ngomong. Dia Sakilla, bukan Aqilla dan nggak mungkin kalau istri saya melakukan hal itu— ya ... walau saya nggak bisa memantau dia setiap hari. Tapi saya jelas tau kalau Sakilla nggak akan melakukan itu. Dia juga meninggal tepat saat melahirkan Rama kok.”
__ADS_1
“Pas melahirkan Rama? Itu tepat dua tahun yang lalu ... tapi aku terakhir ketemu dia itu bulan lalu. Aku yakin banget kok.”
Annisa ingat sesuatu dan buru-buru mengeluarkan ponselnya. Ia perlihatkan foto kakaknya alias Namira bersama perempuan itu. Ia tunjukan ke Bram dan laki-laki itu hanya keliatan syok sambil terus melihat foto itu.
“Aku diem-diem pernah foto mereka. Tapi aku nggak pernah bisa cari tau orang itu dan sekarang aku jelas tau kalau dia pasti udah nipu tuan. Karena nyatanya dia nggak pernah meninggal sama sekali. Pasti sekarang dia ada di suatu kota sama kakak aku. Mereka menjalin kasih.”
“Annisa ... mereka terlalu mirip.”
“ITU TUAN!” histeris Annisa sambil menangis. Ia terus mengusap air matanya yang turun. “Dia orang yang sama, bahkan tahi lalat di dekat matanya benar-benar persis. Aku yakin kalau istri tuan nggak meninggal. Mungkin ... dia memalsukan kematiannya untuk pergi bersama kakak aku. Aku yakin ...”
“Tapi—
“Tuan masih menyangkal semuanya pas udah liat foto ini?” tanya Annisa. “Sekarang aku nggak mau tau, aku mau cari tau tentang mantan istri tuan ini. Dari kebiasaan, tingkah laku sampai keluarganya. Aku mau nuntut orang ini, aku mau ketemu sama kakak aku dan nyadarin dia. Biar kak Namira tau, kalau apa yang dia pilih ini salah ...”
“Annisa ini nggak mungkin benar. Sakilla perempuan yang alim. Jadi, nggak mungkin dia ngelakuin ini. Saya yakin. Mungkin mereka hanya kebetulan mirip aja. Benar-benar mirip gitu loh. Jadi saya meragukan kalau mereka orang yang sama.”
Annisa menggeleng.
“Terserah tuan mau ngomong apa, sepertinya tuan hanya menyangkalnya doang karena kaget. Jadi ... aku bakalan cari tau sendiri. Aku nggak mau tau, pokoknya aku udah nemuin titik terang kalau ternyata orang yang aku cari ada di dekat aku.”
“...”
Annisa menangis. “Akhirnya ... akhirnya aku ketemu sama orang yang udah mengusik keluarga aku.”
__ADS_1