Istri Dadakan

Istri Dadakan
Bahagia


__ADS_3

"Ya ampun anak ayah ... untung aja beneran kena ke badan ayah. Kalau kamu malah jatuh, yang ada ayah khawatir kalau kamu nangis gitu."


Rama yang tidak terima langsung berkacak pinggang dan menggeleng. "Ayah! aku bisa loh ... aku nggak bakal jatuh sama sekali. Kok ayah malah anggep aku jatuh gitu."


Bram melirik ke arah Annisa dan menatap bingung.


"Itu artinya Rama nggak suka di sepelein gitu, mas."


"Loh ayah mana ada nyepelein kamu loh. Ayah cuman khawatir sama anak ayah kalau jatuh. Terus nanti berdarah. Terus nanti nangis. Kamu kan kalau udah nangis jadi berisik. Ayah pusing dengernya," seru Bram yang malah membuat anak itu semakin terbelalak kesal.


"Bunda ... lihat ayahnya masa ngeledek aku," seru Rama sambil merengek kecil.


"Mas ... udah tau anaknya ngambekan. Eh malah makin di gituin. Udah mendingan sekarang kamu mandi. Rama kita turun, Siap-siap berangkat sekolah."


Bukannya melepas pelukan, Bram malah menarik tubuh Rama yang mau kabur dan malah mengeratkan pelukan di antara mereka. Bram terus menahan tubuh anaknya yang semakin meronta.


Melihat itu Annisa hanya menyilangkan tangan di dada, sesekali memijat kepalanya. Beruntung, karena hari ini bukan hari senin yang membuat Rama memakai baju putih yang super lecek.


"Mamah tolongin ..."


"Jangan!" seru Bram membuat langkah Annisa terhenti. "Aku nggak mau ngelepas pelukan anak aku. Nggak boleh. Kata nya aku harus deket sama dia. Jadi ya aku kekep kayak gini deh. Nggak salah kan?"


Annisa hanya bisa menepuk keningnya sambil menggeleng kecil. Nggak paham sama pemikiran Bram yang aneh dan nggak jelas. Melihat sisi Bram yang biasanya serius dan sekarang malah kayak gini, cukup buat Bram jadi kaget. Jadi hanya bisa mengerjap bingung.


"Mas ..."


"Apa Annisa?" ledek Bram sambil memeluk anaknya dan Rama terus meronta. Ditambah Bram sekarang malah mengurung tubuh Rama di bawah tubuhnya dan mengecupi wajah anak itu. Rama terus memberontak dan mendorong tubuh Bram, tapi sayang tenaga Bram jauh lebih besar jadi Rama sama sekali nggak bisa mendorongnya.


"Mamah ... tolongin aku."


"Mas udah, itu muka anaknya udah merah banget. Jadi, jangan nambah sesek anaknya. Dia mau sekolah loh. Nanti yang ada pas sekolah tenaganya udah habis di sini jadi jangan buang tenaga Rama."


Mendengar seruan sang istri membuat Bram melepas tubuh anaknya. Tanpa pikir panjang, Rama langsung saja meloncat dari tempat tidur dan memeluk tubuh Annisa. Ia menjulurkan lidah pada ayahnya membuat Bram melakukan pergerakan seperti anak itu hingga Rama memekik.


"Mas ... udah siang, keburu jemputan Rama datang. Jadi, kamu mendingan mandi dan kita sarapan bersama."

__ADS_1


"SIAP ANNISA!"


***


"Nanti ayah nggak bisa jemput kamu, jadi palingan kamu di jemput sama mamah Annisa ya. Nanti ayah cari waktu biar kita berdua bisa jemput kamu."


Rama merengut dan menunduk.


Annisa mengusap rambut anak itu. "Nak ... mamah kan udah bilang kalau kamu juga harus ngertiin kesibukan ayah kamu. Jadi, setuju aja ya. Yang penting ayah udah janji loh buat jemput kamu. Tapi untuk sekarang ayah masih nggak bisa jemput kamu karena ada kerjaan. Jadi, dari pada kamu marah nggak jelas. Mendingan sekarang kamu minta maaf sama ayah kamu karena udah cemberut kayak gitu."


Rama hanya diam. Melihat anaknya yang murung buat Bram jadi merasa nggak enak dan melirik ke arah Annisa. Laki-laki itu menggeleng sambil tersenyum tipis.


"Sudah lah Annisa," ucap Bram. "Memang akunya juga kan yang ingkar janji? jadi ... nggak masalah kok kalau mereka marah sama aku. Beneran."


"Tuh ... denger kan, ayah kamu aja ngaku salah. Masa kamu masih ngambek. Mamah kan udah bilang sama kamu. Kalau nggak semua yang kamu mau harus ada di depan mata kamu. Kamu harus belajar kalau segala sesuatu nggak bisa kamu miliki gitu aja. Harus ada usaha dan bisa sabar. Ini aja baru gini kamu udah nggak sabar. Apa lagi masalah yang lainnya," ucap Annisa dengan lembut.


Annisa jelas tahu kalau Rama tumbuh di keluarga yang bergelimang harta. Annisa juga tahu kalau Rama bisa punya semuanya yang dia mau. Tapi Annisa nggak mau kalau Rama hanya duduk diam dan bisa mendapat semuanya. Ia nggak mau membuat Rama memiliki sifat yang seperti itu.


"Mamah beneran nggak suka sama sikap kamu yang gini ya nak."


"AYAH AKU MINTA MAAF ..."


"Ayah minta maaf karena nggak bisa sekarang ya, nak. Tapi ayah janji kalau ada waktu luang bakalan langsung jemput kamu. Ayah beneran minta maaf karena udah nggak nepatin janji sama kamu."


Rama mengangguk dan menaruh wajahnya di ceruk leher sang ayah.


"Nggak apa-apa ayah, aku bakalan sabar kok. Maafin aku yang udah maksa ya yah."


"Nggak apa-apa, sayang. Sekarang minta maaf yu sama mamah kamu. Maaf karena kamu udah ngecewain mamah kamu. Minta maaf gih."


Rama melirik sedikit ke arah Annisa dan kembali memeluk ayahnya dan menggeleng. Ia takut melihat Annisa yang tegas kayak gini. Karena biasanya mamah nya itu orang yang lemah lembut dan jarang banget marah. Jadi, sedikit aneh ngelihat Rama yang kayak gini.


"Udah ... mamah kamu cuman nasihatin kamu doang loh. Nggak ada niat buat marah sama kamu dan semua yang di omongin sama mamah kamu juga ada benernya. Jadi minta maaf ya keburu jemputan kamu dateng."


Dengan perlahan Rama turun dari kursi dan menghampiri Annisa dengan langkah kecil. Melihat itu membuat Annisa langsung berdiri dan mengangkat Rama sembari melempar kecil. Menangkap tubuh anak itu lagi. Begitu aja terus sampai Rama tertawa lebar.

__ADS_1


"Mamah ... maafin aku."


"Hahaha nggak apa-apa sayang, makasih juga karena udah nurut sama mamah. Kamu memang anak yang hebat. Terus tumbuh kayak gini ya."


Sedang asyik bercengkrama mobil jemputan Rama datang. Rama langsung berpamitan pada orang tuanya dan masuk ke dalam mobil. Di saat Bram sama Annisa terus saja melambaikan tangan sampai mobil itu tak terlihat.


Bram berbalik dan tersenyum pada Annisa.


"Makasih ya Annisa karena kamu udah tegas sama Rama kayak tadi. Saya beneran suka ngeliatnya."


Annisa mengangguk.


"Maaf juga ya mas, karena kesannya aku kayak yang galak banget sama anak kamu. Padahal aku bukan orang tua kandungnya dan yang lebih berhak marah kayak tadi ya cuman kamu. Tapi aku malah sok dan marah sama Rama. Jadi, aku minta maaf."


Bram menepuk punggung istrinya. "Nggak usah sungkan sama sekali. Saya malah seneng ngeliatnya. Soalnya di sini saya kurang tegas sama Rama. Jadi, bisa aja Rama tumbuh tanpa arah. Tapi karena ada kamu, saya jadi nggak terlalu khawatir lagi."


Annisa tersenyum bahagia mendengar itu semua.


"Dan juga ... jangan pernah bicara kayak tadi. Karena kamu juga orang tua Rama. Kalau Rama mendengarnya dia pasti sedih karena kamu ngomong kayak tadi."


Annisa menatap miris sambil mengusap tengkuknya. Dia meminta maaf.


"Nggak apa-apa untuk kali ini. Tapi untuk ke depannya saya nggak mau kamu marah lagi. Saya nggak mau denger kamu ngomong kayak tadi. Kamu memang bukan orang tua kandungnya. Tapi kamu sudah seperti orang tuanya Rama sendiri. Kamu berhak melakukan apa pun sama anak itu. Karena saya sudah memberi kesempatan itu."


Annisa menunduk sopan.


"Makasih ya mas karena udah kasih kesempatan itu."


"Sama-sama Annisa ... oh iya saya boleh minta sesuatu lagi nggak sama kamu?" tanya Bram dengan lembut


Annisa mengangguk sopan. "Mas butuh apa?"


"Saya biasanya kalau di kantor suka makan siang sendirian. Jadi, bisa nggak kalau nanti jemput Rama ke tempat les. Terus kalian langsung ke kantor saya. Nggak usah bawa makanan. Nanti saya yang beli makanannya. Asal ada kalian yang menemani saya."


"Memangnya bisa?" tanya Annisa polos

__ADS_1


"Ya bisa dong, jadi kamu mau nggak?"


"Mau dong!"


__ADS_2