
Setelah aksi pelukan itu, Annisa merasa Bram sama Rama menjadi jauh lebih dekat. Terkadang mereka saling bisik bisikan, tapi Annisa di larang untuk tahu. Perempuan itu hanya pura-pura kesal, karena di lubuk hatinya yang paling dalam Annisa senang karena Bram sama Rama jadi lebih dekat.
Meninggalkan pasangan anak dan ayah yang sedang asyik mengobrol, Annisa masuk ke dalam kamar Rama untuk merapihkan mainan yang menumpuk.
"Memang sih, aku larang mbak pada masuk ke kamar Rama. Biar Rama tahu, kalau selamanya dia nggak bisa terus di layanin untuk permasalahan rapihin kamarnya. Tapi nih kamar, ya ampun ..."
Annisa menumpuk buku yang berserakan di atas meja. Dari berbagai buku bacaan yang membuat Annisa tiba-tiba jadi pening.
"Ya ampun ... belum masuk SD aja, bacaan Rama udah sebanyak ini. Apa lagi nanti kalau udah sekolah," lanjut Annisa menaruh buku sesuai ukuran supaya lebih enak di pandang. "Lagian apa yang di lakuin sama mas Bram ya? sampai Rama rajin banget kayak gini."
Tangannya mencari buku bacaan yang benar untuk anak sekecil Rama, tapi yang perempuan itu temukan hanya bacaan untuk anak dewasa. Bahkan buku tentang penyakit ada di dalam rak bacaan Rama.
"Ya ampun ini mah Rama nggak perlu masuk SD lagi, dia langsung suruh aja masuk kuliah," gumam Annisa sambil tertawa kecil.
Annisa memang tidak pernah bisa diam kalau sedang bekerja. Mulutnya akan nyerocos banyak hal sampai dia merasa bawel sendiri. Tapi kalau sudah ngomong, dia akan cepat bersih-bersih dan lupa sama semua kerjaan yang dia sedang lakukan.
Beralih dari meja belajar, Annisa mendatangi tempat mainan Rama. Ia menggeleng.
"Bisa-bisanya mainan Rama sampai seberantakan ini, ya ampun ... itu anak, bener-bener deh."
Sedang asyik merapihkan, Annisa mendengar tawa Bram sama Rama dari bawah.
"Rasanya hati aku agak tenang kalau mereka akur gini. Ya ampun, tolong akurkan mereka terus. Jangan ada yang buat masalah dulu. Karena mereka lucu banget kalau udah bareng gitu."
Annisa terus merapihkan barang, setelah selesai. Ia beranjak masuk ke dalam kamarnya.
"Eh ... aku baru sadar kalau udah lama nggak ngabarin ibu deh," ucap Annisa pelan. Langkahnya terhenti, ia tatap ponselnya. "Ini aku bingung banget sih. Mau marah sama ibu, tapi rasanya kasihan kalau semuanya marah sama ibu. Padahal di sini aku nggak denger alesan ibu ngelakuin itu tuh karena apa. Walau semua yang ibu lakuin itu salah."
Annisa menggeleng, menaruh kembali ponselnya.
Dia akan memberikan waktu lebih panjang supaya ibunya bisa berpikir kembali akan kesalahan yang sudah dia buat.
Annisa mendatangi Bram sama Rama yang sedang asyik menonton.
"Mamah denger dengar, kalian asyik banget nih dari tadi. Nggak kasihan itu mata karena nonton terus?" tanya Annisa pelan sambil melewati mereka dan membawa toples kosong yang ada di meja. "Jangan lama-lama ya mas Bram itu anaknya," seru Annisa kepada Bram. "Kasihan mata Rama kalau terus nonton TV kayak gitu."
"Aku baik-baik aja kok mah," ucap Rama sambil berbalik ke Annisa. "Ini lagi seru, jadi nggak apa-apa kan kalau hari ini Rama nonton TV lebih lama."
Annisa tersenyum tipis sambil terus merapihkan rumah.
"Nonton TV nya memang belum lama, tapi pasti dari tadi kamu udah main tablet, terus laptop kan? nih mamah udah liatin dari awal. Tapi kayaknya emang udah waktunya kamu di kasih jadwal buat pakai itu gadget biar mata kamu juga nggak rusak."
"Kok mamah gitu sih?" protes Rama yang tidak terima sambil sedikit merengut.
Annisa mendatangi mereka sambil menaruh cemilan yang sudah ja tuang ke toples kosong tadi, lalu menaruhnya di sana.
"Kamu tuh keterlaluan kalau main gadget, baca buku aja suka sambil tiduran. Kasihan maat kamu. Masalahnya di sini kamu nggak pernah mau makan wortel atau apa pun yang buat sehat mata kamu. Iya kan mas?"
Bram yang ditanya langsung terperanjat dan mengangguk walau bingung mereka sedang membahas apa.
"Ah ayah ma, kok nggak bela aku?" seru Rama
Annisa mengacak rambut Rama. "Udah nggak usah protes. Lagian di umur kanu yang sekarang, kamu udah berlebihan banget pakai gadget. Nih mamah ambil deh, sekalian nanti langsung dibuat jadwal."
Kepergian Annisa membuat Rama hanya cemberut saja. Gadget sudah seperti hidup mati dirinya. Rama selalu memainkan semua gadgetnya kalau sedang bosan tapi kalau di sita kayak gini? dirinya harus apa?
Sebuah usapan di punggung terasa membuat Rama menoleh ke sang ayah.
"Ikutin aja apa yang mamah kamu mau. Dia kayak gini juga karena kebaikan kamu," ucap Bram sambil mengangguk.
Mau tidak mau, Rama membalas mengangguk.
__ADS_1
Sementara itu,
Annisa mencari semua gadget yang selama ini di kenakan Rama. Hatinya benar-benar mengeluh, melihat perbedaan hidupnya sama hidup Rama saat dirinya seumuran Rama. Untuk ukuran Rama, Annisa merasa Rama sudah dapatkan semuanya yang bahkan tidak pernah Annisa rasakan selama ini.
Walau ... tidak pernah memakai itu semua, tapi Annisa tau betapa bahayanya gadget untuk seorang anak. Karena dia pernah membaca dari sebuah jurnal.
Sedang mengumpulkan semua gadget dan mainan Rama yang selalu dimainkannya di atas kasur. Annisa salah fokus saat ponsel Rama berdering. Annisa beranjak keluar kamar tapi langkahnya terhenti saat melihat nama 'bunda Sakilla' yang terpampang di layar ponsel.
Tubuhnya seolah kaki melihat itu, Annisa melirik Rama sama Bram yang masih asyik menonton. Membuatnya perlahan masuk ke dalam kamar Rama dan mengunci dari dalam.
Ia pandang lagi ponsel Rama dan nama serupa masih ada di sana. Otaknya terasa buntu, perempuan itu tidak tahu harus merespon seperti apa. Napasnya sesak. Ia menelan saliva, sambil menggeleng kepalanya. Berusaha berpikir yang baik baik saja. Tidak mau asumsi buruknya malah membuat hubungan mereka jadi buruk.
Setelah beberapa saat,
Ia sedikit lega karena panggilan itu mati. Tapi beberapa detik kemudian, panggilan kembali terhubung dan tulisan mantan suaminya itu tetap ada di layar. Membuat Annisa memutuskan mengangkatnya dengan perasaan yang tidak menentu.
/Nak ... ini bunda? maaf baru bales pesan kamu, soalnya bunda baru dikasih HP sama orang suruhan ayah kamu. Jadi, gimana? kamu mau ketemu? ayah kamu juga udah bilang sama bunda kalau nanti kita bisa ketemu. Tapi jangan bilang sama ibu sambung kamu yang jahat itu ya. Kita ketemu berdua aja. Biar bunda jelasin semuanya, supaya kamu nggak salah paham./
Annisa menutup mulutnya mendengar seruan itu.
/Nak? kenapa kamu diam saja? kita secepatnya ketemu ya. Bunda mau ketemu sama kamu, bunda kangen banget sama kamu./
Tak sanggup lagi, Annisa memilih mematikan ponsel itu. Ia melemparnya ke kasur dan menggeleng. Ia tertawa miris.
"Nggak mungkin kan? aku pasti salah dengar kan?"
Ponsel Rama kembali berdering membuat Annisa histeris dengan suara pelan. Dengan masih bingung ia matikan ponsel Rama.
Annisa berusaha memikirkan apa yang baru saja terjadi dan setelah kesadarannya balik, tubuhnya luruh ke lantai. Annisa menangis dengan tangan menutup mulutnya, tidak mau suara tangisnya kedengeran sampai luar.
"Ini aku lagi di bohongin sama Rama dan Bram?" ucap Annisa dengan sangat kecewa.
Annisa tertawa kecewa.
"Berarti selama ini mas Bram nyuruh Rama untuk ketemu diam-diam sama bundanya di belakang aku?" tanya Annisa pelan. "Berarti omongan mas Bram yang bilang kalau Rama nggak bakal di kasih izin buat ketemu sama mbak Sakilla itu bohong?"
Annisa tidak percaya kalau mereka berdua sudah membuat dia nyaris kecewa sampai seperti ini.
Suara langkah kaki terdengar, membuat Annisa buru-buru menghapus air matanya dan meraih ponsel Rama. Dia hapus riwayat panggilan terangkat dan Annisa juga membasuh mukanya dengan air di kamar mandi.
"Mamah." Rama mengetuk pintu dari luar. "Kenapa pintu kamar Rama dikunci."
Pergerakan Annisa kembali terhenti saat mendengar suara sang anak. Dia masih tidak percaya kalau anaknya yang udah dia percaya ternyata mengkhianati dirinya. Annisa berusaha mengontrol dirinya sendiri sebelum membuka pintu.
Tapi wajah Rama yang terpampang langsung di depan wajahnya membuat Annisa kembali sedih. Tubuhnya sedikit gemetar, tapi Annisa berusaha mengepalkan tangan. Mengendalikan emosinya dan tanpa pikir panjang, Annisa menabrak sedikit tubuh Rama lalu berlari turun ke bawah.
"Annisa ... eh?"
Bram bingung saat Annisa melewatinya begitu saja dan malah berlari meninggalkan dirinya. Bram tidak sempat mengejar karena sebuah tangan kecil menahan lengannya.
"Mamah kamu ke napa?"
Rama menggeleng sambil menatap bingung. "Aku juga nggak tau yah. Tapi, kata ayah kita mau ngurus bunda dulu. Ini tadi aku baru liat kalau bunda Sakilla nelepon."
"Ah dia nelepon? ya sudah kita omongin di atas."
Keduanya langsung ke atas tanpa peduli bahwa Annisa sudah mengetahui semua ini dan sangat kecewa dengan perbuatan Rama sama Bram yang melakukan semua ini dengan diam-diam. Seolah dirinya memang tidak di anggap sama sekali keberadaannya.
***
Annisa terus berlari keluar rumah, melewati penjaga rumah yang baru mau bertanya tapi urung karena wajah Annisa yang kelihatan sedang tidak mood untuk ditanya.
__ADS_1
Annisa terus melewati jalan setapak dengan perasaan campur aduk. Bahkan perempuan itu baru sadar kalau diri nya masih mengenakan selop rumahan yang begitu tipis. Membuat telapak kakinya kesakitan saat menginjak kerikil tajam. Tapi itu tidak masalah, karena hati Annisa jauh lebih sakit di banding apa pun itu.
Annisa menarik napas dan berhenti melangkah.
"Memang apa yang harus aku harepin sih?" tanya Annisa pelan sambil meringis. "Aku cuma orang asing yang masuk ke kehidupan mereka. Jadi, aku nggak boleh berharap banget sama mereka. Karena rasanya pasti sakit banget kalau udah berharap."
Ia meremas dadanya sambil meringis.
"Kayak gini ... rasanya sakit banget," Annisa memukul pelan dadanya sambil terus menghembuskan napas pelan. Berusaha menghilangkan rasa sesak di dada.
Dengan pandangannya yang mengabur karena air mata yang sudah menumpuk, Annisa mencari tempat duduk. Ia menemukan sebuah pangkalan ojek yang kosong. Seperti nya memang tidak berpenghuni. Ia menghampiri dan duduk di pinggiran sana.
"Kalau memang dari awal mas Bram mau nemuin mereka berdua, mas Bram harusnya bilang aja sama aku. Bukannya malah kayak gini, ngomong nggak mau. Tapi diam diam malah mau mempertemukan mereka tanpa sepengetahuan aku," ucapnya mengeluarkan uneg uneg dan rasa sakit hati di dalam hatinya.
Annisa mengusap air matanya yang turun.
"Apa usaha aku selama ini nggak pernah terlihat di mata mereka? apa aku kurang cukup. Atau memang selama ini mereka masih anggep aku orang lain di hidup mereka? apa aku nggak bisa jadi keluarga yang baik untuk mereka. Karena terus aja mereka kayak gini sama aku."
Ia menarik napas dalam, tertawa. Menertawakan hidupnya yang selalu lucu. Seolah nggak pernah berpihak kepada diri nya itu.
"Baru aja aku seneng karena mas Bram sama Rama yang baik banget. Baru aja aku bahagia karena sejak dulu nggak pernah dapet seseorang yang baik banget di hidup aku. Tapi nyatanya mereka nggak sebaik yang dikira."
Ia menelan saliva.
"Dan ... lebih baik aku di sakitin sama orang yang nggak aku kenal banget. Dibanding di sakitin sama orang yang udah aku percaya banget."
Annisa menghembuskan napasnya berulang kali.
"Ya Allah ... ini sakit banget!" pekiknya.
Perasaan tak menentu, kecewa, sakit hati, marah, kesal, sedih semuanya benar-benar campur aduk. Annisa yang selama ini udah berusaha membuka hati sama mereka malah merasakan seperti ini.
"Berarti ... mereka nanti berniat buat ketemu kan? kalau begitu, aku juga harus nyiapin diri karena pastinya Rama akan lebih memilih orang tua kandungnya di banding aku yang cuma orang lain di hidup mereka kan?"
Annisa tersenyum tipis.
"Memang selalu kayak gini kan?" gumam Annisa pelan. "Dari dulu aku selalu jadi yang terakhir dan tersisihkan. Jadi, ya wajar aja kalau sekarang aku bakalan dibuang lagi sama mereka."
Annisa mengangguk pasti.
"Ya ... sepertinya, mulai sekarang aku harus mulai nyiapin diri buat pergi dari hidup mereka."
Membayangkan saja sudah membuat hatinya sangat sakit. Annisa melipat kakinya dan menenggelamkan wajahnya ke lipatan kaki. Ia kembali menangis, benar-benar mengeluarkan tangisan yang sedari tadi ia tahan.
Tempat yang sepi dan jarang dilewati membuat Annisa puas mengeluarkan segala keluh kesah di hatinya. Ia terus menangis sambil terus memikirkan kekecewaan ini sekaligus membayangkan kalau pada akhirnya dirinya yang akan terbuang di sini.
Sampai,
Annisa mendengar suara telapak kaki yang menginjak daun kering mendekat. Annisa berusaha menahan tangisannya dan mendongak. Seorang laki-laki yang sepertinya seumuran Annisa mendekat.
"Nangis saja, saya di sini akan jaga kamu. Bahaya perempuan ada di sini sendirian. Kamu kelarin aja kesedihan kamu, jangan anggap saya di sini."
Annisa kembali menunduk dan menangis, benar-benar abai sama laki-laki tadi yang sengaja berdiri di samping pangkalan ojek dan bersantai memainkan ponselnya. Benar-benar menjaga pandangan dari perempuan yang menangis di sampingnya. Ia hanya mau menjaga karena tahu area sini sering terjadi kejahatan karena sepi.
Laki-laki itu melirik ke Annisa. Siapa yang tidak ikut sedih saat mendengar isakan tangis yang sangat menyakitkan seperti ini? Laki-laki itu mengulurkan tangannya ingin mengusap punggung yang kelihatannya sedang sangat rapuh itu.
Tapi tangannya berhenti di udara, karena takut mengganggu Annisa. Karena sungguh laki-laki itu pertama kali melihat perempuan yang sedang menangis ini ada di lingkungannya ini. Ia juga nggak mau dianggap orang jahat karena udah macam-macam.
Tapi sayang rasa kemanusiaan nya sangat tinggi.
"Maaf," ucap laki-laki itu sebelum mengusap punggung Annisa, berusaha menenangkan nya.
__ADS_1