Istri Dadakan

Istri Dadakan
Terharu


__ADS_3

"Kedatangan saya kesini bersama dengan istri saya bukan untuk menambah masalah. Karena semua warga di sini juga tau kalau masalah ini sudah clear. Tapi kami ke sini itu untuk membersihkan nama kami, terutama nama istri saya yang sudah terkesan kotor bagi sebagian warga di sini."


Bram menyergap perlahan lengan Annisa di bawah meja. Tak lupa ia beri usapan kecil sebagai atensi memberi semangat pada Annisa yang mungkin sedang sedih.


Bram kembali menatap ke arah kepala desa di hadapannya dan beberapa warga yang memang sengaja ia undang untuk memberi tahu mereka bahwasanya Annisa tidak salah di sini.


"Saya masih ingat dengan jelas beberapa ibu-ibu dan bapak bapak yang ada di sini bilang kalau istri saya penipu."


Bram beralih menatap Annisa dan merangkulnya.


"Di sini saya hanya menegaskan kalau Annisa nggak menipu sama sekali. Di sini pure kesalahan orang tuanya. Penipuan ini dilakukan orang tuanya tanpa ada yang tau sama sekali. Jadi, jangan pernah menyimpulkan kalau istri saya juga terlibat dalam penipuan ini ..."


Bram menatap satu per satu orang di sana.


"Pokoknya ... masalah ini selesai. Tapi saya minta tolong pada kalian semua, barang siapa yang bertemu dengan orang tua Annisa. Saya minta tolong untuk beri tahu ibu Dini dan nanti ibu Dini akan langsung menghubungi saya."

__ADS_1


"..."


"Saya memang menyelesaikan masalah ini. Tapi urusan orang tua Annisa akan saya yang selesaikan. Kalian tidak perlu melakukan ini itu. Jadi ... saya minta tolong untuk bantuannya."


Setelah menyelesaikan masalah ini dan Bram lega karena sudah mengutarakan isi hatinya. Baru Bram dan Annisa keluar dari rumah kepala desa.


"Mas ... padahal nggak perlu ngelakuin ini mas. Aku nggak enak sama kamu. Padahal biarin aja mereka ngomong apa, yang penting kita semua baik-baik aja. Aku beneran nggak peduli sama omongan banyak orang."


"..."


Bram terkekeh.


Annisa masih saja merasa nggak enak padahal mereka ini suami istri. Ia menarik pelan tubuh istrinya ke rangkulannya.


"Apa yang kamu pikirkan sih? mas cuma mau nama istri mas baik di mata semua orang. Mas nggak mau ada orang yang mandang buruk kamu padahal kamu nggak salah sama sekali. Toh ini memang tugas mas kan untuk mengembalikan nama baik kamu?"

__ADS_1


Bram mengusap pelan pipi Annisa.


"Aku tuh selalu terharu sama semua perbuatan kamu mas." Annisa berujar. "Jujur aja aku kadang masih kaget sama tingkah kecil kamu yang buat aku benar-benar merasa di hargai."


"Sudah tugas mas kan?"


Bram membuka pintu mobil dan membiarkan Annisa masuk.


"Sekarang kamu nggak perlu mikirin masalah ini lagi," ucap Bram sedikit menunduk, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Annisa. "Setelah ini, mas mau kita kembali dan kita harus langsung cek dedek bayi di perut kamu. Dan setelah itu mas harap kamu nggak perlu mikirin hal aneh yang buat kamu capek saja."


Bram tersenyum tipis.


"Cukup mikirin mas, Rama dan dedek bayi saja. Okei!"


Annisa terdiam untuk sesaat sebelum mengangguk. "OKE!"

__ADS_1


__ADS_2