Istri Dadakan

Istri Dadakan
Kontrol Emosi


__ADS_3

“Seorang anak tuh selalu menjadi kebanggaan orang tuanya. Di saat semua orang tua akan terus memaafkan kesalahan anaknya. Tapi kenapa ibu sama bapak malah memperlaku kan anak kalian seperti ini? Kayak kalian sebenarnya nggak mau kalau kami ada di sisi ini. Apa ibu sama sekali nggak ada sayang sama aku dan kak Namira?”


“Sayang? Buat apa kami sayang sama anak yang bahkan nggaj memberikan apa-apa untuk ibu.”


Annisa tertawa dan menggeleng.


“Ibu nih sebenarnya apa sih. Kenapa sebagai orang tua ibu nggak punya hati sampai kayak gini. Aku beneran nggak paham sama apa yang ada di pikiran ibu. Aku sama kak Namira itu anak ibu kan?”


“Kamu mengira ibu bohong selama ini!”


“Bukannya begitu, Bu. Tapi ... sebagai orang tua ibu beneran aneh banget. Kenapa kalian selalu membahas uang, uang, bahkan kalian terlalu memprioritaskan uang di banding anak sendiri. Bahkan kalian nggak pernah peduli sama kondisi anak. Kalian juga nggak pernah tuh mikirin aku pas dulu. Sing penting aku bawa uang, kalian bakal diam. Kalian gak akan pernah bertanya gimana cara aku dapetin semua ini."


"Sudah Annisa," panggil Bram mengusap punggung Annisa


Perempuan itu melipat tangan dan refleks menggoyang bahunya. Nggak mau di sentuh sama suaminya. Ia takut malah merambat emosinya.


"Alah emang kamu aja nggak prioritasin uang mulu? Terus kalau nggak mikirin uang. Buat apa kamu nikah sama suami kamu yang sekarang? Pasti itu juga karena uang kan. Gak usah munafik deh. Kamu kan pasti melakukan semuanya juga demi uang kan?"


"Uang?!"


Annisa tertawa. "Apalah artinya uang bagi aku. Kalau aku memang cuman cinta uang. Udah dari lama aku minta terus sama mas Bram dan bawa kabur uangnya. Aku bakalan foya foya, persis seperti apa yang udah kalian lakukan selama ini. Tapi apa! Aku nggak pernah melakukan itu. Aku ada di sini pure karena takdir yang membawanya."


"Munafik kamu ... Semua orang juga tau kalau uang adalah segalanya di kehidupan. Kamu nggak—


TIN!


Perempuan itu menoleh ke depan pintu dan beralih natap ke arah orang tuanya yang ikut berhenti bicara. Menatap bingung karena Annisa yang jadi diam seperti ini.


"Rama bentar lagi masuk. Aku harap ibu sama bapak nggak mempermalukan aku dengan tanya ini itu. Atau bersikap aneh. Kalau kalian memang nggak suka anak kecil. Cukup abaikan saja Rama!" perintah Annisa lalu berjalan keluar.


Meninggalkan Bram yang menghela napas kasar. Duduk di sana sambil memperhatikan orang yang selama ini udah minta terus uang darinya itu.


"Sepertinya ibu sama bapak sudah berlebihan. Saya minta kalian datang ke sini untuk mengucapkan bela sungkawa dan mau bagaimana pun. Kita lagi dalam suasana yang berkabung. Jadi, nggak seharusnya kalian malah ciptain suasana yang ribut kayak gini."


***


Begitu keluar dari pintu, ekspresi Annisa benar-benar berubah. Wajah marahnya seketika lenyap tergantikan senyuman lebar. Ia melambaikan tangan, menyambut kedatangan Rama. Perempuan itu menunduk sopan saat guru Rama ikut turun dan menyapa dirinya. Baru setelah menyalimi gurunya, bis antar anaknya meninggalkan pekarangan rumah ini.


"Bagaimana les nya hari ini? Bukannya hari ini banyak les yang kamu sukain? Pasti seneng banget kamu kan?"


Rama tersenyum lebar dan mengangguk.


"Tapi mamah udah nggak sedih lagi kan?" tanya Rama dengan sendu sambil memeluk mamahnya itu dengan sangat erat. Ia menumpu tubuhnya di tubuh Annisa. "Aku bawa sesuatu biar mamah nggak sedih lagi!"

__ADS_1


"Apa itu?" tanya Annisa, berharap


Rama melepas pelukan dan menaruh tas ranselnya di bawah. Membukanya dan merogoh ke dalam tas merah yang selalu menjadi favorit anak itu. Rama mengeluarkan sebatang mawar, cokelat dan sebuah gambar.


"Khusus buat mamah. Biar mamah nggak sedih lagi. Jadi, mamah nggak boleh sedih lagi ya. Aku nggak suka lihat mamah sedih! Pas liat mamah sedih. Aku jadi inget, kalau mamah sering bujuk aku pas sedih. Mamah buat aku gak sedih lagi. Makanya aku mikir kalau harus lakuin yang sama. Jadilah kayak gini. Aku nanya ke guru aku."


"Dan ini yang di bilang sama guru kamu?" tanya Annisa sambil menunjukkan semua barang yang ada di lengannya


Rama mengangguk. "Guru les Rama bener kan?"


Annisa tersenyum simpul.


"Padahal mamah nggak perlu sejauh ini untuk di tenangin sama kamu. Bahkan cuman di peluk sama kamu aja udah buat mamah senang bukan main. Kamu udah memberikan afeksi berbeda di hidup mamah. Jadi, mamah nggak akan sedih lagi kalau ada kamu di sisi mamah."


Anak itu memiringkan wajah dan menatap semua barang yang udah berpindah tangan ke Annisa itu.


"Berarti semua barang itu nggak berguna dong?"


Annisa menunduk dan menggeleng. "Bukannya nggak berguna. Jangan diambil juga. Karena ini buat mamah jadi makin baik lagi. Oh iya gambar apa ini?" tanya Annisa sambil membuka kertas yang sejak tadi tertutup.


Di sana ada seorang perempuan dan anak kecil.


"Mamah dan aku!" balas Rama lalu menunjuk tulisan yang ada di sana. "Mamah bisa lihat tulisannya. Ada forever. Aku harap mamah juga ada selamanya di samping aku. Mamah jangan pergi lagi ya di hidup aku."


"Bentar ... kenapa kamu bisa kepikiran sejauh itu?" kaget Annisa. "Maksudnya, kenapa kamu bisa kepikiran kalau mamah bakal ninggalin kamu? Padahal mamah dan yang lain nggak pernah singgung masalah ini."


"Aku baru sadar kalau bunda pergi ninggalin aku dengan sengaja. Bunda kayak yang nggak sayang dan peduli sama aku. Makanya lakuin itu semua. Jadi, aku berpikir kalau gimana nanti mamah ngelakuin yang sama? Padahal aku udah sayang banget sama mamah. Aku nggak mau kalau sampai mamah ninggalin aku. Pasti sedih banget ya. Aku punya harapan besar sama mamah. Jadi aku mau terus bilang ke mamah, untuk ada di sini terus. Jangan pernah mamah kepikiran untuk ninggalin aku."


Hati perempuan itu menghangat.


Semua kekesalan yang sejak tadi membelenggu hatinya kini seakan lenyap saat mendengar penuturan dari seorang anak yang nggak tahu apa-apa itu.


"Mamah nggak bisa janji, karena mamah nggak akan tau apa yang akan terjadi ke depannya. Mamah tidak tau takdir seperti apa yang akan membawa kita nanti. Hanya saja ... mamah akan usahakan lebih lanjut supaya kamu mendapat apa yang kamu pinta ini. Mamah akan berusaha dengan gigih supaya terus bisa merawat kamu."


"Ah mamah buat aku sedih," rengek Rama


Lalu meminta pelukan pada Annisa. Tanpa pikir panjang Annisa langsung membalas pelukannya. Setelah puas, mereka saling melepas pelukan. Terutama saat Annisa mendengar suara dari perut anaknya, tanda Rama lapar.


"Oh iya, Rama. Ada yang mau mamah kasih tau."


Langkah anaknya berhenti dan dia menoleh bingung pada Annisa.


"Di dalam rumah ada nenek sama kakek. Nanti kamu sapa mereka ya. Tapi nggak usah tanya apa-apa karena kakek dan nenek habis perjalanan jauh. Takut mereka kecapean dan nggak sengaja bentak kamu. Kamu cukup salim saja sama mereka ya. Kamu ikutin mamah aja."

__ADS_1


"Nenek dan kakek?" bingung Rama. "Oma sama opa datang lagi ke sini?!" serunya dengan sangat excited.


Annisa menggeleng. "Bukan opa sama oma dari orang tua ayah kamu. Tapi nenek dan kakek dari orang tua mamah. Kamu belum pernah ketemu. Eh pernah deh waktu mamah sama ayah kamu nikah. Tapi mamah cuman takut kalau kamu lupa aja. Makanya mamah jelasin lagi."


"Ah ..." Rama mengangguk mengerti. "Berarti aku cukup salim aja sama mereka. Terus ikutin mamah ya?"


"Pintar!"


Rama memegang tali ranselnya dan beranjak ninggalin Annisa.


"Rama," panggil perempuan itu lagi membuat langkah anak laki-laki itu terhenti dan menoleh ke belakang. Annisa sigap menunjukkan tiga barang yang ada di tangannya. "Makasih banyak ya atas semua ini. Mamah jadi nggak sedih lagi dan ini semua karena kamu. Kamu memang selalu berhasil bikin mamah jadi bahagia. Mamah beneran bangga banget sama kamu!" puji Annisa. "Mamah juga akan kasih figura gambar kamu ini. Karena keren banget!"


Anak itu tersenyum kecil dan mengangguk sambil mengacungkan jempol. "Siap mamah!"


Lalu keduanya masuk. Begitu masuk, Annisa menaruh barang di pinggiran meja dan langsung menggiring Rama menghampiri orang tuanya yang masih duduk santai itu.


"Ibu, Bapak, ini Rama. Mungkin waktu itu kalian belum kenalan lebih lanjut. Rama baru pulang les. Ayo Rama tolong salam ke nenek sama kakek."


Rama tersenyum simpul dan menyalimi lengan nenek dan kakeknya. Sedangkan Ibu Marni dan Bapak Wahyu hanya membalas dengan sedikit paksaan.


"Oh iya, bu, pak. Kalian istirahat dulu aja ke kamar tamu. Nanti kalau ada apa-apa jangan lupa panggil aku aja ya."


Setelah Annisa sama Rama pergi, Bram langsung berdiri dan meminta dua mertuanya untuk mengikuti dirinya itu. Mereka langsung sigap berdiri dan mengikuti Bram sampai ke sebuah kamar yang sebenarnya sangat luas untuk ukuran kamar tamu.


Walau hanya ada kasur, meja dan lemari. Kamar bernuansa warna putih dan abu-abu ini sangat nyaman. Karena walau jarang di tempati. Tempat ini selalu di bersihkan oleh para pekerja di sini.


"Selimut ada di dalam lemari kalau ibu sama bapak mau istirahat. Handuk ada di dalam laci. Kalau laper ambil aja makanan di dapur. Ada makanan berat atau cemilan. Tapi kalau bingung, panggil aja saya atau Annisa," pinta Bram berusaha sopan.


"Ya ... Ya ... Ya ... sudah tinggalkan kami saja. Kami bisa mengurus diri kami sendiri."


Bram mengangguk dan meninggalkan mereka di depan pintu.


Begitu Bram pergi, Ibu Marni membuka topi dan kacamata hitamnya lalu masuk diikuti bapak Wahyu yang sejak tadi berusaha melihat seisi rumah.


"Bu ... kayaknya nggak adil banget kalau anak kita tinggal di tempat seluas ini. Banyak barang bagus banget lagi. Padahal kita tinggal di rumah yang kecil kayak gitu. Bapak nggak puas kalau kita cuman tingkat dua doang. Tapi ukuran rumahnya jauh banget sama yang ada di sini."


Ibu Marni mengangguk. Ia duduk di pinggiran kasur dan menekan-nekan kasurnya. Tubuhnya terlambung pelan.


"Kasurnya juga enakan yang di sini mas!" tambah ibu Marni dengan kesal.


"Tuh kan! Nggak bisa kayak gini. Kita harus buat perhitungan sama Annisa. Enak aja anak kita hidup dengan enak di sini. Alah ... bapak kesel banget sama Annisa. Kalau nggak inget sama suaminya. Bapak udah marah besar sama dia."


"Sama mas ... aku beneran kesal banget sama dia. Kayak ya ampun dia tuh jadi kurang ajar banget sama kita."

__ADS_1


"Iya kan ... tapi mas mohon. Kamu coba kontrol emosi kamu. Karena mas nggak mau karena kita yang gini suami nya Annisa jsdi marah dan malah nggak ngirimin uang ke kita lagi. Mas mohon kontrol emosi kamu ya."


"Iya mas ..."


__ADS_2