
Begitu masuk ke dalam rumah, tangan Annisa langsung di tarik sama ibunya. Saat udah di tempat yang lumayan tertutup, ibunya itu mendorong pelan Annisa hingga dirinya yang belum siap apa-apa terhantam ke tembok belakang dan mengaduh.
"Kamu nih memang nggak ada otak kah? sudah ibu bilang buat pulang duluan dan jangan bawa mereka! Terus kenapa sekarang mereka ikut pulang. Kamu mau lihat ibu di marahin sama mereka?"
Annisa mengaduh dan balik menatap kesal pada ibunya.
"Lagian ibu sendiri, kenapa ibu nggak hati-hati. Harusnya ibu tau kalau ini bukan rumah ibu, jadinya ibu bisa hati-hati. Kalau ibu di marahin, kemungkinan besar Annisa juga bakal di marahin. Nggak usah ngomongin ibu sendiri karena di sini Annisa juga bingung."
Ibu Marni memijat keningnya dan berjalan mengitari Annisa.
"Sekarang kamu cepat mikir deh, apa yang harus kita lakuin. Biar nggak di marahin sama mereka. Ibu beneran nggak mau jadi bulan-bulanan suami apa lagi mertua kamu. Harga diri ibu bisa tercoreng."
Annisa terdiam.
"Ibu mengaku aja ya sama mas Bram," pinta Annisa dengan sangat mohon. "Aku yakin mas Bram bakalan maafin ibu kalau ibu mengaku dan minta maaf."
"Apa-apaan kamu!" histeris ibu dengan berbisik.
"Bu," rengek Annisa, ia menggeleng. "Cuma itu satu-satunya cara loh yang bisa kita lakuin. Ibu cukup mengaku dan minta maaf. Terus selanjutnya Annisa yang bakal urus."
"Harga diri ibu ..."
Annisa berlutut dan menggenggam tangan ibunya. Dia menatap dengan penuh mohon. Sesekali ia mengusap keringat yang berjatuhan. Tanda dia benar-benar sangat gugup sekarang tuh.
"Annisa janji kalau ibu nggak bakal di apa-apain. Biar aku yang kena akibatnya. Nanti kalau mas Bram marah, biar aku yang di marahin. Tapi cukup ibu yang mengaku dan—" Annisa menoleh ke segala arah. "Di mana bapak? kenapa nggak lihat bapak dari tadi."
"Alah ... ngapain cari bapak kamu? buat minta maaf juga? bapakmu itu pengecut. Dia malah kabur, nggak tau ke mana dan nyuruh ibu yang selesaiin masalah sendiri."
Annisa meringis. Kembali menatap ibunya itu yang masih terus menggerutu marah.
"Bu, aku mohon ya ... kali ini aku minta sesuatu sama ibu. Aku cuma minta ibu ngaku doang—
"Annisa," panggil Bram dari luar membuat Annia semakin menatap memohon pada ibunya itu.
"Bu ... aku mohon."
"Ya sudah lah." Ibu Marni mendorong tubuh anaknya dan mereka keluar dari tempat persembunyian.
"Kalian dari mana aja?" tanya Bram sambil menuang air putih. Ia menatap kedua wanita yang kelihatan gugup. Bram tau apa yang mau mereka ceritakan, tapi ia memilih diam dan pura-pura nggak tau.
"Mas ..."
Bram berseru nikmat lalu menaruh gelas air. "Kenapa Annisa?"
"Ibu mau mengaku sesuatu sama kamu," ucap Annisa lalu memberikan gesture pada ibunya. Tapi Ibu Marni malahan menggeleng membuat Annisa tersentak dan menghela napas kasar.
"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Bram sambil menatap mereka satu per satu. "Ibu mau mengaku apa?"
"Itu Annisa—
__ADS_1
"Ibu mecahin koleksi gucci kamu!" seru Annisa dengan cepat sebelum ibunya malah mengatai hal buruk tentang dirinya. Annisa memilih diam saat mendapat senggolan cukup kencang dari ibunya dan cubitan di punggung.
"Maafin ibu ya mas. Ibu nggak sengaja."
Bram beralih menatap mertuanya.
"Gucci mana yang pecah? dan kok bisa sampai pecah. Gimana kronologinya?"
Ibu Marni mendumel dan menyalahkan Annisa sebelum ia kembali menatap menantunya itu.
"Gucci yang ada di antara dapur sama ruang televisi," beri tahu ibu Marni dengan pelan.
Bram langsung mencari Gucci yang di maksud dan meringis saat tempat Gucci yang dimaksud udah kosong. Semakin meringis saat sadar kalau Gucci yang di maksud mertuanya adalah koleksi paling mahal yang ia punya.
Bram berusaha menetralkan wajahnya, tidak mau terlihat marah karena Bram melihat Annisa yang terus menunduk. Sangat ketakutan. Sampai Bram tidak habis pikir karena melihat mertuanya yang jauh lebih santai ketimbang anak nya sendiri. Yang tidak salah apa-apa.
"Ya sudah ... terus kenapa bisa pecah?"
Ibu Marni menelan saliva dan menatap menantunya itu dengan ketawa lirih.
"Waktu itu kan malem, ibu bangun tuh. Nah yang ibu tau kalian pulang. Soalnya kamu sendiri yang bilang kalau mau pulang waktu itu juga. Terus ibu dengar suara suara dari arah dapur. Makanya ibu buru-buru dan dalam kondisi gelap ibu langsung jalan aja, nggak lihat sana-sini. Eh tiba-tiba ibu malah nabrak Gucci itu. Terus pas ibu kaget dan agak sadaran dari ngantuk ibu. Ibu langsung sadar kalau nggak ada orang di dapur."
Ibu Marni memeluk dirinya dan mengusap lengannya sambil bergidik
"Kayaknya di rumah kamu ada hantunya deh. Ibu yakin kok kalau dengar sesuatu. Tapi pas datang malah nggak ada apa-apa," ucapnya yang malah mengalihkan pembicaraan. "Dan .. kalau aja kalian nggak ngomong mau pulang waktu itu. Pasti ibu nggak bakalan turun dan cek keadaan. Jadi ini tuh salah kalian."
"Namanya juga orang tua. Penglihatan udah kabur. Jadi wajar dong kalau—
"Sudah, sudah ..." pinta Bram menengahi. "Sekarang di mana bekas Gucci itu dan ibu sudah beresin semua ini kan?"
Ibu Marni mengangguk.
"Ibu taruh di gudang."
"Ya sudah ..."
"Bram tidak marah?" tanya ibu Marni.
"Mau marah juga nggak mengembalikan Gucci itu jadi utuh kan?" seru Bram walau di hati ingin rasanya menjerit. Di antara banyaknya koleksi Gucci yang dia punya. Kenapa malah Gucci itu yang malah pecah.
"Ya sudah ... ibu juga tau kalau kamu nggak bakalan marah sih," ucap ibu dengan santai. "Kan kamu punya banyak uang, jadi cuma Gucci doang mah palingan nggak masalah buat kamu. Kamu bisa beli lagi. Udah ibu kira sih, jadi ibu nggak terlalu takut. Memang Annisa aja yang lebay dan ngomong ke ibu kalau kamu bakalan marah."
Wajah Bram langsung berubah datar.
Bram menyesal karena sudah memaafkan mertuanya kalau tahu sikap mertuanya malah seperti ini.
"Bu ..."
"Iya?" Ibu Marni yang mau pergi langsung berbalik.
__ADS_1
"Bram sangat suka koleksi Gucci, semua Gucci yang ada di sini bukan produk biasa. Karena Bram selalu ikut lelang atau memang pesan atau bahkan beli karena itu Gucci yang limited edition. Bukannya Bram bohong ... tapi semua Gucci yang ada di sini tuh berharga. Sedangkan ..." Bram menarik napas dalam sejenak. "Yang ibu pecahin salah satu Gucci yang cuma di keluarkan lima di seluruh dunia. Yang pastinya Bram menebus Gucci itu dengan harga mahal. Bukan mahal lagi, tapi sangat mahal ..."
Kedua wanita itu terdiam.
"Tadinya Bram nggak mau nuntut apa-apa karena ya sudah lah, semua udah terjadi walaupun sedikit nyesek lihatnya sih," balas Bram.
"..."
"Tapi ngeliat ibu yang malah santai dan ngomong kayak tadi buat Bram agak sedikit kesal ya."
Bram menatap serius.
"Bram memang punya uang tapi apa pun itu nggak perlu di remehkan sama sekali. Bahkan dari tadi Bram nggak dengar ucapan maaf dari ibu. Cuma Annisa doang. Padahal di sini Annisa nggak salah apa-apa dan ibu juga malah nyalahin kami yang nggak pulang. Padahal itu nggak ada hubungan nya sama sekali."
"Itu salah kalian," sentak ibu Marni dengan kesal. Tidak terima di salahkan seperti ini.
"Kamu juga pelit banget. Berapa sih, gitu doang lebay banget."
Bram menggeleng.
"Bu ... apa harus Bram sebutin nominalnya?" tanya Bram membuat ibu Marni semakin gugup. "Nggak usah deh ... yang ada nanti ibu kepikiran. Sekarang Bram aja yang mau tanya sama ibu. Sebenarnya apa yang ibu beli pakai kartu Bram?"
Ibu Marni langsung terkejut dan menggeleng.
"Ibu nggak beli apa-apa. Apa maksud kamu nanya kayak gini?" ucapnya dengan panik. "Setelah sombong kayak tadi. Sekarang kamu mau ibu kembaliin uang yang udah kamu kasih? nggak ya ... Ibu nggak akan ngembaliin sama sekali."
Bram tertawa remeh dan menggeleng.
"Tidak ... saya tidak sejahat itu untuk meminta kembali."
Bram menyandarkan tubuhnya dan menyilangkan tangan di dada.
"Bahkan Bram bisa ngeliat rincian semua itu di HP dan sedikit kaget sih karena nggak hampir satu hari ibu belanja. Ibu bisa keluarin uang banyak banget. Kalau di jumlahin, kayaknya bisa buat beli motor deh."
Mata Annisa terbelalak dan langsung mendekati ibunya.
"Bu ... cepat minta maaf," titahnya sambil menarik ujung baju Ibu Marni. "Ya ampun, apa aja memangnya yang ibu beli! kok bisa semahal itu."
"Alah ... lebay kamu. Dasar menantu pelit!" serunya lalu meninggalkan mereka gitu aja membuat Annisa meraup wajahnya, bingung sendiri.
Ia menoleh pada suaminya yang sudah menggeleng kan kepala. Perasaannya semakin nggak enak. Dengan sangat gemetar, Annisa berjalan mendekati suaminya itu.
"Mas ... aku minta maaf. Maafin kelakuan ibu aku. Aku bakal tebus semuanya. Tapi kasih aku waktu ya," ujar Annisa. "Duh aku beneran nggak enak banget mas sama kamu. Aku ini salah banget ya. Duh ..."
Bram yang memang dasarannya masih emosi hanya diam dan kembali meminum air putih.
"Bukan salah kamu, jadi bukan seharusnya yang minta maaf itu kamu. Tapi ibu kamu!" ucapnya mendesis lalu beranjak pergi gitu aja.
Annisa meringis, ia mengikuti semuanya. "Auw!" desisnya saat merasakan sesuatu menyakiti telapak kakinya.
__ADS_1