
/Bundamu jahat./
/Bundamu bukan wanita yang baik-baik./
/Bundamu sudah membohongi kamu! Demi kepentingan hidup sendiri./
/Bundamu belum meninggal!/
/Bundamu nggak pernah peduli padamu./
Dan masih banyak lagi pemikiran buruk yang ada di benak Rama. Tapi yang anak itu pahami kalau bundanya itu nggak pernah sayang sama dirinya. Bundanya sudah bohong dan membenci dirinya, sampai nggak mau mengurusnya sama sekali.
Sejak kemarin,
Rama jauh lebih diam di banding kan biasanya. Rama terus saja memikirkan masalah ini dan itu membuat Annisa yang selalu memperhatikan tumbuh kembang Rama jadi risau. Di setiap pekerjaannya, perempuan itu selalu saja merenung dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada anaknya itu.
"Annisa?"
Perempuan yang sedang memotong sayuran itu tersentak dan langsung menoleh bingung. Menatap ling lung pada mertuanya yang sudah menatap bingung.
"Iya? Eh maaf mom, aku nggak fokus sama sekali."
"Tidak ... Tapi kalau kamu memang lagi ada masalah. Kamu nggak perlu bantu mommy masak. Kamu istirahat aja. Mom lihat keadaan kamu agak kacau. Kamu lagi ada masalah?"
"Mom ... mommy merasa nggak kalau ada sesuatu yang terjadi sama Rama?" jujur Annisa yang sudah nggak bisa menahan kebingungan nya di dalam hati dia. "Ada apa sih sama Rama? kenapa dari kemarin dia kelihatan lebih diam dan ngelamun terus. Aku tanya juga, katanya nggak apa apa. Tapi aku paham banget kalau Rama lagi ada masalah."
Mommy Chika kembali mengingat sikap perubahan cucunya dan baru sadar akan omongan Annisa yang memang benar adanya.
"Tapi ... pas mom datang ke sini, dia keliatan biasa aja kok. Kenapa sekarang malah kayak gini? Dia nggak suka kalau mom datang kah? atau bagaimana?"
"Enggak, aku rasa bukan karena hal itu. Tapi ada hal lain. Nanti aku coba tanya ke mas Bram deh. Siapa tahu mas Bram tau sesuatu. Soalnya, nggak cuman Rama aja yang berubah. Tapi, menurut aku. Mas Bram juga agak sedikit lebih diem di banding biasanya."
"Ya sudah ... mendingan kamu temuin Rama dulu deh karena Bram belum pulang. Kamu nggak usah lanjut bantu ibu masak. Mendingan kamu nenangin Rama."
"Ya udah, bu. Maaf ya aku nggak bisa bantu dulu."
__ADS_1
Mommy Chika mengibaskan tangan di udara, meminta Annisa untuk mengurus Rama saja ketimbang membantu dirinya.
Mendapat dukungan itu, dengan cepat Annisa membuka apron dan menggantungnya. Lalu, ia beranjak menuju kamar Rama. Ia ketuk pintunya. Tak ada jawaban sama sekali. Annisa ketuk lagu. Masih tak ada jawaban, membuat Annisa pada akhirnya meminta maaf pelan sebelum membuka pintu kamar anaknya.
Suasana gelap langsung menyambyut Annisa.
Annisa memejamkan mata, berusaha menahan emosi yang menggebu. Ia menyalakan lampu dan terpana melihat tubuh sang anak yang sedang terduduk di antara pintu balkon dan menatap jauh langit yang mulai berwarna jingga itu.
"Rama .."
Anak itu menoleh dan langsung mengusap air matanya. Annisa bisa melihat sejenak air mata anaknya. Perempuan itu tertegun, tetap masih berusaha mengontrol emosinya. Ia tersenyum tipis dan duduk di belakang anaknya. Membawa tubuh Rama untuk masuk ke pangkuannya. Annisa menaruh kepalanya di atas kepala Rama. Tidak menimpanya sama sekali.
"Ada yang sedang anak mamah pikirin kah?"
"..."
"Mamah tidak tahu apa yang sedang kamu alami. Tapi mamah ada sedikit cerita, kamu mau denger."
Tubuh Rama bereaksi dan ia mengangguk kecil.
"Alkisah ada seorang anak perempuan kecil yang merasa dia hanya punya dirinya sendiri. Banyak keluarga yang ada di sekeliling dia, tapi ... entah kenapa perempuan itu selalu aja merasa kesepian. Sampai suatu hari, anak perempuan itu mulai capek menyimpan semuanya sendiri. Dia nangis sendirian, tanpa ada yang tahu. Dia ketakutan. Dan ya dia menikmati rasa sedihnya sendiri."
"..."
"Sampai ... suatu saat anak perempuan itu bertemu sama seorang ibu peri yang sangat baik. Awalnya anak itu masih enggan untuk bercerita tentang kesedihan yang dia alami. Tapi semakin lama, anak itu mulai paham. Kalau dirinya itu nggak akan pernah bisa menyimpan semuanya sendiri. Dia butuh seseorang untuk menjadi pendengar di hidupnya ..."
".."
"Ceritanya sangat simple. Karena akhirnya ibu peri itu berhasil membujuk anak perempuan itu dan dia bercerita. Tapi bukan itu intinya ..."
Rama semakin tertarik dan menoleh, menatap langsung mata mamahnya. Binaran di mata Rama, sedikit membuat Annisa bersyukur kalau anaknya itu nggak sesedih tadi.
"Inti dari ceritanya ... setelah dia mulai membuka hati untuk orang lain dan berbagi ceritanya. Anak perempuan itu mulai merasa beban di tubuhnya menghilang. Dia lebih merasa lega. Karena akhirnya dia nggak menyimpan semuanya itu sendiri dan dia jauh lebih bahagia dalam menjalani hidupnya itu."
"..."
__ADS_1
"Sama seperti kamu."
Annisa menyentuh dada Rama dengan ujung jarinya.
"Di sini mamah tahu kalau kamu lagi nggak Vit atau ada sesuatu yang membuat kamu sedih. Tapi mamah juga sedih dengan fakta kamu yang nggak percayain mamah sebagai tempat kamu cerita ..."
Annisa tersenyum tipis sambil mengusap pipi Rama yang mulai menunduk. Menahan tangisnya.
"Mamah nggak tahu apa yang terjadi di sini. Dengan kamu bungkam malah buat mamah jadi nggak tahu harus apa dan bagaimana. Karena ini pertama kalinya mamah itu berada di posisi kayak gini dan menghadapi seorang anak yang ada masalah."
Annisa menarik napas dalam dan mulai menyisir rambut anaknya dengan jari jemari.
"Tapi ... mamah cuman mau bilang, kalau masih ada mamah di sini. Mamah bakal jadi pendengar yang baik buat kamu. Jadi, jangan sungkan untuk cerita sama mamah ya. Kamu nggak perlu khawatir, mamah akan marah atau kesel. Karena mamah bakalan seneng banget kalau kamu itu menjadikan mamah sebagai pendengar yang baik."
"..."
Rama mulai terisak kecil, membuat hati perempuan itu ikut perih menyaksikan anaknya yang seperti ini. Untuk sesaat, Annisa memejamkan mata menahan rasa sakit hati melihat anaknya yang seperti ini.
Annisa masih nggak mengerti.
Di umurnya yang beranjak tiga tahun, kenapa Rama bisa menyimpan kesedihan sampai seperti ini.
"Mungkin .. selama ini kamu cuman sendirian, jadi terbiasa menahan semuanya sendiri. Tapi sekarang ada mamah. Di sini ada mamah yang bakalan selalu datang di sisi kamu. Kamu nggak sendiri lagi. Ada mamah. Mamah akan selalu ada di sisi kamu."
"..."
"Tapi, mamah nggak mah memaksa kamu. Karena takut kamu jadi nggak nyaman atau nggak suka. Jadi, mamah akan nanya perasaan kamu aja tiap malamnya dan nggak akan pernah singgung masalah ini. Kecuali, memang kamu yang mau cerita sendiri."
Annisa menatap mata anaknya dengan seksama.
"Bahagia terus ya nak ..."
Dan satu detik kemudian, tubuh Annia ditubruk sama Rama. Anak itu memeluk erat dan menangis di pelukan Annisa.
"Mamah, maaf ..."
__ADS_1