
Cemburu? Satu kata yang menimbulkan banyak reaksi di benak Annisa. Karena entah kenapa sejak mendengar hal itu dari mulut Bram. Hati perempuan itu ikut berdebar. Ya siapa sih yang nggak berdebar kalau di bilang cemburu sama laki laki yang menarik perhatiannya?
Jujur saja, sudah sejak lama Annisa mulai tertarik sama Bram. Selama ini hanya tertutupi saja karena perempuan itu sangat pintar menutupinya. Tapi, di balik itu semua. Dia itu sangat pintar mengubah ekspresi. Dirinya nggak bakalan segan langsung merubah wajahnya jadi datar padahal satu detik yang lalu dirinya baru memekik bahagia.
Ah ... Annisa juga selama ini memilih memendam perasaan dia sendiri lantaran dia nggak berani bermimpi. Takutnya saat ini Bram hanya memanfaatkan dirinya atau memang Bram menikahi dia hanya butuh untuk merawat anaknya. Jadi, terkadang setiap malam Annisa harus mengingatkan dirinya untuk nggak mencintai Bram sedalam itu.
Ia hanya takut ... Takut kecewa.
Tapi?
Ini ada di luar bayangannya. Dia benar-benar nggak tahu harus mengatakan apa lagi. Dirinya terkejut. Bukankah ini pertanda kalau Bram memiliki perasaan sama dirinya? Iya kan? Atau hanya dirinya saja yang merasa geer?
Annisa menghela napas.
"Kamu ke napa?"
Annisa menoleh dan melihat suaminya itu yang sedang berdiri di depannya. Ia menoleh ke belakang, bukannya tadi Bram mengantarkan Rama untuk masuk ke timezone. Tapi kenapa sekarang malah ada di sini?
"Kamu kok ada di sini?" tanya Annisa. "Nggak nemenin Rama? Nanti dia sendirian loh. Aku mah nggak apa-apa di sini. Memang udah biasa kayak gini. Soalnya aku juga gak ngerti apa-apa kalau di dalam. Nanti yang ada malahan buat malu doang. Jadi, mendingan aku di sini ..."
Bram terkekeh dan mengacak rambut Annisa.
__ADS_1
"Anak kita sudah besar, dia lebih suka bermain sendirian dan Rama sendiri kok yang menyuruh saya untuk menemani kamu di sini." Bram ikut duduk di samping Annisa. "Kamu nggak masalah kan kalau waktu belanja bulanan kita malah kepakai karena harus mengantarkan keinginan Rama dulu? Malahan ... kayaknya kita baru bisa belanja kebutuhan rumah dua jam-an ke depan. Karena Rama pasti lama nggak sih?"
Annisa menggeleng.
"Nggak masalah sama sekali."
Annisa memandang jauh ke depan. Dari sela kaca, ia melihat Rama yang tersenyum lebar dengan matanya yang serius sambil memandangi permainan yang sedang anak itu mainkan.
"Yang penting Rama bahagia, aku bakalan senang. Aku gak peduli walaupun nanti acara belanja bulanan gagal. Karena nanti aku bisa aja belanja besok sendiri. Tapi senyuman Rama adalah yang utama."
"Kamu beneran sesayang itu ya sama Rama?" tanya Bram yang ikut terharu. "Maksudnya ... memang banyak di dunia ini yang ibu tiri dan sayang sama anak sambungnya. Tapi jarang banget nggak sih yang benar-benar setulus kamu? Kayak nggak mungkin aja gitu ..."
"Aku hanya mengikuti kata hati aku aja, mas. Karena Rama juga nggak ada hak untuk aku jahatin. Wong anak kamu itu sebaik itu. Jadi, nggak mungkin lah aku jahatin secara cuma cuma."
"Ya terus apa?"
Bram melirik tangan Annisa yang ada di atas kursi. Tanpa pikir panjang, Bram menaruh lengannya di atas tangan Annisa dan buat perempuan itu langsung menoleh bingung dan menatap panik.
"Mas— Mas ..."
"Maksud mas tuh, kamu bisa setulus itu loh. Padahal di luaran sana banyak banget yang menyayangi anak sambung cuma di depan suaminya aja. Karena tujuan sebenarnya dia hanya cinta sama suaminya dan hartanya. Tapi kenapa mas bisa menemukan istri yang super baik kayak kamu. Entah doa apa yang mas lakuin sampai ketemu kamu ..."
__ADS_1
"..."
"Nggak hanya itu. Mungkin kalau nggak ada kamu, sampai detik ini mas nggak tahu sama perbuatan Sakilla. Mungkin mas hanya tahu kalau Sakilla udah meninggal dan nggak peduli sama hal seperti ini. Tapi ternyata selain menjadi hal baik di keluarga mas. Kedatangan kamu juga buat mas tau hal yang sebelumnya mas nggak tahu."
"Aku yang sebenarnya beruntung ketemu sama mas."
"Kenapa malah jadi gitu?"
"Memangnya mas lupa, aku lagi dalam keadaan apa yang main minta nikah sama kamu gitu aja? Aku terlilit hutang dan nyebabin hidup aku bisa sejatuh-jatuhnya kalau nggak ketemu sama mas ... Tapi mas datang seperti malaikat penolong yang membantu aku. Walaupun saat itu kita hanya orang asing. Tapi kamu nggak hardik aku apalagi malahan menertawakan aku. Kamu malah mau bantu aku ..."
Bram tersenyum tipis.
"Dan nggak cuman itu. Kedatangan kamu seolah membawa keberuntungan bagi keluarga aku. Dari kecil aku terus hidup susah. Seolah banyak usaha yang udah kami lakuin. Tapi nasib baik nggak pernah datang ke kami."
"..."
"Tapi ... lihat sekarang? bahkan kayaknya rumah kami udah jadi rumah besar. Walaupun aku nggak tahu. Aku tetap tau kalau kamu sudah merogoh banyak uang hanya untuk aku dan keluarga aku. Itu salah satu hal yang paling aku syukurin. Walaupun terkadang ... aku ngerasa nggak enak, karena nantinya malah ngerepotin kamu terus."
Bram menggeser tubuhnya dan merangkul Annisa. Annisa hanya bisa menunduk. Selain merasa sedih, ia juga sedang berusaha untuk menetralkan degup jantungnya.
"Ngapain ngerasa nggak enak? Tugas seorang suami tuh memang seperti itu kan? Malahan aku kaget karena di sini kamu nggak pernah ngomong masalah apa-apa sama saya. Seperti masalah mobil—
__ADS_1
"Mas tahu?" seru Annisa yang terkejut sambil memandang suaminya itu.