
"Bu?!" histeris Annisa sambil memegang pipinya yang sangat perih.
"NENEK!" seru Rama yang ikutan histeris dan masih terkejut, saat melihat tantenya yang sangat dia sayang. Di tampar tepat di depan matanya. "Apa-apaan nenek! kita nggak boleh main tangan dan kenapa nenek main tampar tante aku yang baik ini!" seru Rama yang nggak bisa menerima sama sekali
"Alah berisik kamu," seru ibunya Sakilla sedikit mendorong Rama.
"EH!" marah Annisa langsung berdiri tepat di depan Rama. Ia menoleh dan menggeleng, meminta Rama untuk nggak ikut campur sama masalah ini. "Maaf ya bu ... tapi jangan bawa Rama ke masalah ini. Ibu ada masalah? marahin saya! jangan bawa Rama. Dia nggak tahu apa-apa."
"Alah ... dasar perempuan penggoda! apa yang kamu lakuin sama menantu saya? jauh-jauh kamu dari cucu sama menantu saya. Kamu nggak pantas di sini. Perempuan yang cuman mau harta doang, nggak pantas ada di sini."
"Tapi maaf ... kayaknya ibu ngomongin diri ibu sendiri ya? bukannya kedatangan ibu ke sini mau mencuri barang yang ada di sini? jadi nggak usah nuduh saya ini itu. Karena ibu sendiri yang mau ngelakuin itu kan?" seru Annisa yang gak mau kalah sama sekali.
"Alah ... ngomong apa kamu?" tanya si ibu itu dengan sangat marah dan kesal. "Nggak usah mangkir kayak gitu. Kamu penjahatnya di sini."
"ANAK IBU YANG JAHAT!" pekik Annisa yang tidak tahan.
Belum pergi, rambut Annisa malah di tarik sangat kencang membuat perempuan itu memekik kencang. Annisa hanya berusaha mendorong ibu Sakilla karena nggak mau dia menyakitinya. Tapi melihat Annisa yang diam malahan membuat ibu Sakilla tersenyum penuh kemenangan dan malah menarik rambut Annisa yang lainnya. Membuat perempuan itu benar-benar memekik kesakitan.
Melihat itu Rama mundur teratur. Ia sangat ketakutan dan langsung berlari masuk ke dalam mansion.
"Ayah!" teriaknya begitu masuk. "Ayah di mana. Tolong, tolongin tante ..."
Beberapa pegawai datang untuk menenangkan Annisa, tapi Rama menggeleng dan menunjuk ke area depan. Membuat mereka langsung berlarian ke luar saat mendengar teriakan dari Annisa.
__ADS_1
Melihat ayahnya yang belum turun, Rama langsung berlari naik ke atas. Dia mencari keberadaan sang ayah.
"AYAH!" pekiknya lagi.
Dan tak lama Bram keluar dari kamarnya dengan rambut yang basah. "Kenapa nak?" tanya Bram dengan santai. "Kamu kenapa keringatan kayak gini? di mana tante kamu? kamu habis jalan sama tante kamu kan?"
"Ayah ... tante di lukain sama nenek di luar. Tante kesakitan," beri tahu Rama dengan histeris sambil menutup wajahnya yang menangis. "Tante nangis. Ayah, bantuin tante. Aku gak mau turun. Aku nggak mau lihat muka tante yang kesakitan. Aku ikutan sedih lihatnya."
Bram yang mendengar langsung berlarian turun ke bawah dan di sana sudah ada banyak pegawai yang membantu Annisa. Tapi ibunya Sakilla sama sekali nggak mau melepas dan terus menyakiti perempuan itu.
"Lepas!" pekik Bram membuat semua orang di sana terdiam. Bram memerintah semua pegawai pergi dari sana, biar dia sendiri yang menyelesaikan sisanya.
"Bu ... tadi aku udah jelaskan. Jangan sentuh keluarga aku. Tapi apa ini? di mana janji ibu yang tadi? ibu masih mau uang aku. Tapi ibu nggk bisa ikutin apa yang aku minta ... apa ini imbang? nggak ..."
Bram menarik tangan Annisa setelah mendorong mertua nya tanpa rasa kasihan sama sekali. Bram langsung saja menahan Annisa berada di belakang tubuhnya.
"Dari dulu saya selalu diam saat ibu melakukan sesuatu ya. Dulu saya masih menghargai ibu karena Sakilla terus saja membela ibu. Tapi sekarang? maaf ... saya beneran benci sama orang yang udah mengganggu keluarga saya. Di tambah ibu nggak hanya menyakiti istri saya. Tapi juga Rama. Cucu ibu. Dia menangis karena melihat tante yang dia sayang kesakitan karena ulah ibu!"
Ibu Sakilla mendesis.
"Ibu melakukan ini juga karena kamu!" marahnya. "Ibu kan sudah bilang ke kamu kalau kamu hanya boleh menikah sama adiknya Sakilla! tapi apa ini ... kenapa kamu malah nikah sama perempuan lain. Nggak ... ibu nggak mungkin diam saja. Ini sama seperti wasiat dari Sakilla. Tapi kenapa kamu nggak ikutin apa yang di mau sama mantan istri kamu itu!"
Bram memejamkan mata dan menahan segala emosi yang menyatu di hatinya.
__ADS_1
"Sakilla itu belahan jiwa kamu dan kamu malahan nggak mengikuti apa yang dia mau. Ibu yakin kalau Sakilla pasti sedih di atas sana."
Annisa bisa merasakan tangan Bram yang semakin mengeratkan genggaman tangan padanya. Dengan pelan Annisa mengusap lembut tangan Bram, menenangkan laki laki itu. Supaya Bram nggak ikutan kebawa emosi.
"Bu ... mau apa pun yang di pinta Sakilla kala itu. Saya gak pernah mendengar dari lubuk hati yang paling dama. Saya nggak pernah mendengar Sakilla yang ngomong seperti itu. Hanya ibu saja yang memerintah doang. Jadi ... saya harap ibu nggak membuat saya melakukan apa yang ibu mau dan ini hidup saya. Pernikahan itu bukan berjarak satu sampai dua bulan doang. Tapi lama. Jadi, saya mau menikah sama orang yang membuat saya nyaman. Bukan karena terpaksa doang."
"Tapi ... kamu nggak pilih perempuan kampungan seperti itu dong!" bentaknya. "Apa kata banyak orang kalau Rama tumbuh dengan perempuan kampungan seperti itu? saya nggak terima sama sekali."
Bram tertawa.
"Lebih baik kampungan dari pada membohongi seseorang dengan pembohongan yang sangat kejam."
"APA MAKSUD KAMU!"
"Ibu kira saya bodoh!" seru Bram yang sudah sangat emosi. "Saya tahu dan jelas tahu apa yang di sembunyikan ibu sama anak ibu selama ini. Selama ini saya berusaha diam saja. Tapi ... kalau ibu sudah kayak gini. Saya nggak akan diam saja. Saya akan bongkar kebohongan besar yang sekeluarga ibu buat sampai mempengaruhi hidup saya."
Annisa bisa melihat ibu Sakilla yang kelihatan sangat gugup bukan main.
"Sekali lagi ibu ganggu keluarga saya. Saya nggak akan segan membongkar kebohongan ini ke banyak orang dan nggak cuman itu saja. Saya juga akan menghentikan aliran dana ke keluarga ibu."
Dan saat itu ibu Sakilla hanya menatap terkejut dan meninggalkan mereka begitu saja tanpa mengatakan apa-apa. Annisa yang melihat sangat terkejut karena ibu itu benar-benar nggak berpamitan atau bahkan mengatakan maaf sama sekali.
Setelah tubuh ibu Sakilla menghilang dari balik pintu, Bram spontan menoleh ke belakang dan menatap Annisa. Mencari luka di tubuh Annisa selain pipinya yang sedikit terluka.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja?"