
Tak ada pikiran buruk yang hinggap di benak Bram. Dengan santainya ia memberikan ponselnya membuat Sakilla banyak berterima kasih dan langsung mengetik sesuatu.
Melihat Sakilla yang cukup lama. Bram memilih menghampiri supir yang ada di depan.
Sayangnya Bram terlalu lugu. Dengan ponselnya yang ada di tangan Sakilla. Perempuan itu melakukan sesuatu. Bahkan ia memfoto dirinya dan setelah urusannya selesai. Ia segera menghapus perbuatannya dan menghampiri Bram dengan wajah sumringah.
"Ini mas, makasih banyak karena masih mau pinjemin aku HP. Tadi aku udah hapus riwayat pesan sama telepon aku. Jadi, kamu nggak usah khawatir lihat pesan itu lagi. Dan sekali lagi makasih ya mas karena masih baik sama aku. Aku janji bakalan berubah jadi pribadi yang lebih baik."
"Hmm ..."
Bram melangkah pergi meninggalkan Sakilla. Tanpa menunggu perempuan itu benar-benar pergi. Ia bergegas mendatangi kamar Rama dan mengetuk pintu dari luar. Jawaban dari dalam membuat Bram langsung masuk dan seketika ia tertegun, melihat Rama yang berdiri di balik pintu balkon untuk melihat orang yang baru saja pergi.
"Anak ayah," panggil Rama lalu menghampiri Rama dan mengajaknya ke balkon begitu mendengar suara mobil yang pergi menjauh.
"Iya?"
"Gimana? perasaan kamu jauh lebih baik atau malah nambah kacau? kamu nggak jadi kepikiran macam-macam kan? ayah nggak mau kalau kamu jadi mikir yang aneh-aneh, kamu tahu sendiri kan kalau ayah ngelakuin ini demi kamu. Tapi kalau ngeliat kamu diem gini doang. Ayah jadi ngerasa bersalah karena udah ngundang dia ke sini."
Bram berdiri tepat di belakang Rama. Tangannya memberi usapan di rambut Rama.
"Ternyata aku masih bisa ngeliat orang yang lahirin aku ya. Ini kayak mimpi," gumam Rama pelan.
"Ayah juga kadang ngerasa gitu kok."
__ADS_1
Bram terkekeh.
"Ayah kan taunya ibumu ini udah meninggal. Jadi, kadang ayah juga suka kaget kalau ngeliat ternyata dia masih hidup di dunia ini dan sepertinya hidup dia baik-baik aja selama ini."
"Tapi ... kenapa dia ngelakuin itu ya yah sama aku? setiap aku tanya. Tante itu selalu aja mangkir jawaban ke yang lain dan juga setiap aku ngeluh. Tante itu malah ngomongin diri nya sendiri. Seolah dirinya yang utama. Apa dia nggak pernah bersalah sama sekali atas perbuatannya? kenapa ya yah ... kenapa kita yang sakit hati di sini. Sementara tante itu nggak keliatan sakit hati sama sekali."
Rama menoleh, memandang wajah Bram. Meminta penjelasan lebih lanjut.
"Ayah bisa lihat sendiri, muka tante itu bahkan keliatan biasa aja. Bahkan .... aku nggak ngeliat perasaan bersalah di wajah tante itu. Kayak ... apa aku memang nggak berharga ya di matanya? makanya dia bisa biasa aja kayak gitu."
Rama menarik napas dalam.
"Di sini cuma aku yang marah, kecewa, sedih, rasanya campur aduk. Tapi tante itu malah keliatan baik-baik aja dan itu sama sekali nggak imbang bagi aku."
"Kenapa kamu bisa ngomong kayak gitu?" tanya Bram lalu menarik kursi dan duduk di sana.
"Atas nama dia, ayah minta maaf ya."
Rama menggeleng.
"Ayah udah jadi ayah yang baik banget buat Rama. Ayah ngajarin aku banyak hal. Jadi, aku nggak mau nerima permintaan maaf ayah. Aku malahan makasih karena ayah udah ngundang dia kesini. Artinya aku bisa lihat langsung. Jadi, aku nggak kepikiran lagi deh."
"Hahaha, iya sama-sama anak ayah."
__ADS_1
Bram membawa Rama masuk ke dalam pelukannya. Dia memeluk dengan sangat erat. Sesekali mengusap punggung Rama.
Dua laki-laki berbeda usia itu sama-sama memandang langit sore yang begitu indah. Ketenangan yang mereka rindukan karena sejak tadi perasaan mereka sangat campur aduk. Keduanya kini menikmati kehangatan bersama dan langit malam yang begitu indah.
"Aku jadi kangen sama mamah Annisa deh," ucap Rama tiba-tiba
"Ayah juga ..."
***
Malam bersama anaknya membuat Bram harus ekstra bertanggung jawab. Karena di rumah yang sangat besar ini. Hanya ada dirinya dan Rama. Mengingat sang mommy yang memilih menginap di hotel dan pegawainya yang masih di liburkan dan baru masuk besok.
"Rama ... ayuk turun, ayah udah masak nih buat kamu."
Tak lama suara langkah kaki beradu di anak tangga terdengar dan Rama mendatangi ke area meja makan.
"Wuih, ayah masak," kagum Rama. "Duh ... udah lama banget nggak lihat ayah masak deh. Soalnya dulu sebelum mamah dateng. Ayah kadang masak buat aku kan. Tapi setelah mamah datang, ayah nggak pernah datang lagi."
Bram terkekeh.
"Toh ayah juga mau lah di masakin dan masakan mamah kamu tuh enak banget. Jadi, buat apa ayah capek-capek buat masak," jawab Bram bercanda. "Tapi ayah cuma masak ayam goreng doang. Nggak apa-apa kan?"
"Nggak apa-apa yah. Masakan ayah apa pun itu bakalan aku makan kok!"
__ADS_1
Dengan telaten, Bram menyiapkan makanan di meja makan. Rama membantu membawakan minuman. Kedua orang itu saling bekerja sama sebelum makan.
"Ah sepinya ... aku kangen banget deh sama mamah," keluh Rama pada akhirnya.