Istri Dadakan

Istri Dadakan
Tentang Kala Itu


__ADS_3

Saat ini, pasangan suami istri tersebut sudah berpisah dengan Riga yang memilih pulang karena ada urusan. Tadi, Annisa sempat memberikan nomor ponselnya yang sempat membuat Bram cemburu. Tapi laki-laki itu nggak mau meninggikan egonya terlebih dahulu dan pada akhirnya membiarkan Annisa untuk memberikan nomor ponselnya itu.


“Sekarang kamu cerita dulu tentang laki-laki tadi, baru kita pulang ...”


Annisa memutar bola matanya, jengah. Padahal di rumah sudah ada yang menunggunya, “mas aku tau kalau kamu penasaran. Tapi kamu nggak lupa kan kalau ada Rama di rumah? Kita udah pergi diem-diem aja dan sekarang kita malah lama? Apa nggak makin marah itu anak ... enggak ah, aku jelasin aja nanti.”


“Ya mas ...” Annisa mengerjapkan matanya, memasang wajah lugu supaya Bram bisa terpengaruh.


Tapi suaminya itu malah menarik paksa lengannya dan membawanya ke sebuah kafe. Ah ... memang sejak kapan Annisa bisa melawan sifat suaminya yang keras kepala ini? jadi Annisa hanya mengikuti kemana suaminya pergi.


***


“Nah sekarang jelasin!”


Bram dan Annisa sudah duduk saling berhadapan suatu sama lain. Bram juga sudah memesan minuman untuk menemani perbincangan mereka. Jadi, tidak ada alasan lagi Annisa mangkir. Sudah waktunya ia menjelaskan semuanya pada sang suami, supaya Bram juga merasa puas kali ini.


“Dari mana? pertemuan aku sama Riga? Atau kenapa aku meluk dia? apa yang masih buat kamu penasaran?” tanya Annisa serius.


“Hmmm ... semuanya? Dari awal mungkin?” tanya Bram yang juga bingung. “Atau dari kenapa kamu nggak manggil laki-laki tadi dengan sebutan ‘abang’ padahal katanya dia kakak tingkat kamu?” lanjut Bram

__ADS_1


Annisa mendesis untuk sesaat.


“Karena udah kenal deket mungkin (?)” jawabnya bingung. “Awalnya sih aku manggil Riga dengan sebutan abang kok. Tapi mungkin karena kedekatan kami, aku jadi kebiasa manggil nama dan dia juga fine fine aja. Jadi deh keterusan sampai sekarang.”


“...”


“Dulu tuh aku sama kak Namira benar-benar harus biayai hidup aku sendiri. Lebih tepatnya mungkin aku? Karena kadang kak Namira masih di hidupin sama ibu dan bapak, karena mungkin anak kesayangan?” Annisa tersenyum getir. “Ah ... ini sih yang nggak aku pahamin sampai sekarang, aku kalau misal ketemu ibu sama bapaka.  Mau ngomong enam mata dan tanya kenapa mereka lakuin hal itu ke aku dulu.”


“Annisa.” Bram menggeleng dengan senyuman lembutnya. “Udah ya ... jangan ungkit masalah ini dulu. Kasihan, kamu juga lagi hamil. Kita bahas yang baik-baik aja.”


“Ah iya ... aku lupa lagi.” Annisa tertawa polos


Annisa terkekeh dan mengusap perutnya lagi. “Maafin mamah ya nak.”


“Udah lanjut ...”


“Ah iya ... pokoknya ada suatu saat, aku lagi benar-benar butuh kerjaan karena satu bulan lagi aku harus bayar spp tapi ibu sama bapak nggak ada niatan sama sekali buat bayar. Ibu sama bapak malah nyuruh aku buat cari uang sendiri. Jadi, mau gak mau aku harus cari uang sendiri. Waktu itu tuh aku beneran frustasi banget mas, sampai tinggal tiga hari lagi aku harus bayar semuanya. Karena ya aku udah sering nunggak.”


Annisa terdiam, pemikirannya sedikit kacau mengingat masa lalu yang begitu buruk.

__ADS_1


"Pokoknya guru aku cuma bilang kalau sampai waktu itu aku nggak bayar. Berarti aku harus keluar dan aku sungguh ngak mau mas. Posisinya udah di akhir dan sayang banget kalau keluar."


"..."


"Setiap malam aku cuma berdoa supaya Allah kasih jalan dan tiba-tiba Riga datang pas aku lagi nangis sendirian dan tanya aku kenapa. Tanpa pikir panjang aku langsung jelasin kondisi aku waktu itu dan betapa baiknya orang tua Riga yang mau membantu keuangan aku dan yang lebih buat aku inget sampai sekarang. Orang tua Riga yang bawa aku ke sebuah toko dan mengizinkan aku kerja di sana."


"..."


"Banyak hal yang buat aku beneran bersyukur banget karena adanya Riga dan keluarga. Tapi sayang suatu waktu ada problem dan mereka sekeluarga terpaksa pergi dan sejak itu aku beneran nggak dapet kabar sama sekali dari mereka."


Annisa meraih lengan Bram di atas meja.


"Kalau sekarang aku keliatan deket sama Riga. Kamu nggak usah gimana-gimana mas. Itu semua karena pure aku yang memang udah anggap Riga sebagai keluarga sendiri. Di hati aku cuma ada kamu, jadi jangan khawatir ya."


Bram tersipu.


"Ah bisa aja biar mas nggak ngambek .."


Annisa terkekeh. "Kamu gemesin banget sih mas," puji Annisa lagi

__ADS_1


Wajah Bram semakin memerah. "Annisaaaa," rengeknya


__ADS_2