Istri Dadakan

Istri Dadakan
Tak Disangka


__ADS_3

"Assalamu'alaikum kak ..."


Annisa menatap nanar batu nisan yang bertuliskan nama kakaknya. Tak pernah ada di bayangannya kalau suasana seperti ini akan datang secepat ini. Nama kakaknya yang jelas dia ingat kini tinggal kenangan, menyisakan di sebuah batu nisan yang bersanding dengan nama bapaknya.


Wajah kakaknya yang tersenyum kini nggak akan pernah bisa Annisa lihat lagi. Semuanya sudah usai menyisakan sebuah makam yang terlihat baru dan ada di depannya ini.


Annisa berlutut dan mengusap batu nisan yang masih baru itu, rasanya perempuan itu tidak bisa mengekspresikan diri nya sendiri. Begitu sedih kehilangan orang yang di sayang, di tambah akhir kisahnya ini begitu rumit membuat Annisa benar-benar menyesal karena tidak mencari dari lama keberadaan kakaknya.


"Kak ... adik kakak datang nih," papar Annisa pelan.


"Kak banyak hal yang mau aku lakuin sama kakak. Aku memang marah sama kakak, tapi aku juga nggak mau kakak pergi gitu aja dari hidup aku. Kita belum ngelakuin hal yang mau kita lakuin loh kak. Tapi kakak keburu pergi gitu aja. Aku harus apa? aku sendirian kak di sini."


"Ada mas," sela Bram membuat Annisa menoleh.


Annisa tersenyum tipis dan menarik Bram mendekat membuat suaminya berlutut di samping dirinya.


"Kak ... kenalin ini mas Bram, suami aku. Bahkan kakak belum ketemu loh sama dia. Padahal dulu kakak janji bakal evaluasi laki-laki yang dekat sama aku. Tapi apa? Kenapa kakak ingkar janji kakak?"


Perempuan itu menarik napas dalam.


"Kak ... kakak tau nggak kalau mas Bram ini mantan suami dari mbak Sakilla. Orang yang kakak cintai itu," beri tahu Annisa membuat Bram refleks mengusap punggung istrinya itu, berusaha memberi kekuatan.

__ADS_1


"Dunia ini sesempit itu ya kak," lanjut Annisa dengan senyuman sendu. "Aku ketemu sama mas Bram juga karena suatu kejadian yang nggak di duga sama sekali. Tapi ... ternyata takdir inj membuat aku bisa ketemu sama kakak. Walaupun aku telat." Annisa meringis di dalam hatinya. "Kalau aja semuanya bisa ketemu lebih awal. Pasti aku bisa ngelihat rupa kakak sebelum akhirnya kakak pergi ninggalin dunia ini."


Annisa mulai menangis membuat Bram sigap membawa istrinya itu ke pelukan.


"Mas," panggil Annisa


Bram mengangguk.


"Ada mas ... nggak apa-apa, kamu keluarin aja semuanya. Pasti dari tadi kamu udah nahan nangis kan? pasti sedih. Nggak apa-apa, nangis aja. Keluarin semuanya sekarang. Tapi janji sama mas kalau ke depannya kamu nggak bakal nangis sendirian lagi."


Annisa semakin meraung di pelukan suaminya. Matanya menatap nanar makam sang kakak yang bahkan nggak bisa dia gapai sama sekali.


"Mas ... aku pernah janji sama kakak untuk nggak nangis di tengah kondisi apa pun," beri tahu Annisa dengan suara yang sangat serak. "Tapi aku nggak bisa, aku ingkar janji kakak. Aku nggak bisa nahan nangis."


"Iya nggak apa-apa, pasti kakak kamu di atas sana juga mengerti kenapa adiknya menangis. Nggak apa-apa. Gak ada yang larang kamu nangis. Nangis aja."


Bram menaruh kepala Annisa di bahunya, mengusap punggung perempuan itu. Bram pernah ada di posisi seperti ini. Dan Bram mengerti berapa hancurnya diri kita saat di tinggalkan sama orang yang kita sayang. Apa lagi orang itu sangat berarti di hidup kita dan sekarang ini, Bram nggak mau membuat Annisa seperti ada di posisinya dulu.


Sendirian.


Bram mau menemani istrinya sampai Annisa merasa ada orang yang sayang di sisinya. Masih ada orang yang akan selalu ada di sampingnya, jadi kalau sedih bisa numpahin kesedihan ke orang itu.

__ADS_1


"Mas ..."


"Iya, kenapa Annisa? ngomong aja. Jangan pendam sendirian. Mas akan dengar semua yang kamu omongin," balas Bram dengan cepat.


"Maaf ya aku nangis, aku basahin kemeja kamu," ungkap Annisa tanpa melepas pelukan. Malu kalau wajahnya yang kusut begini di lihat sama suaminya. "Baju kamu sampai basah karena aku."


Bram terkekeh.


"Nggak apa-apa, yang penting kamu bisa lega." Bram melepas pelukan mereka dan menangkup wajah istrinya. "Sekarang udah lebih lega kan?"


Annisa menggeleng.


"Aku masih sakit hati sekaligus sedih," jujur Annisa dengan pelan. "Aku tau kalau ini semua udah takdir. Tapi rasanya ini terlalu menyakitkan. Banyak hal mas yang buat aku nyesel."


"Maksud kamu?"


Annisa melepas tangan Bram dan berbalik, kembali menatap makam sang kakak. Masih sulit diterima tapi ini lah kenyataannya.


"Kenapa dulu aku nggak bersikeras larang kakak buat bareng mbak Sakilla ya—


"Aku?" seru seseorang menginterupsi membuat Annisa menoleh ke belakang diikuti Bram.

__ADS_1


Mata kedua orang itu terbelalak.


"Sakilla!" / "Mbak Sakilla?"


__ADS_2