
Setelah meminta hal itu, Bram hanya menatapnya terkejut dan tanpa menjawab apa-apa langsung meninggalkan Annisa. Seolah Bram tidak mau Annisa bertemu sama Sakilla sama sekali. Sampai sekarang juga, mereka balik kayak biasa. Berinteraksi layaknya tidak pernah terjadi hal itu. Tapi setiap Annisa menyinggung masalah ke arah sana, Bram akan diam lagi membuat Annisa geregetan sendiri.
"Mas ... kenapa sih aku nggak boleh ketemu sama mbak Sakilla?" tanya Annisa saat di sekeliling mereka hanya ada mereka berdua saja.
"..."
"Masih banyak yang mau aku bilang sama mbak Sakilla. Aku udah mikirin banyak hal. Jadi, kasih izin aku buat ketemu ya mas. Ayo dong mas ... kasih izin aku. Beneran deh aku gak akan macem-macem sama mbak Sakilla."
Masih nggak ada pergerakan dari Bram membuat Sakilla merengut di tempat duduknya. Ia menarik napas dan jadi sedih sendiri.
"Jangan bilang kamu nggak kasih izin aku buat ketemu mbak Sakilla karena kamu takut aku tuh macem-macem sama mbak Sakilla?" tuduh Sakilla dengan suaranya yang sangat kecil tapi mampu membuat atensi Bram teralihkan dan langsung memandang dirinya.
"..."
"Apa kamu masih sayang sama mbak Sakilla, makanya kamu tuh takut kalau aku macem-macem sama mbak Sakilla? makanya kamu nggak kasih izin?" ucapnya lagi dengan lebih berani. "Jangan bilang ... kemarin kamu nyuruh aku pulang juga buat ngomong sesuatu sama mbak Sakilla dan kamu nggak kasih izin aku buat nyari tau omongan kamu itu?"
Bram memiringkan wajahnya, tidak suka dengan asumsi nggak jelas Annisa.
"Mas cuma nggak mau kamu sedih lagi loh. Tapi kamu kok malah nuduh mas kayak gini?"
Annisa mengerucutkan bibirnya.
"Lagian kamu aneh, mas. Aku cuma mau minta izin buat ketemu sama mbak Sakilla doang. Nggak minta yang aneh apa lagi yang nyusahin kamu. Tapi kayak gitu aja udah susah banget. Gimana aku nggak curiga? wajar dong kalau aku curiga sama kamu. Siapa tahu kamu tuh sengaja lakuin ini? makanya aku kepikiran gitu."
Bram menaruh tas kerjanya dengan kasar di atas meja membuat Annisa menelan saliva, sedikit takut.
"Mas masih inget gimana rapuhnya kamu pas ketemu sama Sakilla waktu itu dan mas cuma nggak mau liat kamu kayak waktu itu lagi. Ngeliat kamu hancur tuh buat hati mas jadi kacau. Jadi wajar dong kalau mas larang kamu buat ketemu sama Sakilla? mas cuma nggak mau lihat kamu sedih. Tapi kenapa kamu malah nuduh mas yang enggak enggak?"
Bram mengenakan kaus kaki dengan perasaan campur aduk. Ia pakai sepatu kerjanya dan mengambil tas kerjanya lagi.
"Sekarang terserah kamu lah mau mikir apa," gerutu Bram. "Terserah ... mas ngelakuin ini semua demi kebaikan kamu. Mas nggak mau kamu ke napa-napa atau malah jerumusin kamu ke hal buruk. Tapi ya udah lah, kamu nggak bisa liat itikad baik mas. Jadi mas bisa apa ... mas pamit."
Tak ada pelukan, kecupan hangat atau salim seperti biasa nya. Bram yang berlalu pergi dan Annisa yang hanya diam di sofa karena tubuhnya benar-benar kaku mendengar omelan Bram.
"Ya ampun ... aku kenapa?" Annisa mempertanyakan dirinya sendiri dan memukul pelan keningnya.
"Kenapa aku bodoh banget dan malah nuduh yang nggak jelas. Ya ampun .. "
Annisa menggeleng pelan. "Ini pertama kalinya mas Bram marah sama aku. Aku harus apa?"
***
"Minggu depan kita harus cari sekolah bareng ya nak," perjelas Annisa supaya anak semata wayangnya itu tidak lupa sama omongan orang tuanya waktu itu. "Kamu udah mulai masuk SD. Jadi mamah marah kamu bisa lebih dewasa dan nggak banyak marah-marah karena hal kecil lagi."
Rama mengangguk sambil mengeratkan tas ransel yang ada di gendongannya itu.
Mereka sedang menunggu jemputan di luar.
__ADS_1
"Kamu udah tau mau masuk ke sekolah yang mana? kalau masih bingung, nanti mamah tanya sama ayah kamu. Mamah juga bakal cari informasi sekolah di dekat sini, jadi kamu bisa lihat-lihat dulu."
Rama mengangguk lagi.
"Terserah mamah aja, Rama ikut. Rama nggak paham sama sekolah. Mau sekolah mana aja tuh bebas. Yang penting ada temennya."
"Itu sudah pasti dong." Annisa mengusap puncak rambut Rama. "Kamu kan anak baik, jadi pasti banyak yang mau temenan sama kamu."
Rama menyengir.
Dari kejauhan terdengar suara mobil yang familiar. Mini bus bertuliskan TK Rama akhirnya tiba. Anak itu memeluk Annisa sebentar dan salim sebelum naik ke dalam mobil yang sudah di tunggu sama guru. Rama terus melambaikan sampai pas udah duduk. Hingga mini bus pergi ninggalin komplek perumahan.
"Bahagia terus nak," paparnya lalu masuk ke dalam.
Saat melangkah ke dalam rumah. Entah kenapa Annisa jadi teringat kalau tadi dia baru marahan sama suaminya. Hati ia jadi cemas bukan main dan akhirnya, Annisa melipir ke kamar mertuanya dan mengetuk pintu kamar.
"Mommy," panggil Annisa.
"Masuk saja, nak. Mommy lagi rapihin kamar."
Perempuan itu membuka pintu kamar dan melihat banyak furniture yang kemarin sore baru datang ke sini. Karena mommy Chika memang berniat menghias kamarnya supaya lebih betah di kamarnya itu. Tadi, Annisa sudah memberi penawaran untuk membantunya. Tapi mommy Chika malah melarang karena tidak mau menantunya itu kelelahan dan menyuruh Annisa mengerjakan kerjaan yang lain aja.
"Eh Annisa ... udah pada berangkat?" sapa mommy Nadya sambil mencuci tangannya di kamar mandi yang memang selalu tersedia di dalam setiap kamar.
"Iya mom ..."
"Ada apa? kayaknya kamu butuh sesuatu?"
"Mom ... Annisa boleh curhat terus minta saran sama mommy nggak?"
"Ya boleh dong!" jawab Mommy Chika dengan cepat.
Dengan yakin, Annisa menceritakan perseteruan antara dia sama Bram sejak kemarin. Hingga puncaknya tadi. Sampai Bram tidak sarapan atau melakukan kegiatan seperti biasa nya. Perasaan bersalah kembali menyergap Annisa membuat Annisa yang baru selesai bercerita itu memilih untuk menunduk.
"Kemarin aku mikir yang enggak-enggak terus mom. Sampai tadi mas Bram negasin ngomong kayak gitu buat aku sadar kalau aku tuh udah berlebihan banget. Makanya aku ngerasa bersalah banget."
"..."
"Gimana kalau nanti mas Bram marah sama akunya lama banget? terus gimana kalau mas Bram jadi benci sama aku karena ini? Terus gimana kalau mas Bram jadi nggak peduli lagi sama aku."
Mommy Chika tertawa membuat Annisa bingung dan menatapnya.
"Kamu nggak usah panik kayak gitu. Anak mommy kalau udah suka sama orang nggak bakalan sampai segitunya. Dia tuh cuma gertak aja sedikit biar orang itu sadar dan selebihnya dia nggak bakalan marah sama kamu. Kamu tenang aja."
Mommy Chika tersenyum.
"Anak mommy tuh bucin banget. Kamu tau nggak sih, dulu aja dia sama mantan istrinya nggak sampai segininya pas awal nikah. Tapi beda sama kamu, belum satu tahun nikah aja dia udah keliatan bibit bucinnya. Makanya mommy tuh cuman mau bilang sama kamu kalau kamu semangat ya hadapin anak mommy yang kayak gini."
__ADS_1
"Semangat?"
Mommy Chika mengangguk.
"Dia tuh saking sayangnya sama orang lain, malah berubah jadi posesif banget. Makanya dulu mom suka marah sama dia, karena jangan terlalu posesif. Karena banyak orang yang nggak suka kalau di posesif gitu. Kalau kamu? kamu ngerasa kesel kalau udah di posesifin atau malah suka?"
Annisa termenung.
Perempuan itu jadi membayangkan sosok suaminya yang nanti jadi sosok bucin dan melarang ia untuk melakukan ini itu karena bermaksud baik. Membayangkan itu membuat Annisa tersenyum sendiri.
"Kayaknya ... aku malah suka deh kalau mas Bram itu posesif sama aku," aku Annisa dengan jujur. "Soalnya kalau di posesifin gitu kita jadi ngerasa di sayang banget sama orang lain. Tapi ... memangnya ada ya mom orang yang nggak suka di posesifin gitu?"
Mommy Chika mengangguk.
"Tapi bagus lah kalau kamu suka sama orang yang posesif. Klop banget jadinya sama anak mommy."
Annisa tertawa pelan.
"Dan tentang pertanyaan kamu tadi. Banyak loh orang yang nggak suka di posesifin. Karena ngerasa di kekang gitu. Pokoknya begitu lah."
Annisa mengangguk.
"Tapi aku beneran takut mas Bram jadi ilfil sama aku."
Mommy Chika mengelak dengan menggeleng.
"Mom yakin kalau nanti pas pulang kerja aja anak mommy pasti udah ngelupain semuanya sama masalah ini dan balik biasa aja sama kamu. Kamu tenang aja dan nggak usah panik apa lagi khawatir kayak gitu. Pokoknya sekarang kamu yakinin diri aja dan nanti jangan lupa minta maaf."
Annisa mengangguk.
"Tapi ... sebenarnya apa alasan kamu mau bertemu sama Sakilla? apa ada urusan lagi? Kemarin belum selesai ngomongnya?"
Perempuan itu menggeleng.
"Kemaren aku terlalu kebawa suasana dan malah nangis doang. Selebihnya aku cuman marah sama mbak Sakilla. Tapi sekarang aku udah tahu may ngomong apa aja sama mbak Sakilla dan pengin sekali ketemu. Toh sekarang aku juga mulai udah ikhlas. Jadi nggak akan ada acara nangis lagi."
"..."
"Kan ... mbak Sakilla ini jadi orang yang terakhir kali bareng sama kak Namira dan karena ini, aku mau banget ketemu sama mbak Sakilla buat nanya-nanya tentang kakak. Aku jangan sama kakak dan cuman ini doang yang bisa aku lakuin. Seenggaknya ada kenangan baru yang bisa aku bayangin tentang kakak."
"Ya ampun ... ya sudah kalau begitu, nanti mommy jelasin ke Bram. Siapa tahu dia berubah pikiran setelah tahu alasan kamu."
"Makasih banyak ya mommy ... tapi, menurut mommy ada nggak cara biar aku bisa meminimalisir marahnya mas Bram sama aku."
Mommy Chika melirik jam weker di atas nakas.
"Sekarang udah jam sepuluh siang. Gih kamu masak dan bawa bekal ke kantor suami kamu. Siapa tahu dia luluh dan malah seneng banget lihat kamu datang ke sana. Bawain makanan kesukaan suami kamu itu."
__ADS_1