
Rama berulang kali memijat keningnya. Sedikit merasa kesal karena Sakilla tidak mengerti omongannya sejak tadi. Pembicaraan mereka hanya mutar-mutar. Bahkan Rama tak sempat menyebutkan semua pertanyaan yang udah Rama simpan di benaknya.
Sayang, ia keburu nggak mood.
Malas melanjutkan pertanyaannya.
"Mamah Annisa jauh lebih segala-galanya dibanding tante. Udah ya, aku males lanjut lagi. Mendingan sekarang aku tuh belajar dari pada ladenin omongan tante yang nyatanya malah nyakitin aku doang."
Rama bangkit. "Tante pulang aja dan makasih juga karena tante udah bersedia datang. Sekarang Rama nggak penasaran lagi deh. Udah ya tante."
Sakilla menggenggam tangan Rama sebelum anaknya itu benar-benar pergi. "Boleh bunda minta pelukan dulu?"
Rama memasang wajah waspada, menatap Sakilla dari atas sampai bawah dengan pandangan curiga.
Sakilla tersenyum pahit. Anaknya bahkan mencurigai dirinya sendiri. "Bunda nggak bakalan jahat sama kamu kok. Bunda cuma mau pelukan hangat dari anak bunda aja. Karena dari yang bunda pahami. Sepertinya sekarang itu pertemuan terakhir kita. Kamu nggak bakalan mau ketemu lagi sama bunda kan?"
"..."
"Please sayang ... terakhir kalinya kok."
Dengan langkah perlahan Rama menghampirinya dan memberi pelukan. Sakilla spontan menangis. Meratapi fakta kalau ini pelukan terakhir antara mereka. Egonya masih terus ada di dirinya membuat Sakilla terkadang tidak bisa mengontrol omongannya sendiri dan sekarang dia nyesal karena udah ngomong macam-macam.
Tapi, apa mau dikata? sepertinya Rama juga sudah benci dirinya dan ia nggak bisa apa-apa melainkan melanjutkan apa yang udah ia lakukan sebelumnya.
"Walaupun bunda salah kayak gini, kamu harus tahu kalau bunda sayang banget sama kamu. Walaupun bunda nggak pernah lihat kamu dari kecil. Tapi bunda selalu kangen sosok anak bunda dan ngebayangin kamu terus."
Tangan Sakilla terus mengusap punggung anak itu.
"Maaf kalau bunda mengecewakan kamu dan bunda janji akan menerima fakta kalau kamu kesal sama bunda. Bunda janji akan jadi orang yang baik. Asal kamu juga janji ya," pinta Sakilla dengan sangat memohon.
"Apa?"
"Janji untuk tumbuh jadi anak yang baik. Bunda nggak tau gimana sosok ibu sambung kamu. Tapi mengingat kamu yang terus ngomongin dia. Sepertinya dia memang baik. Jadi bunda harap kamu ikutin dia aja. Kamu harus jadi anak sukses dan jangan tumbuh seperti bunda yang malahan mengecewakan banyak orang."
__ADS_1
Sakilla melepas pelukan dan menangkup wajah Rama.
Ditatapnya wajah Rama dengan lekat-lekat. Dari mata, hidung, mulut semuanya Sakilla perhatikan dengan baik baik. Ada perasaan tak rela kalau anaknya bakalan lebih dekat dengan orang lain.
"Bunda tahu ini berat untuk kamu, tapi suatu saat nanti. Kalau kamu udah berdamai. Bunda boleh kan ketemu lagi sama kamu?"
Rama diam.
"Kayaknya kesalahan bunda fatal banget ya di kamu," lanjut Sakilla. "Ya seharusnya bunda nggak nanya lagi sih. Pasti memang fatal banget buat kamu. Tapi apa pun itu bunda minta maaf ya. Kalau kesalahan bunda buat kita nggak bisa ketemu lagi di masa depan. Kayaknya bunda bakalan diem diem lihat kamu dari jauh. Karena bunda nggak bisa lihat terus pertumbuhan kamu kan? dan sekali lagi bunda minta maaf banget ya sama kamu."
Rama tertegun. "Lihat saja nanti," jawabnya pelan.
"Sekali lagi ... kamu harus tumbuh jadi anak yang baik. Jangan kayak bunda. Kamu harus jadi kebahagiaan bagi banyak orang. Bukan kayak bunda. Pokoknya kamu harus bisa!"
"Ya udah ... aku ke atas dulu," sela Rama yang sudah tidak tahan
Sakilla kembali mengecup kening Rama dengan cukup lama. Ia rapal doa dan banyak harapan buat anak itu semakin mengepalkan tangan, berusaha menahan air mata yang terus keluar.
Setelah dilepaskan oleh Sakilla.
Rama menjatuhkan tubuhnya di atas kasur. Dengan posisi tengkurap, ia mulai menangis. Tangannya terus memukul kasur. Mengeluarkan rasa sakit yang sejak tadi dia tahan.
Sebelah lengannya ia gunakan untuk membekap mulutnya. Supaya tangisan dia tak terdengar sampai ke bawah.
"Aku benci," ucapnya di sela tangisannya. "Aku benci fakta kalau ke depannya aku nggak bakalan bisa ngelihat tante itu lagi."
Ia menghembuskan napas kasar.
"Lagian ngapain tante tadi sampai ngomong kayak tadi sih? harusnya tante tadi biasa aja dan omongannya nyelekit kayak sebelumnya. Bukan malah do'ain aku kayak gitu. Kan aku jadi lemah."
Rama menggeliat dan merubah posisinya jadi tiduran menyamping.
Tangannya memeluk guling.
__ADS_1
Air matanya masih terus turun dan berakhir sesegukan setelah Rama mulai tenang. Pandangannya mengabur akibat air mata yang terus turun.
"Aku nggak jahat kan? tindakan aku udah bener kan?"
***
Sementara itu,
Bram mendengar suaminya. Kini dengan langkah lunglai ia menghampiri Sakilla. Dia duduk dan tak lupa memberi jarak. Meski begitu, tatapannya terus tertuju ke lantai dua. Sedikit khawatir sama kondisi sang anak yang Bram kira sekarang pasti sedang nangis.
Tapi Bram harus menyelesaikan masalah antara dirinya dan perempuan di depannya ini terlebih dahulu.
"Saya nggak mengira kalau kamu akan sejahat itu memutar fakta dan untuk membela diri, kamu malah nyalahin orang lain. Kamu tuh sebenarnya punya otak nggak sih?" tanya Bram geram. "Saya beneran nggak mengenal kamu sama sekali. Ini seperti bukan kamu yang dulu. Apa sih? apa sih sebenernya yang kamu pikirin."
Sakilla hanya bisa menunduk, tanpa menjawab sama sekali.
"Saya mengundang kamu datang ke sini untuk menjelaskan yang sebenarnya ke Rama. Bukannya malah memutar fakta. Apa lagi kamu malah meremehkan dan sedikit menghina Annisa," lanjut Bram dengan sangat marah. "Padahal kamu nggak ada hak sama sekali loh. Annisa tentunya punya status jauh di atas kamu. Jadi, nggak ada hak tuh kamu ngomong jahat tentang Annisa."
"Maaf mas ..."
Bram memijat keningnya.
Laki-laki itu memandang Sakilla yang terus menunduk. Setelah sering ketemu, ini pertama kalinya Bram bisa memandang Sakilla dengan jelas dan dia bisa melihat kalau berat tubuh Sakilla turun begitu drastis. Sangat berbeda saat Sakilla masih ada di rumah ini.
Wajahnya yang begitu sayu.
"Sebenarnya apa yang kamu pikirkan untuk memilih jalan ini. Sungguh Sakilla ... saya masih terus bertanya-tanya, apa yang sebenarnya kamu lakuin di sini tuh."
Sakilla menelan saliva, merasa gugup mendapat tatapan tajam seperti itu. Tubuhnya seolah tak berkutik dan mulut nya sangat kelu. Tidak bisa merespon sama sekali.
"Saya bertanya-tanya di benak saya, apa sebenarnya salah saya sama kamu."
Bram menggeleng pelan.
__ADS_1
"Tapi ada yang benar-benar buat saya penasaran. Sejak kapan kamu memiliki penyimpangan begini?"