
Bram terbangun saat sinar matahari mengintip lewat celah jendela, ia mengerjapkan mata sebelum mengintip Annisa yang masih terlelap di pelukannya itu.
Memiringkan badan menghadap Annisa, kini Bram mencoba untuk membangunkan Annisa. Mencium sekujur wajah wanita cantik itu dengan lembut membuat Annisa mengerang kesal karena tidurnya terganggu.
"Nghh ..." keluh Annisa sembari mengeratkan pelukan pada Bram.
Bram terkekeh, lalu mengecup asal wajah Annisa berharap perempuan itu terbangun karena gangguannya. Annisa yang kesal karena tidurnya terganggu padahal masih mengantuk kini sudah membuka mata dan menatap nyalang wajah suaminya itu dengan kesal.
"Morning cantik," sapa Bram memeluk singkat dan wajah nya turun ke bawah untuk mengecupi perut Annisa yang semakin membesar itu. "Pagi juga anak ayah. Ayah udah nggak sabar bertemu kamu. Sehat-sehat ya nak di perut mamahnya."
"Mas ih ..."
Bram tergelak. "Kenapa mukanya merah banget nih?" Terus menoel pipi Annisa. Semakin merah lah wajah Annisa. "Ish ish ish ... istri mas malunya gampang banget ya. Ini baru di gombalin biasa doang loh. Gimana kalau mas keluarin jurus gombalan tingkat tinggi mas?" seru Bram dengan wajah serius.
"Mas ih!" Annisa memukul telak Bram. "Udah ah sana mandi. Bau tau," ledek Annisa berusaha menutupi rasa malunya.
__ADS_1
"Loh ya mas mau mandi dari tadi. Tapi ini ada yang nahan mas dari tadi. Jadi, mana bisa mas pergi dari sini?" seru Bram sambil menatap tangannya yang di tahan sama Annisa.
Annisa spontan melepasnya.
Bram semakin tergelak. Ia mengacak rambut Annisa. "Udah ah, masa masih malu aja sama suami sendiri. Mas mandi dulu ya. Kamu masih mau di kasur kan? eh sekarang mau sarapan apa nih? mumpung mas gak ke kantor. Mas jadi mau masakin buat kamu. Spesial buatan mas."
"Wah." Annisa langsung memikirkan masakan yang sering dimasak suaminya. "Aku gak pernah lihat kamu masak ayam bakar mas. Aku lagi mau makan ayam bakar, boleh gak? makanya pakai sambal goreng kayaknya mantap. Aku juga mau lalapan gitu mas."
"Ya udah, mas masakin ya .."
"Loh, repot kenapa? gak ada yang ngerasa repot sama sekali. Udah ah, mas mandi dulu ya."
Sekali lagi Bram mengecup kening Annisa sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Suara pintu kamar mandi yang tertutup membuat Annisa tersadar. Keningnya ditepuk dan hanya terdengar dengusan kesal dari perempuan itu.
"Ish aku kan mau ngomongin masalah ini sama mas Bram. Kenapa lupa lagi. Duh ya ampun, mana besok lagi. Nanti habis sarapan aku harus langsung bilang sama mas Bram!" tekad Annisa yang nggak mau di undur-undur lagi.
__ADS_1
***
"Bangun sayang ..."
Rama melenguh tapi masih memejamkan mata. Semalam dia tak bisa tidur karena tahu mamahnya keluar lagi dari kamarnya. Tapi Rama hanya memperhatikan mamahnya dari pintu kamarnya karena nggak berani keluar.
Anak itu takut kalau Annisa akan marah.
Bahkan tanpa Annisa sadari kalau Rama lah yang sudah memberikan selimut saat Annisa sudah tertidur. Rama baru tidur pas Bram datang. Makanya sekarang Rama masih tidur, gak seperti biasanya yang selalu bangun pagi.
Biarlah, mumpung hari sabtu. Rama libur. Jadi ia bisa bebas tidur.
"Sayang ... kita bantu ayah masak sarapan yuk. Kamu seneng kan masak bareng."
"Bentar mah."
__ADS_1
Annisa menarik selimut sang anak. "BANGUN RAMA!"