Istri Dadakan

Istri Dadakan
Suami Sigap


__ADS_3

Bram menatap nyalang satu per satu orang yang ada di sana dan langsung menghampiri Annisa, merangkulnya. Laki-laki itu berusaha memahami keadaan dan nasi berhamburan di lantai membuat dia langsung paham kalau istrinya baru saja mendapat perlakuan kurang baik dari salah satu pegawainya.


“Jelasin sama, mas ... ada apa di sini?” suara berat Bram membuat semua orang semakin gemetar


Annisa menggeleng dan menarik-narik tubuh suaminya itu, tidak mau memperbesar masalah.


“Tidak ... ada apa di sini, baru mas antar kamu ke atas, tapi jelasin. Ada ap di sini?!” tanya Bram sekali lagi


Ia menoleh dan menarik napas dalam karena Annisa yang malah terlihat ketakutan. Mau tidak mau, Bram semakin mengeratkan genggaman tangannya dan menatap dua orang perempuan yang sejak awal terlihat sangat ketakutan, entah karena apa. Tapi Bram langsung paham kalau orang itu lah yang membuat masalah sama istrinya.


"Kamu urus mereka," titah Bram pada asistennya lalu tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia merangkul Annisa dan memilih membawa ke ruangannya.


Belum sampai lift, terdengar bisik-bisik yang bertanya tentang sosok di sampingnya itu. Membuat Bram kembali menoleh dan menatap semua pegawai yang sudah mengerubungi mereka.


"Di sini saya menekankan kalau, perempuan di samping saya ini adalah istri saya sekaligus ibu sambung dari anak saya! Jadi tidak ada yang perlu bertanya-tanya lagi. Sekali lagi saya mendengar kalian berbicara buruk ke istri saya, saya tidak akan tinggal diam!"


Bram menggiring Annisa masuk ke dalam lift. Baru pintu tertutup, tubuh Annisa melemas dan menyandar di lift.


"Sebenarnya ada apa di sini? kenapa tadi ribut-ribut di luar. Terus kenapa kamu nggak hubungin mas kalau mau datang ke sini? Kan kalau hubungin mas, mas bisa jemput kamu ke bawah. Bukannya kayak gini."


"..."


"Mereka ngomong sesuatu kan sama kamu?" tanya Bram yang diangguki Annisa.


Mereka terus menuju ruangan Bram. Lalu Bram mendudukkan Annisa di sofa dalam ruangannya. Baru mau duduk di samping Annisa, atensinya tertuju ke luka di lutut Annisa. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Bram membawa kotak p3k di dalam almari kaca pada ruangannya.


Ia berlutut di depan Annisa.


"Ini kenapa bisa sampai luka, memangnya dia sampai main tangan sama kamu?"


Annisa menatap memar di lututnya dan menggeleng.


Dengan cekatan Bram mengobati luka di kaki Annisa. Sesekali perempuan itu mengaduh, tapi ia tidak mau protes karena Bram sudah mau mengobatinya.


"Sekali lagi mas tanya ... mau apa kamu ke sini? kenapa tiba-tiba banget?"


Akhirnya dengan keberaniannya, Annisa menceritakan semuanya. Dari alasan dia datang ke sini, sampai kenapa semua bekalnya tumpah seperti tadi. Annisa terlihat sangat marah dan kesal, sampai wajahnya memerah.


"Kalau mereka emang nggak percaya sama aku, kan bisa ngomong baik-baik, mas ... bukannya malah kayak tadi. Aku beneran kesel banget sih. Masalahnya di sini mom sama aku udah masak buat kamu, mas. Tapi semuanya jadi sia-sia dan kedatangan aku juga jadi sia-sia."


"Kok sia-sia sih?" tanya Bram yang sedang membuatkan minuman untuk Annisa. Yang memang tersedia di dalam ruangannya. "Nggak ada yang sia-sia, kamu datang ke sini aja mas seneng banget loh."

__ADS_1


"Maaf ya mas ..."


"Kenapa minta maaf?"


"Itu ... kan aku datang ke sini tuh mau minta maaf sama kamu, tapi sekarang malah aku buat masalah dan nggak bawa apa-apa buat kamu. Aku jadi nggak enak."


Bram memandang Annisa dengan lembut. "Kamu cantik banget hari ini," puji Bram saat sadar Annisa berdandan hari ini.


"Berarti kemarin aku nggak pernah cantik ya?" seru Annisa dengan sengaja.


"Bukan begitu Annisa ... tapi mas pangling melihat kamu yang sekarang. Nggak biasanya mas lihat kamu pakai baju formal dan dandan kayak gini. Jadi, wajar kan kalau mas ini muji kamu?"


Dengan perlahan Annisa mengangguk, "mas juga ganteng," ucapnya berbisik.


"Apa?" sengaja Bram bertanya lagi


"Mas tampan ..."


"Ngomongnya sambil lihat mas dong." Bram memegang dagu Annisa, memintanya menatap dirinya secara langsung. "Mas nggak lagi di bawah, jadi kamu nggak perlu nengok ke bawah. Lihat mas ... mas ada di depan kamu, ngomong langsung."


Annisa tersipu. Wajah tegas suaminya yang hanya beberapa jengkal dari wajahnya itu mampu membuatnya kaku. Aroma maskulin suaminya sungguh memabukkan. Membuat Annisa berulang kali berusaha menyadari kesadarannya.


"Udah ah ... nafas Annisa," titah Bram tahu Annisa menahan napasnya sejak tadi. Dia bangkit dan merogoh dompetnya. "Jadi, kamu mau makan apa? biar mas yang beli."


Bram menatap ragu.


"Nggak apa-apa, mas ..."


"Ya sudah, kalau itu yang kamu mau." Bram mengambil tangan Annisa dan menaruh uang di atas sana. "Kamu beli aja yang kamu mau. Kamu pasti tahu kan mas suka yang kayak gimana? Jadi mas serahin semuanya sama kamu."


"Ih mas nggak usah!" Annisa menaruh uang ke meja. "Uang dari kamu tuh masih banyak banget di aku. Dari pada uang kamu mubazir karena aku jarang belanja, mendingan aku pakai dulu uang yang udah kamu kasih itu."


Bram menolak dan memberi uangnya lagi.


"Uang itu untuk kamu, kebutuhan kamu. Kalau nanti ada yang mau kamu beli, kamu jadi punya tabungan dan sekarang kamu pakai uang mas aja. Mas tunggu di sini ya."


Dengan enggan akhirnya Annisa menerima uang Bram.


"Ya udah mas ... aku pergi duluan ya."


"Pusat jajanan di kantor ini ada di basemen. Kamu tinggal turun ke lantai paling bawah, nanti pas keluar lift langsung jajanan semua. Kalau udah langsung ke sini lagi. Kalau ada apa-apa juga langsung hubungin mas. Jangan diem kayak tadi. Kalau ada yang jahat juga, kamu lawan aja. Mas nggak mau punya istri yang diem aja las di tindas."

__ADS_1


"Iya mas ..."


***


"Mom kenapa nyuruh Annisa ke sini sih?"papar Bram begitu panggilan nya diangkat langsung sama mommy Chika itu.


/Loh kenapa? kamu nggak suka kalau istri kamu ke kantor? wah ada apa ini. Kamu nggak lagi sembunyiin sesuatu kan? Makanya istri kamu nggak di bolehin datang lagi. Awas ya Bram kalau kamu macam-macam. Mommy nggak akan diam aja. Walau kamu anak mommy, mommy akan pilih dan bela orang yang bener. Jadi, jangan seenaknya kamu./


Bram memijat pangkal hidungnya, pusing sendiri.


Belum menjelaskan apa yang terjadi, ia malah di marahin seperti ini. Dengan helaan napas berat, akhirnya Bram menjelaskan yang terjadi di sini dan alasan dia tidak menyukai kedatangan Annisa yang tiba-tiba.


"Aku nggak suka mom lihat Annisa yang ditindas. Kalau saja nanti Annisa pulang, aku langsung tindak tuh orang yang udah jahat sama Annisa. Awas aja ... Bram masih belum bisa lihatin sisi Bram yang lain ke Annisa. Takut dia malah takut sama Bram. Jadi, Bram sengaja nantian aja buat balas mereka. Tapi sekarang aman sih karena asisten Bram udah turun tangan. Jadi, mereka nggak akan kabur."


/Ya ampun ... mom kok nggak mikir sampai ke arah sana ya? Mom lupa kalau hubungan kalian masih baru dan masih banyak yang nggak tahu. Ya ampun .... bodohnya mom yang malah ngasih saran ini./


"..."


/Maaf ya ... soalnya daddymu itu kalau lagi marah suka di bujuk kayak gini. Makanya mom kira kalau kamu juga bakal suka. Makanya mom kasih saran deh ke istri kamu. Ternyata semua nggak berjalan baik-baik aja. Mom minta maaf ya. Kalau dari awal mom nggak ngasih saran gini, pasti istri kamu baik-baik aja sekarang./ sesal mommy Chika dari seberang sana dengan suara yang benar-benar terdengar menyesal itu.


"Nggak usah nyalahin mommy sendiri, seharusnya asisten Bram juga yang lebih pantas di marahin. Nggak seharusnya dia marah dan merendahkan orang kayak gitu. Ya ampun ... Bram baru aja denger kronologi dari asisten Bram dan Bram udah marah banget. Bisa-bisanya mereka yang tugasnya ngelayanin tamu yang datang, malah begini sama tamu. Ini kayaknya Bram harus seleksi pegawai mas lebih ketat lagi. Biar nggak kecolongan kayak gini lagi!" ucap Bram dengan menggebu-gebu


/Tapi ... istri kamu baik-baik aja kan?/


"..."


/Mom tahu kalau masa lalu istri kamu buat dia sering tergocek. Jadi, kalau ada masalah kayak gini. Mom suka was-was banget sama reaksi Annisa. Istrimu itu kalau gak diem dan melamun, pasti nangis sampai gemeter. Mom jadi khawatir, apa mom harus ke sana?/


"Tidak perlu mom, Bram bisa ngatasinnya kok. Lagian Bram nggak mau nanti Rama lihat mamahnya yang luka."


/Menantu mom sampai luka?! ya ampun!!!! Kamu nggak boleh bebasin orang yang jahat sama menantu mommy. Pokoknya buat dia luka juga dan malu kayak yang di rasain menantu mommy./


"Hahaha iya mom, mommy tenang aja. Kayak nggak tahu Bram aja ... Lagian lukanya Annisa kecil kok. Di kaki, kurang tahu juga kenapa bisa luka. Nanti Bram tanya Annisa deh. Oh iya ... mommy juga nggak perlu mikirin masalah ini lagi ya. Nggak usah ngerasa nggak enak. Annisa baik-baik aja kok. Sekarang dia lagi beli makan ke bawah."


/Dasar anak tidak tahu diri! Istri baru di permaluin sama pegawainya, kenapa malah kamu biarin keluyuran di kantor kamu? gimana kalau nanti istri kamu ke napa-napa lagi?!/


"Nggak mom ... Sengaja Bram suruh Annisa beli sendiri. Karena Bram mau denger kronologi dari sisi pelakunya. Jadi, aman kok dan tadi juga Bram udah ngumumin kalau Annisa ini istri Bram. Jadi, nggak akan ada yang berani buat ganggu lagi."


/Bagus lah kalau begitu ... tapi dari omongan kamu, mommy jadi sadar sesuatu./


"Maksud mommy?"

__ADS_1


/Coba dari awal kamu perjelas hubungan kamu sama Annisa. Pasti nggak akan tuh kejadian kayak gini./


__ADS_2