Istri Dadakan

Istri Dadakan
Khawatirnya Bram


__ADS_3

"Huft ... aku harus apa biar mas Bram nggak marah?"


Sedari tadi Annisa terus memikirkan masalah ini. Pasalnya, belakangan ini Bram keliatan sekali sangat menentang masalah apa pun yang membahas Sakilla. Suaminya itu udah di tahap membenci Sakilla dan malas sekali bicara apa pun yang berkaitan tentang Sakilla.


Annisa menarik napas jengah.


"Lagian apa yang aku harapin sih? mbak Sakilla udah buat mas Bram hancur banget dan aku masih harapin dia baik sama keluarga ini? kayaknya nggak mungkin deh. Mas Bram udah lihat banyak keburukan mbak Sakilla."


Annisa menggeleng resah.


"Tapi aku udah janji. Aku yakin kalau Rama pasti bakalan setuju aja kalau memang aku yang minta. Aku juga bisa tuh minta tolong sama Rama. Tapi kalau dari mas Bramnya aja gak boleh, apa yang harus aku lakuin?"


Perempuan itu hanya menatap resah membuat beberapa pelayan yang melihat jadi ikut khawatir. Dan tanpa Annisa tahu, pelayan yang selalu memberi kabar tentang Annisa iti menghubungi Bram untuk memberi tahu kondisi Annisa saat ini.


"Benar tuan, mbak Annisa keliatan kacau? saya tidak bisa menjelaskan. Tapi mbak Annisa seperti lagi mikirin sesuatu. Dari tadi cuma diem terus hela napas berat. Kayak ada yang benar benar di pikirin banget." Pelayan tersebut cerita diam diam di balik tiang dapur yang menutupinya sambil sesekali menatap Annisa yang duduk di meja tamu

__ADS_1


Terdengar helaan napas berat di sana.


Bram mengubah posisi duduknya dan memijat keningnya. Lagi banyak masalah di kantor dan pelayan mengabari dia dengan hal yang kurang baik.


"Kamu yakin? tapi istri saya nggak nangis kan?" tanya Bram yang netranya kembali menatap laptop di depannya itu.


/Tidak tuan ... tuan tahu sendiri kan kalau mbak Annisa jarang sekali menangis. Tapi mbak Annisa dari tadi udah lewatin jadwal makannya dan cemil buah. Untuk susu ibu hamil, tadi para pelayan di sini udah maksa mbak Annisa. Akhirnya mbak Annisa udah minum kok./


"Ya ampun ..."


Kepala Bram semakin pening.


"Tidak masalah mbak ... saya yang minta sendiri kalau ada masalah sama Annisa tolong kabari saya. Ya sudah, buat sekarang kamu tolong bujuk Annisa dulu aja. Saya harus rapat sebentar lagi, nanti saya akan menghubungi Annisa kalau lagi luang."


/Baik tuan .../

__ADS_1


Bram menaruh ponselnya dan menyandarkan tubuhnya yang terasa sangat lelah akhir-akhir ini ke kursi kebesaran nya itu. Ia menarik napas dalam dan berdiam di dalam ruang kerjanya dengan perasaan tak menentu.


"Huft ..."


Tak lama pintu diketuk dan asistennya masuk tanpa ia suruh.


"Tuan ... saya hanya mengingatkan kalau sebentar lagi tuan ada rapat," beri tahu asistennya dan Bram langsung menutup laptopnya dan mengangguk. Mengikuti asistennya menuju ruang rapat yang ada di kantor ini.


"Nanti sehabis rapat tolong kosongkan jadwal saya satu jam saja."


"Tapi tuan—


"Kalau ada kerjaan di rombak aja waktunya. Nanti saya akan pulang lebih telat, asal kasih jam kosong buat saya. Ada yang harus saya urus. Tenang aja ... saya nggak akan pergi ke mana-mana, tetap di kantor kok."


Asistennya mengangguk. "Ya sudah kalau begitu."

__ADS_1


Bram tersenyum getir. Tidak apa-apa lah waktunya akan berkurang, tapi ia akan menghubungi Annisa untuk bertanya apa yang sebenarnya terjadi.


"Semoga Annisa nggak ke napa-napa." Bram berharap.


__ADS_2