
"Nak ... nanti bunda kamu bakalan datang siang ini. Ayah harap ini terakhir kalinya kamu ngomong mau ketemu sama bunda Sakilla. Cukup kali ini dan nggak ada lagi hari-hari selanjutnya. Ayah nggak mau membuat mamah kamu jadi sedih kalau semisal tahu hal ini."
Rama menaruh tabletnya di atas meja. Berjanji kalau ini terakhir kalinya dia memaksa untuk bertemu sama bunda kandungnya.
"Ayah ... kenapa aku nggak bisa hubungin mamah ya?" tanya anak itu mengalihkan pembicaraan. "Terakhir kali mamah tuh kayak yang marah sama Rama. Rama takut tapi sedih banget waktu itu. Sekarang Rama udah mulai tenang dan mau hubungin mamah. Tapi, kenapa nomor HPnya mamah nggak bisa di hubungin."
"Hah?"
Di hatinya Bram merutuki hatinya. Kenapa dia melupakan Annisa begitu saja? Bahkan semenjak kepergian istrinya itu, ia hanya menelpon sekali dan setelahnya Bram nggak ada menghubungi Annisa sama sekali.
"Ah itu, tadi ayah bisa kok," dusta Bram. "Nanti ayah coba telepon mamah kamu deh, terus kasih hpnya ke kamu. Itu mungkin mamah kamu juga lagi sibuk. Makanya nggak sempet megang HP. Udah ... nggak usah di pikirin dulu. Sekarang mendingan kamu nyiapin diri buat ketemu sama bunda Sakilla. Inget ... sewajarnya aja. Kamu minta ke ayah karena penasaran doang kan? terus kamu juga mau nanya ini itu ke bunda kamu? tapi ... setelah ini nggak ada lagi ketemuan kayak gini. Ayah nggak enak sama mamah kamu."
__ADS_1
Rama mengangguk.
Bram mengusap kasar rambut sang anak lalu berbalik, berniat meninggalkan sang anak. Namun suara sang anak membuat langkahnya berhenti.
"Ayah ... mamah pulang ke kampung bukan karena ini kan?"
Bram tertegun.
"Bukan ... sudah nggak usah di pikirin. Bentar lagi bunda kamu datang. Siap-siap aja sana."
Bram melangkah keluar kamar Rama dengan hati kosong. Ia turut memikirkan masalah ini. Dia baru sadar kalau semua yang di omongin oleh anaknya ada benarnya juga.
__ADS_1
"Tapi ... aku sama Rama udah hati-hati banget, nggak mungkin kan kalau Annisa tau masalah ini?" gumam Bram sambil menuruni tangga. "Nggak ... semoga nggak deh. Semoga Annisa memang lagi nggak mood doang. Nggak, aku nggak mau pernikahan ini berantakan karena ini."
Bram mengacak kasar rambutnya lalu bergegas mengambil pons dan berusaha menghubungi Annisa. Beberapa saat ponsel itu hanya terdengar nada sambung tanpa di angkat sama sekali oleh Annisa. Hingga sampai panggilan ke lima, ponsel Annisa malah tidak bisa dihubungi sama sekali.
"Ya ampun ... sebenarnya ke mana Annisa? kenapa dia nggak ada chat aku juga."
Sedang sibuk dengan ponselnya tiba-tiba suara gerbang yang dibuka membuat Bram mendongak. Ia mengernyit bingung lalu beranjak keluar dan detik itu juga pandangan nya berubah menjadi datar melihat Sakilla keluar dari mobil diiringi dengan asisten Bram yang selalu menemani Sakilla selama Bram tidak bisa memantaunya.
Sakilla semakin mendekat hingga kini berdiri tepat di depan Bram.
"Hallo mas .." Menatap sekitar lalu tersenyum tipis. "Ternyata semuanya masih sama ya mas. Masih sama seperti dulu," lanjut Sakilla
__ADS_1