Istri Dadakan

Istri Dadakan
Damai atau Berusaha Ikhlas?


__ADS_3

"Nak ... kamu nggak bakal paham."


Tangan Rama terulur menepis tangan Sakilla dari lengan nya itu. Ia bangkit dan memberi jarak di antara mereka.


"Aku nggak peduli. Mau apa pun alasan tante. Faktanya tante udah buat aku sama ayah sakit hati dan super kecewa. Aku juga tau gimana beratnya ayah ngundang tante ke sini. Tapi demi aku, ayah ngelakuin ini semua demi aku. Tapi aku cuma mau denger penjelasan tante. Tapi kayaknya dari tadi aku nanya ke tante. Nggak ada tuh jawabannya sama sekali. Udah ah, mendingan tante pulang aja. Aku udah males nanya ini itu sama tante."


Rama bangkit dari duduknya dan menepuk sebentar bokongnya yang sedikit pegal dan membenarkan bajunya yang kusut.


"OKEI! Bunda nggak mikirin perasaan kalian sama sekali!" jujur Sakilla pada akhirnya membuat langkah Rama yang mau pergi itu terhenti.


Rama tertegun untuk sesaat sebelum mendekati Sakilla sekali lagi.


"Jadi ... selama ini tante beneran nggak ada tuh mikir aku sama ayah? berarti bener kan kalau tante itu egois dan tetep ngelakuin apa yang tante mau sendiri kan? tanpa mikirin aku sama ayah sama sekali."


Sakilla enggan menjawab.


"Berarti ... kalau memang tante nggak peduli sama aku. Kenapa sekarang tante sok peduli sama aku? kenapa ini tante sok ngerasa mau banyak hal dari aku? kalau tante memang peduli sama aku. Kenapa tante nggak datang dari dulu? kenapa tante nggak temuin aku pas dulu?"


Rama menarik napas dalam. Rasa sakit dan kecewa itu kembali datang.


"Aku berusaha buang pikiran kalau tante buang aku—


"Bunda nggak buang kamu sayang." Sakilla menghampiri sang anak dengan langkah perlahan. Tatapannya mulai melunak dan melihat wajah kacau Rama. Ikatan batin yang telah lama hilang seolah kembali tergerak dan Sakilla sangat sedih sekaligus bingung untuk sekarang.


Sakilla berakhir berlutut di depan Rama. Tangannya ingin menggapai pipi Rama untuk mengelusnya. Tapi tangannya hanya berhenti tepat 5 cm dari pipi sang anak dan ia mengepalkan tangan. Tak sanggup untuk menyentuh wajah anaknya sendiri.


"Tapi dengan tante pergi gitu aja. Sama aja tante udah buang aku. Tante nggak mau ngurus aku sama ayah lagi. Jadi, tante nggak usah bela diri ini itu. Karena sekarang semuanya semakin jelas."

__ADS_1


"Semakin jelas?" bingung Sakilla sambil meneliti wajah sang anak.


Dari jaraknya yang lumayan dekat, Sakilla baru sadar kalau Rama sangat mirip dengan Bram. Anaknya sudah begitu besar dan tinggi. Rasanya Sakilla seperti dipukul telak melihat pertumbuhan Rama yang nggak pernah ia lihat sama sekali dari dulu.


Bahkan,


Dulu ... dirinya nggak melihat wajah anaknya sama sekali dan memilih melakukan rencananya begitu saja. Tanpa mikir hal aneh sama sekali.


Rama melambaikan tangan di depan wajah Sakilla dan perempuan itu tersadar dari lamunannya.


"Awalnya, banyak yang mau Rama tanya sama tante. Tapi baru pertanyaan pertama aja tante udah ngomong gini dan ya ... tanpa harus nanya pertanyaan sisanya. Aku udah jelas tahu kalau tante nggak pernah peduli sama aku. Udah lah, aku juga bingung harus apa. Intinya ... aku mau makasih karena tante udah ngelahirin aku di dunia ini. Makasih atas sembilan bulannya dan maaf kalah dulu aku udah ngerepotin tante."


Sakilla menggeleng kuat-kuat.


"Nggak ada yang ngerepotin Rama. Bunda sayang sama kamu." Sakilla membawa kedua lengan Rama dan langsung menggenggamnya erat. "Maaf ... maafin bunda. Tapi, apa nggak ada kesempatan sama sekali buat bunda untuk deket sama kamu? bunda beneran nyesel karena udah nggak peduli dan jahat sama kamu. Tapi bunda janji kalau ini cuma salah paham aja dan bunda nggak bakalan ngelakuin apa yang kamu nggak suka."


"..."


"Tante," ucap Rama menghentikan seruan Sakilla. "Telat," lanjut Rama dengan suara yang gemetar. "Tante telat. Aku udah nemuin semuanya di sosok mamah Annisa. Kalau aja dari awal tante nyariin aku, mungkin aku bisa pertimbangin. Tapi nyatanya kedatangan tante yang sekarang aja atas perintah ayah. Mungkin kalau ayah nggak ngajak ke sini. Sekarang kita masih belum ketemu."


"..."


Rama menarik napas dalam.


"Aku nggak mau di cap sebagai anak yang durhaka. Tapi aku beneran nggak bisa nerima tante lagi. Aku keburu kecewa dan sakit hati. Terserah tante mau anggep aku gimana. Tapi yang tante harus tahu, pilihan aku sekarang tuh atas keputusan aku sendiri. Jadi, tante jangan salahin mamah Annisa ya."


"Nak."

__ADS_1


Setelah sekian lama, Sakilla mulai menangis juga. Tangan Rama berusaha melepas genggaman tangan Sakilla. Tapi dengan kuat Sakilla menahannya sambil menggeleng.


Seakan setelah genggaman tangan itu lepas. Maka hubungan mereka juga akan sama lepasnya.


"Nak ... iya, bunda janji untuk nggak salahin mamah kesayangan kamu itu. Tapi tolong kamu kasih kesempatan buat bunda," ucap Sakilla yang masih memberi penawaran


"Kesempatan?"


"Bunda mau mengenal kamu lebih jauh. Bunda nggak mau ngerasa gagal karena udah gagal ngerawat kamu. Bunda beneran bingung harus ngelakuin apa. Tapi tolong, anggap saja sebagai penebus rasa bersalah karena bunda udah pergi selama ini. Jadi ... tolong kasih kesempatan untuk deket lagi dan bunda janji bakalan sayang sama kamu. Kita bakalan lebih sering ketemu."


Rama mendengus, tangannya dengan cepat melepas paksa genggaman tangan Sakilla.


"Maaf tante ... aku nggak mau ngebuat mamah Annisa sakit hati karena ini. Tante tadi tahu sendiri kan kalau kedatangan tante yang sekarang aja itu tanpa sepengetahuan mamah dan aku yakin kalau tahu, pasti mamah sedih. Jadi aku gak mau nambah kesedihan mamah karena lebih deket sama tante."


Sakilla menatap tak terima.


"Tapi kan harusnya ibu sambung kamu itu tahu kalau bunda lebih berhak untuk kamu. Jadi dia nggak bisa maksa keadaan kalau kamu harus lebih deket sama dia kan? jadi nggak apa-apa dong kalau bunda deket sama kamu? karena bunda lebih berhak?"


Rama tertawa miris.


Berulang kali dia jelaskan, tapi ternyata perempuan dewasa di depannya masih nggak mengerti sama sekali.


"Kan tadi udah aku jelasin tante," gumam Rama penuh penekanan.


"...."


"Bukan mamah yang maksa akh. Tapi ini keputusan aku sendiri karena nggak mau mamah sakit hati. Aku ngejaga perasaan mamah banget dan nggak mau mamah sakit hati. Jadi, nggak usah salahin mamah Annisa. Karena ini aku juga yang mau."

__ADS_1


"Kamu segitu sayangnya ya sama ibu sambung kamu?"


__ADS_2