
Mendengar ibu Dini yang menyinggung Bram membuat Annisa kembali mengingat keputusannya untuk diam lebih dulu sampai waktu yang tak di tentukan.
Perempuan itu jelas melihat kalau Bram dan Rama yang menghubunginya berulang kali dan setiap kali di telepon sama mereka. Maka Annisa hanya bisa menangis saja, karena menahan diri untuk tidak mengangkat panggilan dari mereka.
Karena, sungguh ..
Annisa mau menyelesaikan masalah ini sendiri lebih dulu dan nggak mau membuat suaminya sibuk atas masalah yang di buat orang tuanya. Annisa juga malu karena ibu sama bapaknya udah ngelakuin banyak hal memalukan di depan Bram.
Dan Annisa yakin, kalau dia mengangkat telepon Bram atau Rama yang ada dirinya malah menangis dan keluarganya jadi sadar kalau ada yang nggak beres pada dirinya dan malah pada berdatangan ke sini. Jadi Annisa terpaksa untuk nggak mengangkat panggilan dari mereka sembari hanya bisa meminta maaf dari tadi.
Tapi, mendengar ibu Dini yang kembali menyinggung Bram membuat hati Annisa sedih.
"Kamu kan tadi bertanya-tanya tuh, gimana kalau misal ibu sama bapak kamu nggak bisa di temuin. Jadi ibu saranin kalau kamu bicara baik-baik sama suami kamu. Ibu yakin suami kamu bakal mengerti sih kalau keadaan ini juga bukan kamu yang mau."
Annisa tertegun dan mengangguk.
"Iya bu ... aku bakal omongin sama mas Bram. Tapi itu kalau udah mentok banget. Jadi, aku nggak mau ngerepotin suami aku dulu."
Ibu Dini mendesis, ia bangkit dari posisi tidurnya dan terduduk. Membuat Annisa mengikuti hal yang sama. Merasa ada hal penting yang akan di bicarakan saka Ibu Dini.
"Kenapa kamu nggak minta tolong dari sekarang? maksud nya mendingan suami kamu tahu dari awal masalah ini dari pada nanti dia malah tahu masalah ini dari orang lain. Yang ada dia sedih karena merasa nggak di hargai. Percaya deh sama ibu. Kalau suami kamu memang sayang dan hargain kamu banget. Pasti dia cerita apa pun yang terjadi dan juga menerima apa pun kondisinya."
"Ah ..."
Pikiran Annisa terbang saat mengetahui suaminya yang diam-diam masih menghubungi mantan istrinya dan malah memilih untuk mempertemukan nya dengan Rama. Yang mana dari awal Annisa sudah sangat takut kalau mereka bertemu.
"Ah itu," ucap Annisa berusaha bohong. Nggak mau masalah keluarganya yang ini juga di ketahui sama ibu Dini. Malu yang ada kalau ibu Dini juga tahu masalah yang dia buat itu. "Mas Bram tuh sibuk."
"Sesibuk itu sampai dia nggak bisa ngurus masalah ini? dan luangin waktu buat kamu?"
__ADS_1
Annisa berpura-pura tertawa dan menggeleng.
"Aku bakal kasih tau mas Bram secepatnya kok bu. Tapi nggak sekarang. Soalnya mas Bram beneran ada urusan yang nggak bisa di tinggalin sama sekali. Aku juga nggak enak kalau nanti aku kabarin masalah ini. Nanti mas Bram langsung ninggalin kerjaan buat datang ke sini."
Ibu Dini mengangguk.
"Kalau aku udah dapet kabar mas Bram yang selesai sama urusannya. Pasti aku bakalan ngomong kok sama mas. Bram. Dan makasih banyak ya bu Dini atas sarannya. Aku jadi semakin yakin buat ngomong sama mas Bram."
"Hahaha sama-sama sayang. Udah yuk tidur. Sepertinya kamu sudah mengantuk."
Mereka kembali tertidur. Keduanya tiduran saling memunggungi satu sama lain. Suara jangkrik yang menjadi backsound malam itu membuat suasana rumah sangat sepi dan Annisa mulai memejamkan mata. Setelah sejak tadi menahan kantuk karena nggak sempat istirahat dengan benar sejak kemarin itu.
***
Entah kenapa sekarang Annisa malah terjaga.
Jam masih menunjukkan pukul satu malam, tapi Annisa sudah terbangun dari tidurnya dan nggak bisa tidur lagi. Dia melirik ke arah ibu Dini dan melihatnya yang sangat tertidur pulas. Tak mau mengganggu, pada akhirnya Annisa mutusin buat keluar kamar.
Annisa juga menyalakan televisi untuk menemaninya malam ini.
"Huh ... gara-gara omongin ibu Dini aku jadi ingat mas Bram sama kelakuannya itu."
Entah kenapa, Annisa merasa setelah dirinya pergi ke kampung halamannya. Pasti suaminya akan langsung mengurus rencana mereka yaitu mempertemukan Rama dengan ibu kandungnya.
"Aku bisa apa?" gumam Annisa sambil memeluk bantal sofa. "Aku cuma ibu sambung bagi mereka. Jadi aku gak ada hak tuh buat mengeluh dan aku harusnya seneng karena hal ini. Bukannya malah marah kan?" tanya Annisa pada dirinya sendiri juga.
Ia menghembuskan napas berat.
Feeling seorang istri itu memang benar ada kan?
__ADS_1
"Aku masih nggak tahu harus bereaksi seperti apa," ucap nya pelan. "Aku juga masih bingung sama alasan mereka yang sebenarnya. Kenapa mereka ngelakuin ini? kenapa mereka ngebohongin kayak gini sama aku?"
Rasanya sangat campur aduk.
Di saat masalah sang suaminya belum selesai, tapi setelah Annisa pulang ke kampung untuk menenangkan diri sendiri. Ia malah mengetahui fakta kalau orang tuanya itu sudah menipu banyak orang.
Sejak kemarin,
Di otaknya udah sangat penuh. Annisa nggak tahu harus memikirkan masalah yang mana lebih dulu? karena sungguh hatinya sangat sakit kalau mengingat semua ini dan Annisa nggak tahu lagi harus komentar seperti apa.
"Kenapa complicated banget kayak gini sih?"
Ia menarik napas berat.
Hatinya mulai terasa sesak kalau sudah ingat semua masalah ini. Annisa membayangkan kalau Rama bertemu dengan ibu kandungnya dan pada akhirnya semua ketakutan yang Annisa pikirkan akan terwujud.
"Kalau memang nanti Rama lebih milih ibu kandungnya, aku harus apa?" tanya Annisa dengan sangat lirih.
Tanpa sadar tangan kanannya mencengkram kuat pergelangan tangannya. Begitu sakit tapi tak sesakit hatinya saat ini.
"Aku udah sayang banget sama Rama. Nggak bisa bayangin deh kalau pada akhirnya nanti Rama memilih ibu kandung nya di banding aku."
Annisa tertawa kecil.
Dia jelas tahu kalau darah lebih kental dari pada air. Jadi, dia nggak ada hak apa-apa sama Rama dan kalau keputusan anak sambungnya memang seperti itu. Dia bisa apa selain merelakan? walau dengan hati yang sangat sakit.
"Ya Allah ..." Annisa memukul dadanya yang sangat sesak. "Baru ngebayangin aja udah sakit banget. Apa lagi kalau sampai beneran. Nggak bisa deh aku ngebayanginnya."
Ia menarik napas dalam.
__ADS_1
"Tapi ... ya aku cuma bisa diem aja," ucap Annisa pasrah. "Aku nggak ada hak sama sekali. Jadi, dari pada aku marah sama mas Bram atau Rama. Aku harusnya menerima kalau semua yang aku mau nggak akan pernah bisa berjalan seperti yang di harapkan."
"Sudah lah ..."