Istri Dadakan

Istri Dadakan
Terhubung


__ADS_3

Bram benar-benar kelimpungan akibat Rama yang sakit. Anaknya itu jadi manja sampai Bram tidak bisa berkutik selain menuruti semua kemauan anak itu. Bahkan Bram harus merelakan waktu kerjanya hanya untuk mengurus sang anak.


“Ayah ... aku mau mamah,” gumam Rama dengan sangat lirih. Tangannya menjangkau tubuh Bram, ia meringis mulai menangis. “Pusing, sakit, Rama nggak suka. Hua ....”


Dengan perlahan Bram mengangkat Rama dan menggendongnya. Tak lupa selimut yang masih menyelimuti Rama juga ikut serta. Ia membawanya turun ke bawah. Rama yang lemas tak bisa apa-apa selain menurut pada sang ayah.


“Ya ampun, kenapa kalian malah turun?” seru mommy Chika, histeris


“Anaknya nangis dulu mom. Bram bingung harus apa.” Bram sangat panik. Matanya terus menatap kesana-kemari dan tubuhnya terguncang melihat anak semata wayangnya yang begini. Ia memeluk erat tubuh Rama yang hanya tercium aroma obat aja. “Rama jarang sakit. Bahkan Rama nggak pernah sampai kayak gini. Aku nggak tau harus apa. Atau aku langsung cari Annisa aja?”


Tubuh Rama bereaksi mendengar seruan sang ayah.


“Enggak!” balas mommy Chika dengan tegas. “Rama harus sembuh dulu kalau mau ketemu sama Annisa. Mom nggak mau kalau nanti kondisi Rama bakalan makin memburuk kalau ke sana. Sembuh dulu baru ke sana!” finalnya tak mau di ganggu gugat lagi.


Bram menunduk, menatap wajah anaknya. Mengusap pipi Rama yang terasa sangat hangat. “Tuh ... denger kan apa kata oma? Semangat ya sembuhnya. Nanti kita langsung nemuin mamah kamu pas habis sembuh.”


Rama mengangguk lirih.


***


“Makan dulu ya sayang.”


Bram sampai memohon karena Rama yang enggan makan dari tadi. Anak itu menutup mulutnya dan menggeleng. Tidak mau. “Nggak suka ayah, mulutnya pahit,” jujur Rama menutup mulutnya. “Ayah kan lihat kalau dari tadi aku muntah pas habis makan. Jadi, aku nggak mau makan. Aku juga nggak mau minum obat.”


Bram meradang. Ia menghembuskan napas, berusaha mengontrol emosinya.


Ia kembali duduk di pinggiran kasur. Memegang bubur yang masih panas dengan tangannya yang kosong.


“Makan dulu ya sayang. Katanya mau cepet sembuh. Lima suap aja. Habis itu minum obat. Rasa strawberry kok, kamu pasti suka,” bujuk Rama menyodorkan sesendok suapan ke mulut Rama yang masih bungkam

__ADS_1


Rama meremang dan bergeser tiba-tiba, membuat sendok itu terjatuh dan piringnya terjatuh karena Brama yang kaget sama pergerakan Rama.


Jatuh sudah semua bubur itu ke bawah.


“RAMA!” bentak Bram yang tersulut emosinya. “Tumpah semua kan?! Kalau memang nggak mau makan, ya sudah. Nggak usah buang semua buburnya. Sayang tahu nggak sih!” bentak Rama lalu bangkit.


“...”


“Terserah lah ... ayah capek ngurusnya kalau kamu kekanak-kanakan kayak gini. Udah kamu mau ngapain aja, ayah nggak peduli. Makan sendiri. Kalau sakit juga nggak usah datang ke ayah lagi. Pusing ayah sama tingkah kamu,” geramnya


Tak peduli Rama yang udah histeris dan menjangkau bajunya. Tapi dengan kasar Bram melepaskan tangan Rama dan pergi keluar. Ia banting pintu membuat Rama semakin histeris.


“Ayah, maaf ...”


Bram yang sudah tersulut emosinya nggak berkutik walau mendengar rengekan sang anak. Ia turun ke bawah dengan langkah tegap. Di bawah ia ketemu sama mommy Chika yang sudah menatapnya dengan penuh amarah.


“Kenapa lagi sih?” tanya mom Chika yang udah capek. “Nggak inget kalau anak kamu lagi sakit? Kenapa lagi sekarang? Kenapa Rama nangis kayak gitu?” kesal mom Chika


Bram menenggak minuman dingin dan berdiri sambil berkacak pinggang. Napasnya masih memburu, tanda dia benar-benar sedang sangat emosi.


“Ya ampun, nak ... ngalah sama anak kamu. Rama lagi sakit. Wajar kalau dia manja atau ngerengek sama kamu. Lagian Annisa lagi nggak ada di sini. Wajar kalau dia manjanya ke kamu. Ini bukannya di tenangin, kamu malah marah,” kesal mom Chika.


“Ck ... manja banget itu anak.”


Mommy Chika menghela napas lelah.


“Gitu-gitu Rama juga anak kamu. Lagian manja juga sama ayahnya sendiri. Dari pada Rama malah manja sama orang lain? Udah sana minta maaf sama anak kamu. Ibu nggak mau kalau kondisi Rama semakin drop karena kamu,” pinta mom Chika sedikit memaksa. Ia menarik tubuh Bram, menyuruh anaknya untuk kembali ke kamar Rama.


“Nanti ...”

__ADS_1


“Bram ...” seru mom Chika


“Iya mom, entar ya. Bram lelah. Bram mau istirahat dulu. Biarin anaknya tenang dulu. Nanti Bram bakal minta maaf. Bram janji.”


“Ya sudahlah.” Mommy Chika tidak bisa apa-apa selain mendatangi Rama untuk menenangkan cucunya tersebut.


***


Di sisi lain, waktu yang sama.


Annisa sudah siap meninggalkan tempat kelahirannya untuk mengunjungi rumah sang tante. Ia berjanji akan memulai pencarian orang tuanya dengan serius. Tapi dari tadi, Annisa seperti tidak fokus. Sering kali ia tersandung kerikil atau tersandung kopernya sendiri. Perasaannya sangat tidak enak dan Annisa tidak mengerti kenapa bisa seperti ini.


“Kamu nih sebenarnya kenapa?” tanya ibu Dini menahan tangan Annisa yang ingin kembali terjatuh


“Hah?” Annisa bingung sendiri. “Nggak tahu bu, Annisa juga bingung. Tapi Annisa kayak yang linglung. Perasaan Annisa nggak enak banget. Tapi Annisa nggak tahu karena apa. Ada apa ya?” Annisa merasakan dadanya yang berdegup kencang.


“Kamu— baik-baik aja kan?” tanya ibu Dini yang khawatir.


Tangannya ditaruh di kening Annisa dan suhunya terasa normal. Tapi wajah Annisa memang terlihat pucat membuat Ibu Dini sangat khawatir.


“Kalau kamu nggak enak badan, perginya besok aja ya. Kereta ada setiap hari ini. Kesehatan kamu jauh lebih utama di banding apapun. Nggak ah, ibu Dini nggak bakal lepasin kamu kalau lagi sakit begini,” ucap ibu Dini yang nggak rela.


Padahal mereka sudah ada di stasiun, tinggal menunggu kereta yang datang. Tapi sekarang ibu Dini malah melarangnya.


“Tapi bu—


“Perjalanan kamu ke tempat tante kamu itu jauh,” beri tahu ibu Dini mengingatkan. “Ibu takut kalau kondisi kamu semakin drop di kereta. Nanti nggak ada yang bantu kamu. Udah ah, mending pulang lagi aja yuk?” paksa ibu Dini.


“Aku mau selesaiin ini secepatnya bu,” jujur Annisa. “Lagian aku baik-baik aja kok. Memang ada sedikit kepikiran aja. Tapi selebihnya aku baik-baik aja kok. Ibu nggak usah mikir yang macem-macem. Aku janji nggak bakalan sakit kok.”

__ADS_1


Ibu Dini masih menggenggam tangan Annisa dengan perasaan tidak rela. “Padahal ibu khawatir banget sama kamu. Ibu udah anggap kamu seperti anak sendiri,” akunya.


__ADS_2