
"Karena sudah merugikan banyak orang terdakwa dihukum sepuluh tahun penjara dengan denda sebenar lima puluh juta."
Ketukan palu di ruang sidang membuat suasana terasa campur aduk. Beberapa pihak yang di rugikan tersenyum bahagia dan melontarkan banyak kata bersyukur karena ulah Sakilla yang sudah merugikan mereka terkena juga. Ada yang sedih dan tentunya itu dari keluarga Sakilla yang sedari tadi tak henti menangis.
Semua keluarganya lengkap datang. Orang tua Sakilla, adiknya beserta kembaran perempuan itu. Tapi tak ada satu pun yang mendatangi mereka. Bram sendiri sih bodo amat. Dia hanya mau urusan saat ini selesai.
"Mas aku kasihan deh." Annisa memeluk lengan suaminya dan lengan lainnya mengusap lengan Rama yang sejak tadi tak berhenti menatap Sakilla yang terus menunduk.
"Gak usah kasihan, mungkin kamu lihatnya sekarang. Tapi coba lihat ke belakang, banyak kejahatan yang udah Sakilla lakuin dan itu semua ngerugiin banyak orang. Jadi wajar kalau sekarang dia kena hukumannya."
"Tetap aja mas ..."
"Sudah lah."
Baru mau protes lagi, perempuan yang lumayan mirip dengan Sakilla datang. Annisa baru mengetahui kalau dia kembaran Sakilla.
__ADS_1
Buru-buru Annisa berdiri.
"Eh nggak usah mbak. Mbak duduk aja, mbaknya lagi hamil. Jadi jangan banyak berdiri." Ia tersenyum teduh. Berbeda dengan Sakilla. "Mbak Annisa ya?"
Annisa mengangguk setelah kembali duduk.
"Mbak aku kemaren dengar semua tentang mbak Annisa dari Sakilla dan ya ... aku minta maaf atas ulah Sakilla yang udah buat mbak sekeluarga jadi sedih. Aku juga turut berduka cita atas kepergian almarhum kakak mbak Sakilla."
"Bukannya kamu juga tahu?" sela Bram menatap bingung. "Bukannya kalian semua terlibat sama perbuatan yang Sakilla lakuin? terus sekarang kenapa pura-pura gak tau gitu? sengaja? takut kami melaporkan kalian?"
Perempuan di depannya itu menggeleng.
"Huffttt."
"Sekarang aku kembali datang untuk meminta maaf. Jadi, atas nama Sakilla sekali lagi aku minta maaf ya."
__ADS_1
Annisa mengangguk canggung.
"Sudah terlewat ini."
Suasana kembali hening di antara mereka. Perempuan di hadapan Annisa itu hanya diam dan menunduk saja tanpa mengatakan apa-apa.
"Ada yang mau di omongin lagi?" tanya Annisa membuat tubuh perempuan itu tersentak. "Kalau memang ada yang mau di omongin, omongin saja. Karena kita gak tau kan mau ketemu kapan lagi? ini aja mas Bram sama Rama sedikit sulit diajak ke sini. Jadi, mumpung ada kesempatan. Kamu ngomong aja ..."
"Kemaren Sakilla kasih tau kalau mbak ada janji—," ucapan perempuan itu terhenti seakan tenggorokannya tercekat, ia benar-benar diam tanpa melanjutkan ucapannya
"Ah itu ... mempertemukan Rama dan bundanya? tenang aja. Aku bukan wanita jahat yang melupakan janji sepenting itu." Annisa menoleh pada Rama yang sejak tadi masih tegang.
Annisa menggenggam lengan anaknya dan mengangguk begitu Rama menoleh pada dirinya.
"Kedatangan aku ke sini juga untuk menepati janji kok. Udah, sekarang di mana Sakilla? lebih cepat, lebih baik. Jadi mending sekarang kita langsung ke sana."
__ADS_1
Wajah perempuan itu langsung berseri, ia tersenyum lebar dan menunduk berulang kali.
"Makasih, makasih banyak. Maaf merepotkan. Tapi aku gak bakal lupa kebaikan mbak yang satu ini. Sekali lagi terima kasih banyak!!!!"