Istri Dadakan

Istri Dadakan
Permintaan Kecil Rama


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu setelah peristiwa mereka saling memaafkan satu sama lain. Sejak itu, keadaan di rumah ini benar-benar sangat hangat. Tidak ada hal buruk lagi yang terjadi. Bahkan Annisa juga melupakan masalah di sama ibunya yang waktu itu memaksa meminta uang. Perempuan itu hanya berasumsi kalau ibunya memang nggak butuh uang lagi.


Intinya Annisa benar-benar melupakan itu.


Selain itu,


Hidup pernikahannya seolah berubah. Dari Bram yang pada awalnya cuek abis sekarang begitu perhatian. Walaupun mereka masih berusaha belajar untuk memiliki hubungan yang benar seperti layaknya suami istri pada umumnya. Tapi tetap saja, rasa canggung itu masih ada saja.


"Annisa ..."


"Udah selesai joggingnya?"


Tidak seperti hari minggu pada biasanya yang Bram akan memilih olahraga sendiri. Tapi, kini Rama memaksa untuk ikut juga karena penasaran sama ayahnya itu. Jadi, tadi pagi mereka semua bangun pagi.


Terutama Annisa, karena perempuan itu harus menyiapkan banyak hal.


"Udah dong ..."


"Oh iya mas, aku belum buat sarapan. Tadi pas liat beras ternyata habis. Makanya baru sempet bikin roti doang. Jadi, kalau sarapan roti doang nggak apa-apa kan? Sekalian nunggu minimarket buka gitu."


Bram yang sedang mengelap keringatnya yang terus turun itu langsung menoleh ke arah dapur.


"Gimana kalau hari ini kita belanja bareng? Kayaknya mas ingat ingat kita nggak pernah belanja bareng. Beli kebutuhan buat di sini sama kebutuhan kamu dan Rama."


"Aku sih ngikut kamu aja, mas. Terserah Rama."


"Mau dong!"

__ADS_1


Annisa terkekeh dan mencubit pelan pipi Rama yang begitu tembam. Sangat gemas sampai Annisa sangat tidak tahan dengan kelucuan anak itu yang benar-benar sudah di luar batas.


"Ya sudah ... sebelum sarapan, mendingan kamu mandi dulu. Selesai mandi baru ke sini lagi. Baru deh siap-siap buat keluar. Gimana?"


"Siap mamah!"


"Mau mamah pilihin bajunya atau kamu sendiri yang milih?" tanya Annisa.


Karena akhir-akhir ini Rama mulai protes sama pakaian yang selalu Annisa sediakan. Entah dari mana Rama lihat cara berpakaian yang modis. Makanya Annisa lebih dulu bertanya seperti ini. Ketimbang dirinya sudah menyiapkan pakaian Rama, dan Rama malah protes?


"Aku pilih baju sendiri aja deh. Tapi, Rama ada saran. Boleh nggak bilang sama ayah dan mamah?" tanya Rama dengan hati-hati memandangi orang tuanya.


Annisa menoleh pada Bram, keduanya itu saling menatap untuk sesaat. Sebelum Annisa lebih dulu sadar dan memilih mengalihkan pandangan ke arah Rama.


"Iya ke napa? Kasih tahu saja ..."


Annisa mengusap bahu anak itu.


Nyatanya di umurnya yang sekarang, masih banyak yang belum dirasakan sama Rama. Seolah itu semua sangat sulit untuk diterima. Miris mendengarnya ...


"Kamu mau pakai baju warna apa? biar mamah sama ayah ngikutin kemauan kamu."


"Jadi boleh nih?" Anggukan dari Bram membuat Rama semakin berteriak ruang dan meloncat kecil.


"Jadinya mau pakai warna apa?"


"Biru dongker? boleh nggak!" tanya anak itu lagi

__ADS_1


"Boleh dong ... apa sih yang nggak boleh buat kamu. Ayo mandi dulu, biar kita bisa langsung sarapan terus pergi," suruh Bram yang mana langsung membuat anak itu lari ke kamarnya.


"Annisa ..."


"Hmm? iya mas?"


"Kamu kalau nggak ada baju, datang aja ya ke kamar mas. Di sana masih banyak baju Sakilla. Buat sekarang pakai dulu aja baju Sakilla. Tapi selanjutnya buang aja semua barang yang berhubungan sama Sakilla dan buat baju, nanti kita sekalian beli baju buat kamu sama kebutuhan buat kamu."


"Kenapa dibuang? sayang tau ..."


Melihat suaminya diam membuat Annisa mengerutkan kening. "Kamu masih sedih ya kalau lihat barang mbak Sakilla yang masih ada di rumah ini? Iya sih mas ... Mau gimana pun kamu udah punya hubungan yang lama sama mbak Sakilla ya? Jadi, pasti nggak segampang itu buat lupain kenangan mbak Sakilla. Apa lagi kalau liat barang punya mbak Sakilla."


Bram tersenyum tipis.


"Kamu cemburu?"


Annisa terbelalak dan dengan cepat menggeleng. Ia menatap sengit dan mendengus kecil. Mana ada kayak begitu.


"Kalau cemburu mah bilang aja!"


"Ih, mana ada ya ..."


"Hahaha gemas banget sih. Dan ... tentang omongan kamu yang tadi, tenang aja. Bukan maksud saya seperti itu. Saya hanya membenci melihat barang Sakilla yang masih ada di sini. Melihat itu cuman membuat saya mengingat akan hal buruk dan kelakuan dia saja. Jadi ... ketimbang saya emosi. Lebih baik saya buang semua barang milik mbak Sakilla kan?"


"Terserah kamu saja ..."


"Jangan cemburu ya Annisa," ledek Bram lagi sebelum berlari meninggalkan Annisa yang sudah menghentakkan kaki kesal.

__ADS_1


__ADS_2