Istri Dadakan

Istri Dadakan
Dua Sisi yang Sama-sama Sakit


__ADS_3

Pengakuan jujur dari ibu Dini membuat Annisa sedikit bahagia. Perasaan sedihnya yang sejak tadi terasa kini berubah menjadi perasaan bahagia yang begitu campur aduk.


"Makasih ya bu karena udah anggep Annisa kayak anak ibu sendiri. Annisa bangga dan senang banget. Karena punya ibu yang perhatian banget sama Annisa. Maaf kalau Annisa masih nggak bisa nurut sekarang. Tapi Annisa beneran gak ke napa-napa kok. Kalau ada apa-apa nanti aku bakal hubungin ibu. Aku juga bakal minta tolong. Nggak bakalan diem aja."


Ibu Dini tidak bisa apa-apa selain menyetujui dan berharap kalau Annisa baik-baik saja. Ia mengusap pipi Annisa.


"Ibu nggak pernah sesenang ini sebelumnya. Ibu selalu ngerasa sepi di hidup ibu. Tapi setelah ada kamu, ibu jadi ngerasain gairah muda lagi dan ibu beneran seneng banget setelah hadir kamu."


Annisa memeluk sang ibu dan berterima kasih banyak karena dia juga merasakan hal yang sama. Setelah sekian lama ia bisa merasa sosok ibu yang sebenarnya.


"Bu ... tapi aku beneran nggak bisa tinggal di sini. Aku harus pergi sekarang juga. Nggak apa-apa kan? maaf ya bu. Kalau nggak salah tadi ibu juga bawain obat-obatan kan? Nanti kalau aku sakit. Aku langsung minum obat deh. Terus aku janji bakalan sering kabarin ibu. Biar ibu nggak khawatir."


Ibu Dini mengangguk.


"Ya sudah, ibu bisa apa selain merelakan kamu? yang penting kamu sehat dan senang. Ibu cuma bisa berdoa supaya masalah ini cepet selesai dan kamu bisa dapet kabar dari orang tua kamu."


"Aamiin ..."


Suara kereta membuat kesadaran mereka balik. Kedua orang di sana sama-sama merasa sedih.


Ibu Dini melambaikan tangan, merelakan Annisa yang masuk ke paron stasiun. Ia terus menunggu Annisa yang masih menunggu beberapa penumpang turun.


Tak lupa Annisa berbalik dan melambaikan tangan pada Ibu Dini sebelum masuk ke dalam kereta.


Annisa menaruh koper di atas lalu duduk sesuai tiket yang ia beli. Ia sengaja membeli dua kursi untuk ia duduk sendiri. Annisa lagi nggak mau diganggu sama orang lain. Ia butuh waktu sendiri untuk menenangkan dirinya.


***


"Sayang, anaknya ayah ... ayah minta maaf ya."


Rama berbalik dan menubruk tubuh Bram. Memeluknya erat, hingga tubuh Bram terhuyung. Bram terkekeh dan menggendong Rama. Mendusel di leher anaknya yang masih terasa hangat. Walau terasa lebih baik di banding sebelumnya itu.

__ADS_1


"Aku yang minta maaf ayah. Ayah jangan diemin aku lagi. Aku nggak suka. Aku janji bakalan jadi anak baik-baik. Asal ayah jangan marah sama aku. Aku sedih kalau lihat ayah marah."


Bram mengusap rambut anaknya dan mengangguk.


"Kamu nggak perlu minta maaf. Di sini ayah yang salah sama kamu. Udah yuk, tadi kamu mau makan kan? biar ayah aja yang nyuapin kamu."


Bram meminta piring yang di pegang mommy nya. "Biar aku aja mom. Mommy istirahat aja. Dari tadi mommy udah urus Rama kan? udah waktunya mommy istirahat."


Mommy Chika mengangguk. Ia merenggangkan tubuhnya. Pinggangnya memang mulai terasa sakit. Ia berikan piring yang berisi sup hangat tersebut.


"Cepat sembuh cucu oma. Semoga kamu cepet pulih," doa oma lalu mengusap pipi Rama


Rama membentangkan tangan seakan sedang berdoa lalu bergumam aamiin dan berterima kasih atas doa sang oma.


Setelahnya mom Chika beranjak keluar untuk istirahat.


"Sekarang biar ayah yang suapin kamu ya."


Bram tersenyum tipis melihat anaknya yang lebih aktif di banding sebelumnya. Berarti kondisi Rama udah jauh lebih baik di banding sebelumnya dan Bram sangat bersyukur karena hal itu dan tidak menyesali bentakannya waktu itu.


Karena ... kalau tidak membentak, mungkin saja sampai sekarang Rama masih malas dan nggak mau minum obat.


"Nggak kerasa udah habis aja makanannya. Waktunya minum obat." Bram menaruh piring ke atas meja dan beralih mengambil tablet.


"Kemarin kamu udah minum sirup strawberry dan sekarang dokter nyaranin kamu buat minum obat tablet. Kamu bisa kan? atau harus ayah gerus dulu."


Rama spontan menutup mulutnya dan menggeleng.


Obat tablet tuh pahit dan Rama sangat tidak menyukai. "Digerus aja," ucap Rama tiba-tiba. Ia teringat ayahnya yang marah. Rama lebih memilih minum obat yang pahit di banding harus lihat ayahnya yang marah.


Bram turun ke bawah untuk mengambil sendok. Lalu ia menggerus obatnya dan diberikan ke Rama yang sudah memegang gelas.

__ADS_1


Rama langsung menenggak minuman begitu obatnya masuk ke mulut. "Pahit!" keluhnya begitu selesai minum. Ia merinding merasakan kepahitan obat.


"Dasar." tawa Bram. "Namanya juga obat. Pasti pahit dong. Tapi itu yang bikin kamu sehat. Jadi, nggak boleh ngeluh ah. Kamu harus minum obat itu."


"Iya yah ..."


"Ayah bawain piring kotor dulu ke bawah. Kamu mau minta sesuatu? biar ayah langsung bawain ke sini. Biar nggak bolak balik," seru sang ayah.


Rama menggeleng dan malah menggeser tubuhnya di kasur. Ia menepuk kasur. "Aku cuma mau ayah tidur sama aku malem ini. Ayah mau kan?" pinta Rama dengan penuh harap. Matanya sampai berbinar, berharap sang ayah menyetujui permintaannya.


"Mau dong ... tapi ayah ke bawah dulu bentar. Kamu juga gosok gigi dulu."


"Siap ayah."


***


Bram masuk ke kamar anaknya dengan piyama yang sudah terpakai. Ia mengatur suhu AC terlebih dahulu supaya Rama nyaman tidurnya. Lalu ia menyibakkan selimut dan tiduran di sana. Di mana Rama sudah mulai mengantuk. Matanya tinggal beberapa watt lagi, tapi Rama masih merespon setiap pergerakan Rama.


"Ayah," panggil Rama dengan suaranya yang sangat serak. Sepertinya mengantuk akibat minum obat juga kan?


"Hmm?" Bram mengusap kening Rama, supaya anaknya cepat tertidur.


"Aku kangen banget sama mamah. Kangen banget," jujur Rama lalu menghela napas pelan. "Aku udah terbiasa sama keberadaan mamah di sekeliling aku. Makanya pas nggak ada gini. Aku ngerasa kangen banget. Sekarang aku jadinya kangen banget deh sama mamah."


Bram tertegun. Ia mengangguk tanpa sepengetahuan Rama. Ia juga sudah terbiasa dengan keberadaan Annisa dan sekarang saat Annisa nggak ada. Ia merasa kosong. Dia merasa ada yang aneh di hidupnya.


"Ayah juga," ucap Bram dengan pelan. "Ayah juga kangen sama mamah kamu."


Rama mulai memejamkan mata setelah Bram perhatikan. Tapi mulutnya masih terus bicara.


"Gimana kalau mamah pergi bukan cuma pulang kampung? tapi mamah marah sama kita dan mutusin buat pergi? terus mamah nggak bakalan kembali ke kita?"

__ADS_1


__ADS_2