
“Gimana?”
Annisa menyambut kedatangan Bram sama Rama. “Eh kok tidur anaknya?” seru Annisa menatap Rama yang terlelap di gendongan suaminya itu.
“Hmm, kenyang kayaknya jadi ngantuk deh. Udah kamu tunggu di sini aja, mas mau bawa Rama ke kamar kita. Tadi sebelum tidru dia request mau tidur sama kita khusus hari ini.” Annisa mengangguk, ia malah senang kalau Rama mau tidur bersama mereka. “Oh iya, mas mau teh hangat ya sayang. Hari ini terlalu banyak asupan makanan manis. Mas mau minum yang hangat-hangat buat netralin mulut mas,” titah Bram
Annisa bergegas ke dapur begitu suaminya naik ke atas.
Ia membuatkan teh hangat sesuai permintaan Bram dan setelah selesai, Annisa membawakan nya ke ruang santai dan duduk di sana. Sembari menunggu Bram turun, Annisa menyempatkan diri membaca artikel untuk ibu hamil.
Banyak pembelajaran yang ia dapat setelah membaca ini.
Pengetahuannya yang minim, ditambah gak ada orang yang mengajarinya membuat Annisa harus belajar sendiri menjadi ibu yang baik.
__ADS_1
“Sayang.”
Sofa di sampingnya sedikit melambung saat Bram duduk dengan tiba-tiba. Tangan suaminya itu langsung melingkar di pinggang Annisa dan memberi usapan pada perut istrinya itu.
"Seharian nggak ketemu kamu. Rasanya mas kangen banget," seru Bram dengan hiperbola. "Gak bisa nih mas kepisah lama sama kamu. Kamu tuh kayak ada magnetnya, narik mas mulu. Jadi, mas nggak bisa pergi."
Annisa mencibir.
"Alah ... berlebihan kamu, mas. Padahal nggak sampai satu harian juga. Wong kamu baru pergi dari tadi siang doang. Hiperbola banget deh kamu."
"Gimana-gimana mas? semuanya lancar?" tanya Annisa menoleh pada suaminya itu. "Rama gimana? dia nggak marah kan? atau dia nggak mau? duh dari tadi aku kepikiran ini terus deh. Aku doa terus dari sini semoga semuanya di lancarin. Aku beneran takut banget kalau Rama nggak bisa di bujuk."
Bram tersenyum, maklum akan rasa khawatir sang istri.
__ADS_1
"Kamu gak usah khawatir gitu. Semuanya baik-baik aja kok. Awalnya Rama memang keliatan nggak setuju. Dia takut kalau kamu pergi lagi kayak waktu itu kalau nurutin omongan mas. Tapi mas jelasin kalau ini juga kamu yang mau. Jadinya dia agak setuju deh dan ya ... besok kita cuma wanti-wanti aja semoga Sakilla memang benar nggak akan macem-macem lagi sama Rama dan nggak menambah luka di hati anak itu."
Annisa merenung.
"Kayaknya kejadian itu buat Rama jadi trauma ya mas? duh aku jadi nggak enak banget. Aku malah nambah trauma di hati Rama dong?"
Bram menggeleng, menyangkal.
"Gak gitu .. udah nggak usah di pikirin. Mas juga kasih nasihat lah ke Rama, jadi kamu tenang aja. Seenggaknya semuanya lancar kan? mas harap ke depannya kita gak akan ngurus masalah ini lagi. Udah cukup kita ikut campur sama mereka. Mas beneran mau lepas sama mereka."
Annisa bergumam kecil.
Tangannya menangkup wajah suaminya dan tersenyum terus sambil memandangi wajah tampan Bram.
__ADS_1
"Makasih banyak mas karena udah mau nurutin permintaan aku yang kelewatan ini. Makasih udah jadi suami dan ayah yang baik. Aku harap kita selamanya akan bahagia terus ya mas."
"Ahhhh." Bram meremang malu. "Mas makasih juga sama kamu karena udah jadi wanita hebat dan sebagai kepala keluarga, mas akan pastikan kalau kita akan selalu bahagia! camkan itu ..."