Istri Dadakan

Istri Dadakan
Terkejut


__ADS_3

Bram kesampingkan semua kerjaan yang dia punya. Ia memilih pergi menemui keluarga Sakilla yang selama ini nggak pernah berhubungan karena keretakan yang sudah terjadi semenjak awal pernikahan. Lantaran memang Sakilla yang kurang dekat dengan keluarganya dan keluarga Sakilla yang sangat toxic bagi Bram.


Tapi untuk kali ini, Bram akan lupakan semua kesedihan yang terjadi. Dia menjalani mobil menuju rumah Sakilla dan berhenti tepat di depan gang. Dari sini Bram sudah bisa melihat penerangan rumah keluarga istrinya.


"Huh ... sebenarnya apa yang mau aku tanyakan ke mereka?" ucap Bram pelan. "Kalau aku datang, nggak mungkin aku langsung todong mereka dengan pertanyaan tentang Sakilla kan? aku nggak mungkin nuduh mereka menyembunyikan kematian Sakilla. Yang ada mereka itu malahan marah besar. Tapi apa yang harus aku katakan?"


Bram terus memutar otak, ia berusaha mencari pertanyaan yang pas untuk mendapat jawaban tapi juga nggak nyakiti hati mereka. Tapi semakin di pikirin, Bram semakin pusing. Rasanya buntu. Ia nggak tahu harus mencari tahu seperti apa. Ini benar-benar memusingkan.


"Hmm ... apa nanya ke—


Ucapannya berhenti saat ponselnya menyala, tanpa pikir panjang Bram langsung mengangkat panggilan dari Kamal.


"Ada apa Kamal?"


"Tuan ... mohon maaf mengganggu waktu tuan, padahal tuan bilang sendiri nggak mau di ganggu dulu. Tapi ini ada hal penting yang harus tuan tau!"


Kening Bram mengernyit. Tidak biasanya Kamal terdengar panik seperti ini. Perasaan Bram jadi nggak enak. Ia nelan saliva dan memindahkan ponselnya ke telinga kiri. "Ada apa Kamal? kamu mau mengatakan apa?" tanya Bram.


"Maaf tuan ... bukan saya datang-datang mau mengatakan sesuatu yang tuan benci. Saya juga nggak peduli kalau setelah ini tuan pecat saya. Tapi saya harus kasih tau hal penting ini—


"To the point Kamal ..."


"Saya melihat istri Tuan!"

__ADS_1


Degh ... jantung Bram seakan berhenti berdetak mendengar penuturan yang sangat menyeramkan ini. Pikiran Bram mulai berkelana ke mana-mana. Tapi satu yang ia pahami. Kalau ia harus menyelidiki ini semua dan apa yang di bilang sama Annisa nggak sepenuhnya berbohong.


"Maksud kamu gimana?" tanya Bram berusaba biasa saja, walau suaranya benar-benar gemetar.


"Saya sedang mengunjungi tempat usaha tuan yang ada di kota B. Saya juga sama sekali nggak pernah peduli sama sekitar, seperti yang tuan tau. Tapi saat saya ada di kafe, saya menghirup aroma khas milik almarhum istri tuan. Ya, saya tau ... parfum nggak punya satu orang saja. Makanya saya langsung mencari keberadaan orang tersebut. Sampai mata saya menangkap nyonya Tiara sedang tertawa lebar sambil merangkul seorang perempuan. Saya benar-benar kaget, Tuan ... saya nggak punya foto sama sekali. Karena pikiran saya saat itu benar-benar buntu. Tapi saya yakin, seyakin-yakinnya kalau yang saya lihat memang nyonya. Karena dari postir tubuh sampai cara berjalannya masih sama."


Rasanya tangan Bram benar-benar lemas mendengar ini semua. Ia tidak tahu harus berkomentar seperti apa.


"*Mungkin hal ini mengejutkan tuan. Saya juga minta maaf karena tadi nggak sigap untuk memfoto karena saya yang benar-benar kaget. Nggak hanya itu. Saya juga minta maaf karena nggak sempat mengejar sampai kehilangan jejaknya gitu. Saya benar-benar nggak ada bukti. Tapi mereka orang yang sama, saya yakin. Dia nyonya Tiara."


"Tuan?" panggil Kamal saat sadar sejak tadi Bram hanya diam saja. "Tuan baik-baik saja? maaf kalau perkataan saya mengejutkan tuan. Tapi ini sepertinya bukan fakta yang harus saya simpan sendiri. Karena setelah di pikir-pikir semua berhubungan sama kasus rumah sakit yang tuan pinta dan jangan bilang tuan sudah mengetahui ini semu*."


Bram menghembuskan napas kasar.


"Tuan ..." panggil Kamal yang merasa nggak enak.


"Sudah ... Tidak perlu mengasihani saya. Karena saya di sini juga sedang mencari tahu apa yang terjadi. Saya mau tau alasan Sakilla melakukan ini semua dan saya harap kamu bisa mencari Sakilla di sana. Tidak perlu usaha sampai lakuin ini itu. Yang saya inginkan hanyalah kamu berusaha. Tapi kalau kamu merasa lelah. Saya nggak akan memaksa. Kamu cari saja dengan santai. Kamu cukup fokus sama kinerja kamu di sana."


"Baik tuan ..."


***


Butuh waktu beberapa saat untuk Bram menenangkan diri di mobil. Ia memastikan dirinya nggak lagi emosi. Karena dia nggak mau keluar dalam keadaan emosi dan malah menyakiti orang lain dengan ucapannya.

__ADS_1


Setelah jauh lebih tenang, akhirnya Bram memutuskan untuk mendatangi rumah keluarga Sakilla. Ia akan hadapi tanpa bertanya ke arah sana sama sekali.


Satpam yang menjaga rumah langsung mengenal mobil dan langsung tersenyum sopan saat melihat Bram membuka kaca mobil. Tidak hanya itu satpam tersebut langsung saja membuka pagar rumah dan Bram masuk ke dalam area pekarangan rumah.


Laki-laki itu mendatangi pintu rumah dan menekan bel.


"Iya ... sebentar."


Pintu terbuka dari dalam dan Bram langsung menunduk sopan saat melihat ibu mertuanya berdiri di sana sedang menatapnya dengan terkejut.


"Ya ampun Bram ... akhirnya kamu datang lagi ke rumah ini. Pasti kamu sudah memikirkan omongan ibu kan? kamu udah memikirkan kalau Rama nggak akan bisa hidup sendiri dan butuh seorang ibu di hidupnya kan?" seru ibu mertuanya masih berdiri di depan pintu tanpa mempersilahkan Bram untuk masuk.


"Kamu mau ketemu sama adiknya Sakilla kan? kamu udah denger omongan ibu untuk menikah sama adiknya Sakilla? gimana?"


Ini yang membuat Bram nggak pernah mau berhubungan lagi sama keluarga Sakilla, setelah Sakilla dinyatakan meninggal. Karena keluarga Sakilla malah memaksa dia untuk menikah sama adik kandung Sakilla. Dengan dalih supaya Rama mendapat orang tua yang lengkap.


Padahal tanpa mereka tahu, Bram sudah mengetahui alasan mereka melakukan ini. Karena mereka mau dapat jatah bulanan terus dari Bram. Mereka hanya mau hartanya saja. Nggak lebih.


"Maaf Bu ... aku datang ke sini bukan untuk menerima itu. Karena dari awal aku udah jelasin ke ibu kalau aku nggak bisa bahkan nggak mau menikah sama adik dari Sakilla. Aku nggak akan pernah bisa. Aku datang ke sini untuk bertanya sesuatu sama ibu."


"Yah ... kamu nih aneh ya. Rama tuh butuh sosok ibu. Jadi kamu harusnya setuju saja."


Bram terdiam lalu menarik napas dalam. "Tapi saat ini Rama sudah menemukan sosok ibunya!"

__ADS_1


__ADS_2