Istri Dadakan

Istri Dadakan
Terkejut


__ADS_3

“Kamu tuh sebenarnya siapa dan kenapa bisa ada di sini?” tanya ibu itu sambil melangkah masuk dan menatap aneh pada Annisa. "Dan nggak usah ikuti saya. Saya nggak suka di ikuti sama pegawai rendahan kayak kamu."


Annisa berusaha bersabar. "Maaf ibu ... tapi ibu berarti orang tua dari nona Sakilla ya?" tanya Annisa dengan hati hati karena melihat kemiripan di wajah mereka.


Ibu itu berbalik dan menatap bingung pada Annisa. "Kamu siapa? dan kenapa kamu bisa tahu tentang anak saya?" tanya dia dengan ketus. "Kalau kamu cuman pegawai di rumah ini. Kenapa kami harus nanya tentang anak saya? dasar nggak ada sopannya sama sekali."


Annisa terdiam. Dia juga mau menjelaskan siapa dirinya. Tapi dia terlalu takut. Masalahnya ... sampai detik ini tuh, Annisa masih nggak tahu Bram memberi tahu semua orang tentang pernikahannya atau enggak. Atau memang Bram memilih menyembunyikan status dia. Makanya, Annisa gak bisa ngomong secara gamblang tentang status dia.


"Hei ... kenapa malah diam? tidak sopan sekali. Ini saya lagi tanya kamu. Kamu siapanya Bram? dan kenapa sampai tau tentang anak saya?"


Annisa menunduk.


"Ibu ... apa nona Sakilla benar-benar udah pergi dari dunia ini?" tanya Annisa dengan pelan.


Ibu itu menoleh dan menatap memicing. Ia menelan saliva dan berpura-pura marah pada Annisa yang menurutnya sangat tidak sopan itu. Tangannya mendorong pelan tubuh Annisa. "Siapa kamu tanya tanya tentang Sakilla?" serunya marah. "Ah ... jangan bilang, kamu ini salah satu wanita yang suka sama menantu saya? makanya sampai cari tahu tentang kehidupan menantu saya? duh ... saya harap kamu ini mundur. Kamu nggak berhak sama menantu saya. Karena dia punya masa lalu yang begitu indah sama anak saya. Dia juga sampai sekarang cuman suka sama Sakilla doang. Nggak ada perempuan lain."

__ADS_1


"..."


"Nah ... karena itu, saya milih buat jodohin dia sama adiknya Sakilla. Toh mereka punya wajah mirip. Jadi, Bram sudah setuju untuk menikah sama adiknya Sakilla. Jadi, kamu gak boleh ganggu sama sekali."


"Setuju?" kaget Annisa


Ibu itu mengangguk seraya tersenyum penuh kemenangan. "Iya dong ... dia setuju! makanya kamu nggak usah mikirin gimana caranya gaet Bram. Karena dia nggak akan pernah cinta sama kamu. Dia cuman cinta sama Sakilla dan untuk ke depannya, dia akan cinta sama adiknya Sakilla."


/Tapi aku?/


Intinya ... Annisa sangat terkejut saat tahu fakta yang satu ini.


"Kenapa? pasti kamu kaget ya ... alah, nggak usah kaget. Memang nggak seharusnya kamu berharap lebih sama Bram. Siapa dia yang mau menikahi kamu? nggak akan mungkin sama sekali. Sudahlah .. jangan berharap lebih, kamu nggak berhak sama Bram. Kamu itu cuman orang rendahan yang bahkan nggak pantas bersanding di samping Bram!"


Annisa terkejut dan tertawa miris.

__ADS_1


"Hahaha ... iya bu, saya memang tidak pantas. Maaf kalau saya merepotkan. Saya izin ke belakang dulu untuk bawa minum."


"Sudah tidak perlu! tinggalkan saja saya sendiri. Saya mau menunggu menantu saya, untuk melanjutkan cerita tentang hubungan dia sama anak saya yang lainnya."


***


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore dan selama itu Annisa memilih menunggu di dalam kamar. Sudah waktunya saat ini Rama kembali setelah les dan sudah waktunya Bram juga pulang dari kantor.


Begitu keluar, Annisa nggak melihat orang yang dimaksud. "Kemana ibu yang tadi? padahal ... tadi aku mau temenin. Tapi dia malah marah. Eh, sekarang malah hilang."


Annisa yang mikir kalau ibu itu sudah pulang memilih untuk berjalan dengan santai. Sampai ia bingung melihat pintu kamar Bram yang terbuka. Tanpa pikir panjang ia langsung berjalan memutar dan mendatangi kamar itu.


Baru mau menutup, Annisa langsung menutup mulutnya saat melihat ibu itu yang sedang ada di dalam dan membuka banyak laci lalu menguntungkan beberapa barang yang nggak bisa Annisa kenali.


Jantung Annisa berdegup cepat, ia melangkah mundur dan dengan gugup langsung mencari telepon untuk menghubungi Bram.

__ADS_1


__ADS_2