Istri Dadakan

Istri Dadakan
Dari Awal?


__ADS_3

Mata Annisa dan Rama sama-sama terbelalak dan hanya mampu menatap satu sama lain tanpa terkecuali. Dua orang itu benar-benar terkejut sama pernyataan yang baru saja keluar dari mulut Bram. Rasanya semua ini aneh dan gak masuk akal.


"Mas," panggil Annisa pelan. "Kalau kamu masih nggak suka juga nggak apa-apa kok. Nggak usah di paksain sama sekali. Takutnya kamu kepaksa dan malah kebalik nggak suka sama panggilan ini."


Bram menggeleng.


"Nggak ... saya sadar gimana kalian saling menyayangi satu sama lain. Kamu yang begitu menjaga anak saya dan Rama juga memikirkan hal yang sama. Jadi, saya rasa nggak ada salahnya kalau kita memulai semuanya dari awal. Tapi maaf ya ... saya nggak bisa nyuruh Rama manggil kamu dengan sebutan bunda, karena itu panggilan khusus untuk Sakilla. Tapi artinya sama aja kan? Jadi saya harap kamu nggak merasa bersalah sama sekali."


Annisa memekik pelan. "Beneran mas?"


"Iya Annisa ... mulai saat ini kamu orang tua sambung Rama dan nggak ada lagi panggilan tante. Karena kamu bukan tantenya Rama tapi mamahnya!" jelas Bram membuat Rama sama Annisa nggak berhenti tersenyum. "Maaf ya karena saya telat sadarnya. Harusnya dari awal saya udah suruh Rama untuk panggil wanita yang menyayangi dia dengan sebutan mamah."


Grep ... Tangan Bram terhenti di udara saat Annisa tiba tiba saja memeluknya. Ia terkejut, jantungnya langsung berdegup kencang dan dia nggak tahu harus bereaksi seperti apa. Karena ini pertama kalinya ia dipeluk dengan seorang wanita selain Sakilla.


"Nggak apa-apa," ucap Annisa yang masih nggak sadar sama perbuatan dia sendiri. "Aku malahan yang harusnya berterima kasih banyak sama mas. Karena udah di izinin dan di percayain untuk jadi orang tua sambung Rama. Aku makasih banyak banyak ya mas. Aku beneran nggak tahu harus mengekspresikan kayak gimana— eh," ucapannya terhenti


Ia baru sadar akan kelakuannya. Tapi belum melepas, Annisa langsung merasakan sebuah rengkuhan dari Bram.


"Saya yang harusnya berterima kasih sama kamu karena udah mau menerima saya dan anak saya. Nggak banyak perempuan yang mau menerima laki-laki yang sudah miliki anak dan makasih juga karena kamu mampu merawat anak saya dengan sangat baik. Dengan kamu yang begini, saya jadi banyak sadar dengan semua kesalahan yang saya buat. Saya rasa ... ini saatnya kita berubah," ucap Bram dengan yakin.


Bram menoleh pada Rama. Di sana anaknya hanya menatap dengan senyuman lebar dan matanya yang berbinar. Bram langsung mengulurkan lengan kanannya, meminta Rama untuk mendekat. Tanpa pikir panjang Rama langsung menubruk tubuh dua orang yang sangat ia sayangi itu hingga Annisa dan Bram tertawa kencang karena tingkah menggemaskan Rama.


"Pokoknya mamah sama ayah harus baikan terus kayak gini! aku suka liatnya. Mamah sama ayah nggak boleh tuh berantem lagi."


"Hahaha ... iya sayang. Ayah janji nggak akan jahat lagi sama mamah kamu dan ayah janji kita akan terus kayak gini," janji Bram yang nggak sadar membuat Annisa tersipu malu dan menyembunyikan wajahnya di balik tubuh suami nya.


"Kalau gitu ... aku boleh dong minta sesuatu sama ayah dan mamah?" tanya Rama sambil melepaskan pelukan buat Annisa juga melepas pelukannya.

__ADS_1


Bram melirik ke arah Annisa, laki-laki itu tersenyum tipis saat melihat wajah istrinya yang sangat memerah. Benar benar sangat menggemaskan.


"Memangnya anak ayah yang satu ini minta apa?"


"Nggak muluk-muluk kok, aku cuman mau di antar sama dijemput lesnya sama ayah dan mamah," jawabnya buat Annisa tergelak kecil


"Tahu nggak sih mas udah dari tadi Rama ngomong hal yang sama. Tapi, tadi dia udah pasrah katanya nggak bakal kejadian deh. Terus ... akhirnya dia cuman minta aku. Aku kira dia udah pasrah dan nggak mau sama ini lagi. Ternyata masih di pikirin ya sama Rama."


"Benar begitu?"


Rama mengangguk. "Aku iri sama temen aku yang di anter sama dijemput terus sama orang tuanya. Aku juga mau."


Bram mengacak rambut anaknya.


"Ayah nggak janji, tapi ayah akan usahakan untuk antar sama jamput kamu dengan mamah Annisa ya. Gimana?"


"YEAY! YEAY! Aku bisa kayak temen aku. Aku di jemput sama mamah dan ayah juga. Aku bisa cerita sama mereka. Yuppie! aku seneng banget," seruan Rama hanya membuat Bram sama Annisa saling memandang, ikut bahagia.


***


"Mas kamu yakin?"


Bram mengangguk.


Baru saja Bram mengajukan diri untuk menidurkan Rama. Bram meminta Annisa untuk menyiapkan kotak p3k dan menunggunya di ruang televisi. Bram juga meminta Annisa untuk menyiapkan cemilan sama minuman di depan ruang TV.


"Mas ... aku tetep bisa nyiapin yang kamu mau kok. Sekalian nidurin Rama. Jadi, nggak apa-apa kok kalau aku yang nidurin Rama. Kamu kerja aja ..."

__ADS_1


Bram menggeleng masih dengan kondisi menggendong Rama. "Nggak perlu Annisa .. saya harus membiasakan diri merawat anak saya sendiri. Saya sudah melewatkan semua pertumbuhan Rama dan sekarang saya nggak mau ketinggalan lagi."


Annisa tersenyum tipis dan mengepalkan tangan di udara.


"Semangat ya mas ..."


Bram terpaku dan beberapa detik kemudian ia mengangguk sambil tersenyum kecil. Entah kenapa, tapi ... hatinya benar benar menghangat.


***


"Ayah ... Rama makasih banget ya sama ayah karena udah izinin Rama buat manggil mamah ke mamah Annisa. Aku kira, aku harus bujuk ayah sampai sujud gitu."


"Heh, bisa-bisanya kamu ngomong kayak gitu."


Rama terkikik. "Aku lihat di TV yah, kalau orang minta sesuatu. kita tuh harus mohon sampai sujud di kakinya. Makanya, aku sempet kepikiran mau ngelakuin itu biar ayah kasih izin aku buat manggil dengan sebutan mamah gitu."


Bram mengusap kepala Rama dengan lembut.


"Maafin ayah ya nak, karena selama ini udah egois dan nggak mikirin perasaan kamu sama sekali. Ayah nggak bisa janji, karena ayah takut ngecewain kamu lagi. Tapi, ayah akan terus berusaha buat kamu seneng dan nggak bikin kamu kecewa. Jadi, kamu jangan sungkan buat ngasih tau ayah ya. Apa aja yang kamu mau."


Rama terdiam sambil menarik selimutnya. Ia memandang ke arah langit kamar dan menghela napas.


"Aku nggak mau minta yang aneh. Aku cuman mau ayah sering ada di rumah dan punya waktu untuk main sama aku. Nggak cuman itu aja, aku mau ayah sama mamah bisa jalan jalan bareng. Aku mau punya keluarga yang hangat kayak temen aku."


Bram seketika merasa sesak. Ia genggam kuat tangan Rama sambil memejamkan mata.


"Ayah janji ... ayah bakal kabulin semua yang kamu mau. Ayah janji, nak. Sekali lagi maafkan ayah."

__ADS_1


__ADS_2